Totalitas Meski Terbatas

Suatu hari di Pondok Bambu, Jakarta.

Pengemis: “Pak, minta, paak…”
Pria: (memberi Rp10.000) “Kembaliannya Rp8.000 ya, pak…”
Pengemis: (memberikan Rp9.000)
Pria: “Pak, kembaliannya lebih nih.”
Pengemis: “Iya, anggap aja sedekah, pak…”
Pria: “…”

Itu kisah nyata lho. Nah, kalo yang ini diragukan ke-nyata-annya. Hehe =j

Tukang roti: (ditabrak metro mini) *Brak!*
Polisi: (datang dengan panik) “Ada apa pak?!”
Tukang roti: (udah sekarat) “Ada nanas, keju, coklat, dan mocca…”
Polisi: “…”

Apa yang bisa diambil dari kisah di atas?
Bagi saya, kisah jenaka itu mengajarkan kita agar…

Tetap mengambil setiap peluang kebaikan sekecil apapun meski sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan.
Tetap melakukan hal sebaik mungkin meski kondisi saat itu sangat sulit untuk berbuat.
Ya, tetap totalitas meski terbatas!!!

Kemudian terus percaya, bahwa ada balasan dari Allah akan kerja-kerja kita dan tiada pernah sia-sia.
SemangkA! Semangat karena Allah…
=j

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
(QS. Al Zalzalah: 7)

Urgensi Membina

Alhamdulillah, saya menemukan visualisasi sebuah ceramah dari Imam Anwar Al Awlaki tentang salah satu episode hidup Umar bin Khattab radiyallahu’anhu. Dan saya rasa, kisah ini harusnya semakin meningkatkan sense membina dari diri kita. Yuk, simak baik-baik…

Umm, menurut saya sih, ga ada dakwah yang lebih sakti mandraguna dibandingkan mentoring, karena dengan metode seperti itu kita bisa nyentuh secara personal. Kita bisa mencet idungnya satu persatu, kalo mau doang sih. Tapi itu tidak bisa dilakukan oleh tabligh akbar, meskipun itu dilakukan oleh ulama yang diakui tingkat internasional.

Dan hebatnya lagi, mentoring tidak hanya memberikan kebenaran semata, tetapi mampu membentuk seseorang hingga ia memiliki kepribadian seorang muslim sejati bahkan memiliki kepribadian seorang da’i. Wow! Beda dengan tabligh akbar yang dateng duduk pulang.
Kok kayak ngejelek-jelekin tabligh akbar ya? Hehe, maap, tidak bermaksud seperti itu. Tabligh akbar juga penting, tetapi saya sedang menekankan efektivitas mentoring dalam berdakwah.

Maka dari itu, seharusnya seorang da’i memberikan perhatian yang lebih terhadap mentoring ini. Karena belum ada wasilah yang memberikan efek sedahsyat dan seinbox mentoring.
Belum lagi, ada buanyak pahala yang menunggu diri kita di sana.

Hadits pertama yang saya kutip adalah penggalan dialog antara Rasulullah dengan para sahabat, di bagian akhir Rasulullah bersabda seperti ini kepada Ali bin Abi Thalib.
Continue reading

Al Quran (bisa) Melaknat

رُبَّ تاَلٍ لِلقُرْآنِ وَالقُرْآنُ يَلْعَنُهُ
“Banyak sekali orang yang rajin membaca Al Quran, akan tetapi sayang Al Quran itu mengutuknya.”
(HR. Bukhari-Muslim)

yaitu orang yang menyalahi Alquran dari segi bacaan, pemahaman, dan amalan.
astaghfirullah… TT_TT

Demi apa?

iseng ngisi tes kepribadian di http://www.demiapa.com, ini dia hasilnya:

