Sang Insinyur-Arsitek, Bung Karno

“Saya tidak yakin di kemudian hari akan menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun sebuah bangsa.”
(Ungkapan Hati Soekarno kepada C.P. Wolff Soemaker)

Banyak orang yang tidak tahu bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Dr. (HS) Ir. Soekarno, adalah seorang arsitek karena (anggapan itu muncul akibat) saat beliau kuliah di Technische Hoogeschool (sekarang jadi ITB) memang tidak ada jurusan Arsitektur. Bung Karno tercatat sebagai mahasiswa TH, bersamaan dengan detik-detik berarkhirnya kekhalifahan Utsmani di Turki (TT_____TT), bernomor urut 55 di bidang Ilmu Bangunan, Jalan, dan Air. Meski judulnya lebih ke Teknik Sipil, mata kuliah kesukaan beliau adalah menggambar yang diajarkan oleh C.P. Wolff Schoemaker (arsitek Villa Isola, Observatorium Bosscha, dll) dan lebih senang menyebut dirinya Insinyur-Arsitek.

Karier pascakampus Bung Karno diawali dengan membantu proyek BOW (Departement van Burgerlijke Openbare Werken atau Departemen Pekerjaan Umum). Sebenarnya beliau tidak mau ikut proyek tersebut karena itu tandanya dia membantu pemerintah kolonial sekaligus mengkhianati bangsanya, akan tetapi sang gurunda membujuknya sehingga beliau bersedia membantu di satu proyek saja di BOW. Selepasnya, Bung Karno lebih memilih untuk magang di kantor gurunya dan menjadi juru gambar proyek paviliun di Hotel Preanger, Bandung.

Karena rasa cintanya pada Tanah Air yang begitu besar, satu-satunya jalan meniti karier bagi Bung Karno hanyalah berwirausaha, yaitu dengan mendirikan biro arsitektur bersama kawannya yang bernama Anwari. Berhubung keduanya memiliki minat di politik juga (Bung Karno mendirikan PNI lalu menjadi ketuanya), biro ini pun terabaikan dan tak bertahan lama tanpa ada prestasi yang berarti. Apalagi setelah itu beliau dijebloskan ke penjara selama setahun (pebisnis yang memiliki catatan hitam tentu dibayangi ketidaklakuan).

Belajar dari pengalaman pertama, Soekarno menggandeng adik angkatannya yang tidak aktif di politik untuk mendirikan biro arsitektur yang baru, dialah Roosseno Soerjohadikoesoemo (kelak jadi Profesor di ITB dan menjadi Bapak Beton Indonesia). Biro yang diberi nama Biro Insinyur Soekarno dan Roosseno ini pun sukses menuai karya, meski Soekarno sibuk menulis dan mengurus harian Fikiran Ra’jat, serta menggabungkan diri ke Partindo (Partai Indonesia).

Mereka pun berbagi tugas untuk menjalankan bironya, Soekarno lebih kepada desain dan gambar sedangkan Roosseno yang mahir dalam matematika melakukan perhitungan struktur (dan semacamnya). Karya-karya mereka antara lain: Rumah kembar di Jl. Gatot Subroto, Rumah d Jl. Papandayan (kini Toko Roti Red Tulip), Rumah di Jl. Kasim, Rumah di Jl. Palasari, Rumah di Jl. Pasir Koja, Rumah di Jl. Pungkur, Rumah di Jl. Dewi Sartika, dan Rumah di Jl. Kacawetan. Kapan-kapan kita kunjungi yuk!

Desainnya memiliki ciri: atap yang tinggi untuk mengisolasi panas agar tidak masuk ke ruangan, kemiringan atap cenderung curam agar ketika hujan tidak berisik, dan memliki bukaan pada selubung dan atap agar terjadi cross ventilation. Intinya sih, desainnya itu indah, gagah, tahan lama, dan tropis banget.

Setelah melalui perjalanan hidup dalam pengasingan di Ende-Flores dan Bengkulu (semasa pengasingan beliau tetap mendesain bangunan), Bung Karno menetap di Jakarta dan lebih koperatif dengan Pemerintah Jepang yang (kata buku-buku sejarah sih) akan menghadiahkan kemerdekaan bagi Indonesia. Saat mengajukan syarat rumah yang akan beliau tempati di Jakarta, wawasan arsitekturnya muncul sehingga beliau meminta rumah dengan pekarangan yang luas agar dapat menerima rakyat banyak, yaitu: rumah Pegangsaan Timur 56 yang kelak menjadi saksi bisu proklamasi kemerdekaan RI.

