Definisi Arsitektur Islam

Bila kita ingin membicarakan tentang arsitektur Islam, kita harus mendefinisikannya menjadi tiga hal, yaitu: arsitektur Islam, arsitektur Islami, dan arsitektur komunitas Muslim. Berikut penjelasan ketiga hal tersebut:

  1. Arsitektur Islam (Architecture of Islam)
    Arsitektur Islam merupakan arsitektur kepunyaan Islam. Contoh: masjid, madrasah, perpustakaan, istana, rumah/permukiman, dan pasar.
    Masjid jelas masuk dalam kategori arsitektur Islam, karena cuma agama Islam yang memiliki masjid sebagai tempat ibadahnya. Begitu juga dengan madrasah, perpustakaan, istana, rumah/permukiman, dan pasar. Kesemua hal itu tidak bisa dipisahkan dari Islam.
  2. Arsitektur Islami (Islamic Architecture)
    Islamic achitecture atau arsitektur Islami merupakan arsitektur yang memiliki sifat-sifat Islam. Bisa jadi yang termasuk arsitektur Islami adalah arsitektur yang bukan berasal dari Islam, namun karena sejalan dengan konsepsi Islam yang tertera dalam Al Quran dan Al Hadits, maka arsitektur tersebut disebut arsitektur Islami.
    Dalam hal ini, salah satu contohnya adalah green building. Meski bukan berasal dari Islam, green building bisa digolongkan kedalam arsitektur Islami, karena sesuai dengan konsep Islam yang menganjurkan manusia untuk menjaga bumi.
    Begitu pula sustainable/organic architecture. Konsep sustainable baru-baru ini ramai dibicarakan, padahal konsep itu sudah ada dalam konsep Islam sejak awal mulanya. Al Qur’an dan Al Hadits banyak menyebutkan perintah-perintah agar manusia tidak boros energi dan tidak merusak alam. Tentu kedua hal yang diperintahkan Al Quran dan Al Hadits tersebut sejalan dengan konsep yang disebut sustainable architecture pada saat ini.
    Maka dari itu, salah satu karakteristik arsitektur Islami adalah arsitektur yang mampu menyelaraskan diri dengan alam dan memiliki sifat-sifat yang ada pada alam, yaitu:
    • Seimbang, terukur, dan rapi, sesuai dengan QS. Furqaan: 2 yang berbunyi:
      “yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
    • Tidak pernah menyimpang, sebagai contoh: setiap kita melepaskan benda apa pun di atas bumi ini pasti akan terjatuh karena adanya gaya gravitasi. Ini merupakan hukum alam atau biasa disebut sunnatullah sehingga tidak pernah terjadi benda melayang di atas bumi ketika terbebas dari apa pun. Inilah yang dimaksud tidak pernah menyimpang.
    • Harmoni, indah, dan tanpa cacat, seperti yang terdapat pada QS. Al Mulk: 3 yang berisi:
      “Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”
    • Bertujuan (ada hikmahnya dan tidak ada ruangan yang tidak terdefinisi), sesuai dengan QS. Ali Imran: 190-191 yang berbunyi:
      “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
    • Pengaturan shade and shadow, sesuai dengan QS. Furqaan: 45-46 yang berbunyi:
      “Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Rabbmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-perlahan.”
  3. Arsitektur Komunitas Muslim
    Arsitektur komunitas Muslim adalah arsitektur yang tidak terkait nilai-nilai Islam, jadi dia adalah arsitektur apa saja yang penting berasal, digunakan, dan dimanfaatkan dalam masyarakat Muslim. Contoh: Taj Mahal.
    Dilihat dari bentuk massanya, Taj Mahal terlihat seperti masjid, karena adanya kubah dan menara di sekitarnya. Taj Mahal begitu terkenal karena desainnya yang cantik pada masa Islam berjaya di India. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa Taj Mahal ini jelas melanggar konsep Islam sebenarnya. Taj Mahal merupakan bangunan yang sengaja dibangun untuk kuburan yang jelas melampaui batas, karena Islam melarang manusia membangun apapun di atas kuburan.
    Berarti, Taj Mahal bukanlah arsitektur Islami, melainkan arsitektur komunitas Muslim. Akan tetapi, bisa saja Taj Mahal disebut arsitektur Islam, karena definisi arsitektur Islam tidak harus arsitektur yang Islami. Selain itu, Taj Mahal sudah banyak dikenal oleh orang awam sebagai Arsitektur Islam karena dibangun pada masa Islam berjaya di India dan bentuk masanya menyerupai masjid pada umumnya, walaupun sebenarnya kubah bukanlah asli dari umat Islam.