Demi Ideal
1. Kamu sangat berhati-hati menghadapi orang lain sehingga terkesan pemalu. Cuma sedikit yang kamu ajak cerita.
2. Kamu peduli pada orang lain dan baik hati. Kamu bisa berjuang mati-matian untuk idealisme yang kamu anggap penting.
3. Kamu nggak pernah terus terang kalau kamu nggak suka sesuatu dan lebih memilih diam supaya semua tetap damai.
4. Kamu suka lingkungan kerja yang tenang dan bebas konflik supaya bisa konsentrasi bekerja.
5. Kamu butuh banyak waktu untuk memikirkan sebuah ide, mematangkannya, dan baru mengerjakannya.
6. Kamu lebih suka kalau ada jadwal dan struktur yang jelas agar kamu bisa mengerjakan pekerjaan satu demi satu.
7. Konsentrasi kamu dalam bekerja sangat tinggi, bahkan sering sampai lupa makan dan minum.
8. Orang-orang senang bekerja sama denganmu karena kamu mudah beradaptasi dan penuh perhatian.
9. Kamu mudah sakit hati kalau dikritik.
10. Kamu paling efektif bekerja di lingkungan yang nilai dan idealismenya sama dengan kamu.
11. Kamu sangat kreatif dan paling semangat kalau ditugaskan mengembangkan ide baru.
12. Kamu nggak terlalu suka mengerjakan hal yang repetitif dan detail. Bisa-bisa malah berantakan.

jadi, nanti tinggal liat kamu dapat warna apa.
nah, kamu akan sangat mudah ketika bekerja sama dengan orang-orang yang warnanya berdekatan dengan warna kamu.
gitu doang.

banyak benernya sih… tapi kok bisa semudah itu mencari kepribadian orang lain ya? tinggal ngisi 4 soal, selesai.
saya ga percaya, hehe =j

Menghidupkan Lingkaran Bercahaya

Ketika beliau keluar, tiba-tiba beliau dapati para sahabat dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya, “Apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?” Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.” Maka Rasulullah bertanya, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.” (HR. Muslim)

Hanya orang-orang besar yang berbicara tentang ide, yaitu mimpi-mimpi yang jauh melebihi zamannya berada. Dia bisa melihat apa yang orang lain luput melihatnya, dia bisa visualisasikan hal-hal yang orang lain belum bisa membayangkannya, dan dia bisa mengemukakan inspirasi yang bahkan orang lain tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Dan cita-cita kita bersama ini bukan hanya tentang negeri yang Islami, akan tetapi Islam menjadi soko guru peradaban. Bukan haus kekuasaan, namun ini tentang bagaimana bisa maksimal dalam tebar manfaat. Kalau kita yakin Islam adalah satu-satunya jalan hidup yang baik dan sempurna, sebarkanlah ke seantero dunia hingga tiada lagi fitnah dan din hanya untuk Allah semata.

Hanya saja, semuanya itu berawal dari hal kecil, yaitu suatu kelompok yang terdiri dari 4-12 orang sahaja. Semua berawal dari individu yang bersih dan membawa jernih, yaitu suatu pribadi yang saling menguatkan dan mengingatkan dalam lingkaran cahayanya.

Mentoring. Sungguh ia memang bukanlah segalanya, tetapi segalanya berawal darinya…

Mungkin saat ini kita memang terlalu berkutat pada segudang masalahnya: mentoring tidak jalan, pendataan yang tidak rapi, mentor yang sedikit, dan materi yang monoton. Dengan begitu kita disibukkan dengannya hingga belum bisa membangun mimpi-mimpi kecemerlangan mentoring.

Di sisi lain, saat ini kita baru bisa membuat ribuan orang daftar mentoring, tetapi belum bisa membuat ribuan orang datang mentoring. Kita baru bisa membuat tiap kelompok punya mentor, tetapi belum mampu membuat setiap kelompok berjalan secara dinamis dan produktif. Kita baru bisa menyediakan materi permentoringan, tetapi belum dapat membawa ilmu, hikmah, dan inspirasi dalam setiap pertemuan.

Oke, itu adalah masalah, kita sadari dan kita cari solusinya. Akan tetapi marilah kita sejenak -cukup sejenak saja- pejamkan mata, untuk bayangkan, untuk visualisasikan: ribuan orang datang mentoring murni karena ingin belajar Islam, pendataan permentoringan yang rapi hingga tidak ada 1 orang ikut banyak kelompok, mentor-mentor yang penuh ilmu dan inspirasi, dan masih banyak lagi pemandangan-pemandangan yang membuat kita tak henti-hentinya bertasbih kepada Allah.
Continue reading

Sains dalam Islam

Setelah baca-baca lagi tulisan saya tentang Penyakit SePiLis, saya merasa ada yang kurang terbahas, yaitu tentang kontroversi agama dan sains: Benarkah agama dan sains itu bertentangan?