Setelah proklamasi dan menjadi presiden pertama RI, pengalamannya bekerja sebagai arsitek akan diamalkan dengan cara yang berbeda. Melalui arsitektur ia dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang senang mencipta karena -seperti yang diungkapkannya kepada C.P. Wolff Schoemaker- impiannya yang terbesar bukan sekedar membangun rumah, melainkan membangun bangsanya.

Salah satu semangat arsitektur yang masih terlihat pada dirinya saat menjadi Presiden adalah rajin mengunjungi pameran dan kegiatan pembangunan, misal: pameran yang diselenggarakan oleh Badan Kongres Pemuda RI pada akhir tahun 1947 di Madiun dan pameran dari Badan Perusahaan Gula Negara beberapa bulan setelahnya. Kemudian, mengunjungi proyek-proyek di daerah dengan antusias, misal: proyek pengairan di Rawa Lakbok-Ciamis dan Ranu Tirto-Sragen.

Atas dorongan Bung Karno, dibukalah pendidikan untuk Insinyur Bangunan dan Arsitek di Fakultet Teknik di Bandung (sebelumnya bernama TH Bandung) untuk Perguruan Tinggi RIS (sekarang menjadi Universitas Indonesia). Ketika dosen-dosen Belanda harus angkat kaki dari Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an yang mengakibatkan kelangkaan tenaga pengajar teknik dan berpotensi mengancam keberlangsungan pendidikan arsitektur, Soekarno menugaskan ajudannya untuk mengirim telegram Kedutaan RI di Wina, Bern, dan Roma untuk mencari dosen arsitektur.

Dan visi arsitekturnya yang paling fenomenal adalah ketika membangun Jakarta dengan membentuk Dewan Perancang Nasional, sekaligus memutuskan untuk turut campur secara langsung dalam sebagian besar proyek-proyek penting. Misal: menjadi ketua juri dalam sayembara Masjid Istiqlal, mengusulkan tinggi Monas menjadi 132 meter sesuai naluri skala dan proporsi yang beliau miliki, dan desain ruang dalam (interior) pada proyek Hotel Indonesia (HI) yang mengupayakan sebanyak mungkin menggunakan produksi dalam negeri. Jangan lupa kalo Masjid Salman ITB pun didirikan atas perintah Soekarno (Rektor ITB tidak mengizinkan). Kisah ini digambarkan oleh Bambang Eryudhawan sebagai berikut:

“Peran Bung Karno menanggapi, menuntun, memberi inspirasi, mengembangkan, dan mengisinya dengan jiwa kebangsaan telah diakui para arsitek di zamannya. Visinya tentang arsitektur dan perencanaan kota menjadi acuan semua pihak yang sedang membangun Indonesia. Kepekaan dan ketajaman Soekarno sebagai patron, pengawal seni arsitektur senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi para arsitek untuk terus berkarya demi bangsa dan negeri tercinta seraya mengangkat nilai-niai ke-Indonesiaan.”
(Dari artikel “Sukarno, Bapak Arsitek Indonesia” buku Tegang Bentang, dengan sedikit perubahan)

Yah, meskipun Arsitektur Indonesia versi Soekarno banyak diwarnai Arsitektur Modernis yang lagi ngetren di dunia arsitektur internasional versi Le Corbusier, Walter Gropius, dan Ludwig Mies Van Der Rohe yang bertolak belakang dengan Arsitektur Vernakular Indonesia dengan ornamen dan atap miring khas tiap suku. Jelas bahwa mereka telah memenjarakan lokalitas, atap miring, dan simbol-simbol dengan munculnya istilah: Ornament is a Crime.

Di luar itu semua, Bung Karno telah mengubah Jakarta menjadi setara dengan kota-kota besar dunia. Hasilnya pada tahun 1962 Prof. Rooseno menjadi promotor Bung Karno agar almamaternya mengakui peran rekan kerjanya terdahulu di bidang keteknikan pada sejumlah proyek raksasa. Atas jasanya itu, Bung Karno memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari ITB.

Yah, itulah sekilas perjalanan arsitektur dari Bapak Proklamator Indonesia. Dialah sang negarawan visioner, arsitek berbakat, orator ulung, sekaligus penulis inspiratif. Semoga arsitek-arsitek Indonesia masa depan bisa meneruskan estafet pembangunan Indonesia, dengan tidak hanya merancangan bangunannya, tetapi juga membina manusia-manusianya. Itulah arsitek peradaban.

Referensi:
Bambang Eryudhawan, artikel “Sukarno, Bapak Arsitek Indonesia” dari buku Tegang Bentang
Wiratman Wangsadinata dan G. Suprayitno, Rooseno: Jembatan dan Menjembatani

About these ads

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s