Amalan Ramadhan Menuju Surga


Saya mendapati beberapa kawan saya, bahkan para khatib di mimbar, masih banyak yang keliru menunjukkan dalil kewajiban shaum di bulan Ramadhan. Banyak di antara mereka yang menyebutkan QS. Al Baqarah ayat 183, yang terjemahnya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS. Al Baqarah: 183)

Padahal ayat ke-183 itu tak mengatakan apapun tentang Ramadhan. Ayat tersebut hanya memberi informasi bahwa kewajiban puasa pada kaum mu’minin saat ini adalah seperti yang diwajibkan pula pada orang-orang sebelum kita. Sedangkan kewajiban shaum di bulan Ramadhan termaktub pada QS. Al Baqarah ayat 185, yang terjemahnya:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (TQS. Al Baqarah: 185)

Pada kalimat “…barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” inilah kewajiban shaum Ramadhan disebut. Pada ayat ini pula satu-satunya kata “Ramadhan” disebutkan di Al Qur-an, tiada lagi sebelum ataupun sesudahnya. Dan kata “Ramadhan” ini disertai dengan kejadian turunnya Al Qur-an, sebagai tanda kemuliaan bulan ini. Saat ada satu hari saja Al Qur-an turun pada suatu bulan, maka keseluruhan bulan tersebut jadi mulia, yaitu bulan Ramadhan. Sama seperti hari kemerdekaan RI, saat ada satu hari saja kemerdekaan RI terjadi pada suatu bulan, maka keseluruhan bulan tersebut diperingati hari kemerdekaan dengan memasang bendera merah putih di rumah-rumah dan di jalan-jalan.
Baca lebih lanjut

Water Feature


Kali ini mau bahas 1 desain yang saya bikin di sebuah taman dalam suatu cluster perumahan, yaitu water feature. Dan ada 2 hal yang ingin dibahas mengenai elemen lansekap tersebut, pertama tentang proses kreasinya dan kedua tentang gambar detail.

Ide utama dari desain ini adalah bentuknya segitiga dan keseimbangan asimetris. Penggunaan geometri segitiga memang lazim dipakai oleh kantor saya. Hampir semua desain menggunakan segitiga yang sudutnya di-fillet jadi kurva. Kadang tiap sisinya dibuat cembung, kebetulan desain water feature ini menggunakan yang sisinya cembung. Jadi, semua garis dalam segitiga ini melengkung, tidak ada yang lurus.

Kalau seimbang yang tidak simetris memang digunakan karena water feature ini ingin jumlahnya dibuat ganjil, yaitu tiga. Maksud dari seimbang atau balance adalah kesan yang sama ‘berat’ antara bagian kiri dan kanan komposisi, sedangkan simetris adalah penyebaran bentuk yang merata di sekitar garis sumbu atau titik tengah. Sedangkan keseimbangan asimetris adalah keseimbangan yang tidak sama bentuknya antara kiri dan kanan, namun tetap mempunyai kesan seimbang. Untuk lebih jelas, sila baca buku ‘Bentuk, Ruang, dan Tatanan’ karya Francis DK Ching.

Nah, 3 segitiga yang asimetris itu didesain dari angka-angka Fibonacci. Percaya gak? Hanya saja, proses mendesainnya itu sudah saya hapus, dan sekarang pas mau coba untuk bikin lagi, udah lupa caranya. Hehe. Intinya, saya bikin segitiga yang kanan dan kiri itu dari angka-angka Fibonacci, terus di-rotate. Kalo yang tengah ada 1 sudutnya yang saya geser supaya lebih asimetris. Jadi deh! Hasilnya bisa dilihat di gambar denah di bawah ini:
Baca lebih lanjut

Berlaku Adil (Tafsir QS. Al Ma’idah: 8)