Ada yang bilang bahwa kebenaran itu didasarkan pada terbuktinya sesuatu (misal: teori) secara objektif. Dari situ dia menyimpulkan: “Karena Tuhan tidak pernah menunjukan wujudnya secara objektif, itu berarti Tuhan tidak pernah ada. Kalo pun ada, Dia hanya berada di pikiran kita karena kitalah yang menciptakan Tuhan. Di luar pikiran kita, Tuhan tidak pernah ada di dunia nyata.”

Sebenernya pernyataan itu tinggal dijawab dengan sebuah logika sederhana: Udara juga tidak terlihat, namun kita yakin akan keberadaan udara karena dengan udara kita bisa bernafas, dengan udara yang bergerak (angin) daun bisa berterbangan, dan sebagainya. Begitu juga dengan rasa marah dan rasa takut. Semuanya tidak terlihat akan tetapi kita percaya bahwa mereka ada.

Tuhan pun seperti itu (seharusnya kita tidak boleh menyifati Allah seperti ini, Mahasuci Allah dari apa yang manusia sifatkan kepada-Nya), kita bisa merasakan dan memikirkan eksistensi Tuhan dari ciptaan-Nya. Hal paling sederhana saja begitu rumit untuk diciptakan oleh manusia, apalagi bila terjadi dengan sendirinya (lebih tidak mungkin). Pasti ada Tuhan yang menciptakan dan mengatur itu semua.

Lebih jauh lagi, kita panggil om Aristoteles untuk menerangkan causa efficiens miliknya, yaitu suatu sebab yang menjadi asal mula perubahan. Pembuktiaan om Aristoteles ini dinyatakan dengan jelas di dalam karyanya “Metafisika” dan dihubungkan dengan pembuktian tentang adanya ‘Penggerak yang Tidak Bergerak’ atau ‘Penggerak Pertama’.
Continue reading

Penyakit SePiLis

Saya sangat sedih ketika tahu bahwa di dunia ini banyak muslim yang terkena penyakit SePiLis, yaitu: sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme. Masih mending ketika mereka menganut itu untuk diri mereka sendiri, tetapi ternyata mereka mengajak orang lain, bahkan membentuk organisasi resminya. Bisa kita lihat JIL dan Freedom Institute sebagai contohnya.

Perlu kita ketahui di awal bahwa ada etika yang harus dipegang dalam membahas agama. Harus ekstra hati-hati, akan tetapi orang JIL, Freedom Institute, serta orang-orang lainnya yang menganut sekularisme, pluralisme, dan liberalisme tidak menggunakannya. Hal-hal dasar dalam agama yang tidak perlu diperdebatkan, mereka bahas dengan otak mereka yang terbatas.

Biar gampang membedakannya, kita lihat saja jargon-jargon dari mereka. Kaum sekularis mempropagandakan “Agama vs negara”, “Agama vs ilmu pengetahuan”, dll. Pluralis menyebarkan paham bahwa “Semua agama sama”, “Semua agama mengajarkan kebaikan”, “Semua agama menyembah tuhan yg sama”, dll. Sedangkan para liberalis menganggap bahwa “Agama itu urusan masing-masing”, “Jangan mencampuri keyakinan orang lain”, dll.

Sekarang lebih detail nih, supaya nambah jelas apa saja hal yang menyimpang dari penyakit SePiLis bagi ke-Islaman seserang:

Kita awali dari Sekularisme. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa jargon sekularisme antara lain: “Agama vs negara” dan “Agama vs ilmu pengetahuan”. Pokoknya, menurut mereka, agama harus dipisahkan dari kehidupan, cukup di rumah ibadah saja. Padahal sudah jelas bahwa agama itu mengatur jalan hidup. Islam itu adalah din (jalan hidup) yang haq dan syumul.

Dari segi sosial, Islam mengajarkan hubungan antarsesama manusia, baik dengan muslim dan non-muslim, baik dengan yang lebih tua dan yang lebih muda, dengan sesama gender dan antargender. Dari segi politik, kita bisa belajar dari Sirah Nabawiyyah ketika Nabi Muhammad saw mendirikan negara, mengirim surat ke petinggi negara lain, dan manuver pembebasan-pembebasan yang beliau lakukan. Dari segi ekonomi, sudah jelas Islam mengharamkan riba dan mengatur masalah waris. Dan kesemuanya itu dihubungkan dengan keimanan kepada Allah, sehingga tidak bisa dipisahkan.

Islam harus ditegakkan baik ketika ibadah ritual di masjid maupun ketika berkegiatan di luar masjid. Dan sejarah menunjukkan bahwa kemajuan peradaban adalah pada saat masyarakat taat beragama.
Continue reading

Anak Tuhan

Ada sebuah ilmu baru dari kang Hafidz tentang Anak Tuhan versi Kristen-nya Paulus si Yahudi.