Selanjutnya, saya akan mengutip pandangan dari Ziauddin Sardar terkait arsitektur Islam. Menurutnya, Islami dari arsitektur dan lingkungan Islam bukan hanya terletak pada bentuk dan strukturnya, melainkan suasana yang tercipta yang mendorong ingatan kepada Allah, memotivasi perilaku yang sesuai dengan ketentuan syari’at, dan menganjurkan nilai yang melekat dalam acuan konsep kunci Al Quran.

Selain itu, menurutnya juga, suasananya harus hidup dan dinamis yang kekuatannya dirasakan dan dialami. Suasananya terbentuk oleh totalitas dari sistem yang melahirkan lingkungan Islam tersebut:

  • Prinsip-prinsip perancangan
  • Metodologi arsitektur
  • Bahan-bahan yang digunakan dalam konstruksi
  • Bentuk dan struktur bangunan dalam hubungan mereka dengan lingkungan alam
  • Sikap, motif, dan pandangan terhadap dunia dari orang-orang yang terlibat dalam sistem itu

Kesemua hal itu, harus menjadi kesatuan yang padu untuk melahirkan arsitektur Islam.

About these ads

10 gagasan untuk “Definisi Arsitektur Islam

  1. wah bisa jadi tambahan wawasan nih buat gw sebelum ngambil aris,,,ato gak usah ngambil sekalian soalnya smuanya bakal dishare di blog kang ph inih,,hehehe

  2. saya seorang mahasiswa s2 arsitek di bandung, rencananya saya akan meneliti tentang arsitektur islam untuk tesis saya, tapi baru mulai pada judul saya sudah di kritik dengan dikatakan bahwa arsitektur islam itu tidak ada, yang ada adalah arsitektur arab, menurut pendapat penulis bagaimana tentang hal ini?

  3. iya ada kerancuan klo menimbang apakah itu Islam atau timur tengah. contoh mesjid : banyak sekali desain mesjid yang berlebihan terkesan “megah”, byk hiasan ukiran dsb. apa itu msh bisa d kategorikan islam? kalau dilihat dri awal mula mesjid2 yg ada di arab sederhana sekali, tanpa hiasan bersih,…

  4. Islamic architecture itu adalah pada nilai-nilai kerohanian dan kebaikan yang terhasil dari seni binaan dan perancangannya yang seterusnya memberi manfaat pada penghuninya.
    you might want to read Dr. Spahic Omer and his enthusiasm on Islam and the Built Environment. Try to google him.

    Salaam,
    from Malaysia

  5. Setuju sekali dengan tulisan anda…

    Meskipun Islam (atau sebut saja agama Samawi) bermula di jazirah Arab, namun nilai-nilai Islam bersifat universal. Sehingga Arsitektur Islami tidak selalu berpenampilan ‘Arab’ atau Timur Tengah, melainkan Arsitektur yang lebih menerapkan nilai-nilai Islami.

    Masyarakat Bali dengan kepercayaan Hindunya, justru menerapkan konsep arsitektur dengan nilai-nilai yang sangat Islami pada arsitektur tradisionalnya. Bagi masyarakat Bali, agama Hindu sudah sangat menyatu dalam kehidupan sehari-harinya. Ajaran agama menjadi panduan hidup masyarakat Bali, yang kemudian melebur menjadi sikap hidup dan ‘budaya’. Konsep Mikrokosmos sebagai bagian dari Makrokosmos dipercaya bahwa manusia hanya sebagian kecil elemen yang menumpang hidup pada alam. Keseimbangan alam harus selalu dijaga bila ingin hidup selamat. Salah satu pengejawantahannya dalam membangun rumah (tempat hidupnya), masyarakat Bali menggunakan ukuran tubuhnya (seperti depa, hasta, kaki, dsb). Jadi bagi org yang bertubuh besar (ukuran depa/hastanya lebih panjang) maka ukuran rumahnya akan lebih besar dari pada orang yang bertubuh lebih kecil. Hal ini menandakan bahwa ketika kita membangun rumah tidak perlu berlebih-lebihan… secukupnya sesuai dengan ukuran masing-masing. Konsep ini sangat sejalan dengan konsep sustainable develpoment (menghindarkan diri pada keserakahan, eksploitasi terhadap alam).

    Menurut pendapat saya sikap hidup yang demikian justru sangat Islami, meskipun dilakukan oleh masyarakat non muslim…

    Arsitektur sendiri merupakan hasil dari budaya yang tentunya harus disesuaikan dengan konteks di mana karya arsitektur tersebut berada… di mana ‘place’ nya, seperti apa yang dikemukakan oleh Schultz: every place has spirit… (genius loci).. Karena nilai-nilai Islam dianut secara universal…. maka ‘Nilai’ nya yang dipertahankan, tetapi hasil fisiknya lebih terkait pada menjawab permasalahan lokasi, iklim, dan budaya setempat.

    Demikian tanggapan saya…
    Selamat menyelami Arsitektur dan tetap bersikap ‘Islami’.

    salam…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s