Di antara perjanjian Allah dengan ummat Islam ialah untuk menegakkan keadilan pada manusia. Yakni, keadilan mutlak yang neracanya tidak pernah miring karena pengaruh cinta dan benci, kedekatan hubungan, kepentingan, atau hawa nafsu, dalam kondisi apa pun. Keadilan yang bersumber dari pelaksanaan ketaan kepada Allah, yang bebas dari segala pengaruh, dan bersumber dari perasaan dan kesadaran terhadap pengawasan Allah yang mengetahui segala yang tersembunyi dalam hati. Karena itu, dikumandangkanlah seruan ini,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Alah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Ma’idah: 8)

Sebelumnya, Allah telah melarang orang-orang yang beriman, agar jangan sampai kebencian mereka kepada orang-orang yang telah menghalang-halangi mereka masuk ke Masjidil Haram itu menjadikan mereka melakukan pelanggaran dan tindakan yang melampaui batas terhadap musuh mereka. Ini merupakan suatu puncak ketinggian di dalam mengendalikan jiwa dan bertoleransi, yang Allah mengangkat mereka ke puncak itu dengan manhaj tarbiyah Rabbaniyah yang lurus.

Maka, sekarang mereka diwanti-wanti agar rasa kebencian mereka kepada orang lain jangan sampai menjadikan mereka berpaling dari keadilan. Ini merupakan puncak yang sangat tinggi dan sangat sulit bagi jiwa. Ini merupakan tahapan di balik pengendalian diri untuk tidak melakukan pelanggaran dan supaya tabah mengekangnya. Kemudian dilanjutkan dengan tindakan menegakkan keadilan meskipun di dalam hati terdapat perasaan benci dan tidak suka kepada yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

Launching


Melintas dan Mengitari Bumi


Tulisan ini sebenarnya sudah lama mengendap di blog. Tercatat tanggal 29 April 2013 pertama kali tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti Open House dari Observatorium Bosscha. Yang akan mentemen baca di bawah adalah salah satu kuliah yang diberikan oleh Pak Dr. Budi Dermawan M.Sc. mengenai “Melintas dan Mengitari Bumi.”

Pak Budi mengawali ceramahnya dengan menyebutkan bahwa manusia ingin mengetahui posisi dirinya di alam semesta, dan punya motivasi tinggi untuk mengetahui apa saja yang ada di langit. Untuk melihat benda langit, kita butuh langit yang gelap (tidak berpolusi cahaya) dan cuaca bersih (tidak berawan). Kedua hal tersebut adalah langit impian saya sedunia. Pengen banget sekali aja merasakan langsung langit yang gelap dan bersih.

Selanjutnya Pak Budi menerangkan bahwa ruang angkasa sekitar Bumi tidaklah sepi. Pertama, ada benda yang mengitari Bumi, yaitu Satelit (baik satelit alami, maupun satelit buatan). Lintasannya bermacam-macam: ada yang dari kutub ke kutub dan ada yang geostatical, ada yang bentuk orbitnya bundar dan ada yang lonjong, ada yang orbitnya panjang (jauh dari Bumi) dan ada yang pendek (dekat dengan Bumi). Satelit ini lama-kelamaan jadi sampah angkasa. Sampah satelit di langit pada Januari 2013 ada 17.000 buah dengan berat total 6,5 juta ton. Ikhtiar manusia mengenai masalah ini adalah dengan membuat “tempat sampah” angkasa.
Baca lebih lanjut

TERSERAK yang tersebar


terserak
/ter·se·rak/
v 1 tersebar: buku-bukunya – di kolong tempat tidurnya
v 2 terpencar: awan putih – di langit biru

Hanya mencoba menghimpun segala macam kebaikan yang terserak: hikmah, tanda-tanda, rizki, energi, dan selaksa hal lainnya yang bisa membawa keberkahan pada keluarga kecil kami. Mencoba untuk mengumpulkan itu semua, kemudian menyebarkannya secara tertata. Ya, meski di KBBI terserak itu artinya tersebar, menurut saya bedanya tersebar itu sudah didesain, sudah direncanakan sehingga hasilnya lebih masif dan bisa diukur.
Baca lebih lanjut