Kita tahu bahwa Paulus si Yahudi sudah memporakporandakan konsepsi Kristen asli yang berasal dari Allah melalui Nabi Isa/Yesus. Di bibel memang disebutkan bahwa Nabi Isa/Yesus adalah anak Tuhan, namun maksud bibel disini adalah makna konotatif. Bukan denotatif seperti yang diselewengkan Paulus si Yahudi.

Soalnya ternyata di bibel ada banyak orang yang disebut Anak Tuhan. Afraim juga anak Allah yg sulung (Yeremia 31:9), Yakub juga anak Allah yang sulung (Keluaran 4:22), dan Daud adalah anak Allah yg sulung (Mazmur 89:27) tetapi kenapa mereka tidak disembah (hanya Yesus saja)? Harusnya di Kristen versi Paulus si Yahudi minimal ada 6 Tuhan (trinitas ditambah 3 orang tadi).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, itu karena ungkapan anak Allah di atas adalah konotatif, seperti anak gaul (bukan berarti nama orangtuanya gaul kan?) atau anak emas (bukan berarti orangtuanya terbuat dari emas kan?). Makna anak Allah sebenarnya adalah orang yang dekat dengan Allah, yaitu utusan Allah aka Nabi.

Aha! Kalo gitu klop sama Al Quran…

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu)! (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al-Nisa’: 171)

Bisa dibilang klop, soalnya injil (bukan bibel) tuh sebenarnya adalah kitab Allah yang sementara dan sekarang sudah habis masa berlakunya. Lihat aja bukti-bukti di bawah ini…
Continue reading

How can I be smiling when you’re gone?

Haha… (ketawa miris)
Judul postingan kali ini ngutip dari sebuah lagu pop. Agak galau dan labil gitu sih.

Tapi jujur aja, lagu ini mengingatkan saya ke dakwah sekolah.
Ternyata sudah berlalu 4 tahun ya? *dan saya belum juga lulus =(*

Waktu itu, saya satu-satunya peserta IT (integrated training) yang diamanahkan jadi mentor.
Masih inget kok, kelas X-4! dan anak-anaknya udah pada lulus dari SMANSA 2010 lalu.
Padahal saya lagi semangat banget jadi mentor, padahal udah nyiapin banyak bahan supaya mentoringnya menarik.

Ah andai angan-angan itu bermanfaat, pengen banget ketemu mereka lagi.
Soalnya baru ketemu sekali sih, itu juga waktu mentoring general.
Sebab tak lama setelah itu, pengumuman SPMB keluar dan mengharuskan saya migrasi ke Bandung.

Hubungannya sama lagu Say It Isn’t So-nya Gareth Gates, karena saya berharap saat itu ada yang menahan kepergian saya (cari aja liriknya).

“Say it isn’t so, tell me you’re not leaving. Say you’ve changed your mind now.”
“How can I be smiling when you’re gone?”

Dan meminta saya untuk berada di dakwah sekolah saja, di SMANSA kita…
Haha (ketawa miris lagi), emang ngarep doang sih…


Continue reading

Belajar Menikmati

Kulekatkan keningku pada Bumi-Mu, wahai Ilahi Rabbi.
Sebagai tanda rasa syukur tak terhingga atas anugerah yang engkau curahkan kepada diri.
Atas Iman yang makin erat kudekap, atas Islam yang makin hangat menghinggap.

Tak semua insan Kau buka pintu hatinya untuk menerima cahya hidayah-Mu.
Meski Engkau mampu, sungguh Engkau Mahamampu, melakukannya dengan kuasa-Mu.

Hanya saja, seharusnya Islam dapat dinikmati oleh siapapun.
Tak terkecuali seorangpun.

Seorang muslim hendaknya menikmati dan bangga atas Islamnya.
Betapa tidak? Lisan termulia telah memberikan garansi dan kita tahu Ia takkan dusta.

“Man syahida: ‘la ilaha illallah’, dakhalal jannah.” (HR. Al Bazzar, dari `Umar)

Seorang nonmuslim pun layak menikmati Islam.
Dia harus merasa tentram oleh Islam.
Dia harus mendapatkan keadilan dari Islam.

Ya, karena Islam hadir untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Bukan rahmatan lil muslimin.
Continue reading