Shaum Sunnah Syawal

1. Hadits Tsauban Maula Rasulullah

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَنَّةِ. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرُ أَمْثَالِهَا

Dari Tsauban, budak Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-, bahwasanya beliau –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.”

SHOHIH. Diriwayatkan Ibnu Majah 1715, ad-Darimi 1762, Nasa’i dalam Sunan Kubra 2810, 2861, Ibnu Khuzaimah 2115, Ibnu Hibban 928, dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya 5/280, ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir 1451 dan Musnad Syamiyyin 485, ath-Thohawi dalam Musykil Atsar 1425, ar-Ruyani dalam Musnadnya 634, Ibnu Muqri’ dalam Mu’jamnya 1250 dari jalan Yahya bin Harits ad-Dhimari dari Abu Asma’ ar-Rakhabi dari Tsauban dari Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-.

Sanad hadits ini shahih, sebagaimana ditegaskan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/107.

2. Hadits Abu Hurairah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ, فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-, bersabda: “Barangsiapa berpuasa ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari syawal, maka seperti telah berpuasa setahun penuh.”

SHOHIH. Diriwayatkan Abu Awanah dalam Musnadnya 2702 dan al-Bazzar dalam Musnadnya 669 –Mukhtashor- dari Amr bin Abu Salamah dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah.
Sanad hadits ini shohih Al-Haitsami berkata dalam Majma’ Zawaid 3/183: “Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan memiliki banyak jalur yang perawi sebagian jalurnya adalah perawi shahih”. Demikian juga dikatakan oleh al-Mundziri dalam At-Targhib 2/111.

Seperti yang telah disebutkan oleh hadits di atas, puasa enam hari pada bulan syawal hukumnya sunnah, baik bagi kaum pria maupun wanita. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka’b al-Akhbar, Sya’bi, Thawus, Maimun bin Mihran, Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hanbal dan Syafi’i. Diperkuat oleh pendapat Imam Nawawi: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya mengenai sunnahnya puasa enam hari bulan Syawal.”

Keutamaan puasa 6 hari pada bulan syawal adalah mendapatkan pahala puasa setahun penuh. Penjelasannya ada di hadits pertama, yaitu: satu kebaikan berkelipatan sepuluh. Nah, jadi bila kita hitung-hitung, puasa 1 bulan penuh ketika Ramadhan x 10 kebaikan = 10 bulan, dan puasa 6 hari ketika syawal x 10 kebaikan = 2 bulan. Jadi, jumlah seluruhnya 12 bulan = 1 tahun. Namun, itu bukan berarti dibolehkan atau disunnahkan puasa dahr (puasa setahun penuh).

Selain itu, puasa syawal merupakan tanda keteguhan seseorang dalam beramal shalih. Amal shalih-nya tidak terputus meski Ramadhan telah selesai tetapi terus berlangusng selagi hayat masih di kandung badan. Inilah generasi Rabbaniyyin dan bukan Ramadhaniyyin, yaitu beribadah karena Allah semata dan bukan karena adanya bulan Ramadhan.

Nah, biasanya ada beberapa hal yang sering ditanyakan terkait puasa syawal ini:

1. Haruskan langsung setelah shalat idul fitri secara berturut-turu (mulai 2-7 Syawal)?

Ketika ditanya hal serupa, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ menjawab seperti ini: “Puasa enam hari bulan Syawal tidak mesti dilakukan tepat setelah Hari ‘Ied. Namun boleh mulai dikerjakan beberapa hari setelah ‘Ied. Dan ia boleh mengerjakan secara berurutan dan boleh juga secara terpisah-pisah sesuai dengan kelapangannya. Puasa enam hari buan Syawal ini bukanlah wajib, ia hanya sebatas sunnat saja, oleh karena itu terdapat kelapangan dalam mengerjakannya.” (Fatwa Lajnah Daimah X/391)

Jadi, asalkan masih di bulan syawal, boleh mengerjakan puasa sebanyak 6 hari ini. Entah itu berturut-turut, acak, di awal, di tengah, maupun di akhir bulan. Akan tetapi, menurut An-Nawawi, akan lebih baik bila berpuasa enam hari berturut turut langsung setelah Idul Fitri. Hal tersebut lebih utama, karena termasuk bersegera dalam beramal shalih. Khawatirnya, bila ditunda-tunda akan terkena godaan syetan sehingga menjadikannya tidak berpuasa dan juga karena kita tidak tahu kapan malaikat maut menjemput. Bisa jadi kita keburu meninggal dunia sebelum meraih keutamaan puasa ini.

2. Bagaimana jika masih punya hutang puasa Ramadhan?

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, kemudian dia memulai puasa enam syawal, maka dia tidak mendapatkan keutamaan pahala orang yang puasa ramadhan dan mengirinya dengan enam syawal, sebab dia belum menyempurnakan puasa ramadhan.”

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata: “Puasa enam syawal berkaitan dengan ramadhan, dan tidak dilakukan kecuali setelah melunasi tanggungan puasa wajibnya. Seandainya dia berpuasa syawal sebelum melunasinya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaannya, berdasarkan sabda Nabi: ‘Barangsiapa puasa ramadhan kemudian dia menyertainya dengan enam hari syawal maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh’. Dan telah dimaklumi bersama bahwa orang yang masih memiliki tanggungan puasa ramadhan berarti dia tidak termasuk golongan orang yang telah puasa ramadhan sampai dia melunasinya terlebih dahulu. Sebagian manusia keliru dalam masalah ini, sehingga tatkala dia khawatir keluarnya bulan syawal maka dia berpuasa sebelum melunasi tanggungannya. Ini adalah suatu kesalahan.“

Lalu, bagi yang masih harus meng-qodho puasa Ramadhan, tidak boleh menggabungkan niat puasanya dengan puasa syawal.

CMIIW wallahu’alam…

About these ads

One thought on “Shaum Sunnah Syawal

  1. Ping-balik: Faktor2 apa yang mnjadikn perbedan dlm mnentukn klendr Hijriah? terutma untk bln Romadhon,syawal dan Dzulhijja?

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s