Sang Pemimpi(n)

“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” [TQS. At Taubah: 18]

Assalamu’alaykum wr wb.

Innalhamdalillah wash shalatu was salamu’ala Rasulillah…

Pada semester pertama, GAMAIS pernah menyelenggarkan sebuah Temu Tokoh Kampus. Pada saat itu hadir, Presiden KM ITB 07/08, Kang Izul dan Kahim Patra 07/08, Kang Indra.

Ada kata-kata menarik dari Kang Izul, yang ternyata pernah menjadi AM MaTa’, tentang pemimpin. Pemimpin adalah kepala yang mempunyai visi, hati yang mencintai, dan perencanaan yang dilakukan dengan penuh konsisten.

1. Ya, pemimpin harus memiliki visi. Visi yang lugas, agar apa yang dipimpinnya memiliki 1 pikiran.

2. Hanya cinta *dengan izin Allah* yang bisa menggerakkan orang sampai batas maksimalnya. Pemimpin harus mencintai ‘bawahan’nya dan tidak boleh benci pada mereka, namun pemimpin boleh dibenci dan ia harus menerimanya bila dibenci. Hihi, sejalan dengan kalimatnya Kepala GAMAIS ya? Kalian bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya, tetapi kalian tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya.

3. If you fail to prepare, you prepare to fail. Jika perencanaan kita baik, insya Allah bisa dipastikan 50% kita akan sukses. Dan apa yang dapat membuatnya jadi 100% sukses? Kekonsistenan dalam menjalankannya lah jawabannya.

Nah, itu kata kang Izul. Qur’an juga punya gambaran mengenai pemimpin. Yaitu tersurat pada Qur’an Surat ke-9 ayat ke-18.

1. Man aamana billaah. Beriman kepada Allah. Ini adalah syarat yang mutlak. Karena sesungguhnya amanah sebagai pemimpin sangatlah berat dan takkan ada yang mampu memikulnya, kecuali Sang Mahaperkasa Yang Mahakuat. Oleh karena itu, hanya iman yang akan mendatangkan ta’yidullah dan nashrullah.

2. Wal yaumil akhir. Dan hari kemudian. Dengan memiliki iman kepada hari kemudian, seseorang dianggap akan mempunyai visi yang jauh. Karena tujuannya adalah kehidupan setelah hidup.

3. Wa aqoomash shalah. Serta tetap mendirikan shalat. Shalat adalah tempat rehatnya dan tempat berhiburnya karena siang dan malamnya ia isi dengan memikirkan ummat hingga tiada waktu istirahat kecuali pada waktu shalat. Pada saat shalat pula lah, ia keluhkan segala masalahnya yang dapat melegakan dadanya, meringankan pundaknya.

4. Wa aataz zakah. Menunaikan zakat. Berbagi. Tidak egois. Dalam QS. Ali Imran ayat 92, disebutkan bahwa ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai…”, seperti apakah menafkahkan sebahagian harta yang dicintai? Sampai terasa sesak di dada ketika melepasnya. Jadi, kalau kita bersedakah Rp10,000 tetapi ga ada perasaan apa-apa. Berarti itu belum sampai pada ‘harta yang dicintai’. Coba tambah. Jika ada rasa berat untuk melepasnya, itulah titiknya.

5. Wa lam yakhsya illallaah. Dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Karena hanya kepada-Nya lah ia bersandar. Segala resiko yang ia ambil, kesulitan yang ia hadapi, dan masalah yang bertubi-tubi menghadang, dapat ia selesaikan karena ia tidak ada rasa takut dan ragu pada hal-hal tersebut. Takut kepada Allah bukanlah takut kita kepada binatang buas atau ketinggian atau pun pada ruang sempit yang membuat kita menghindarinya. Takut kepada Allah justru malah membuat kita ingin mendekat pada-Nya.

6. Pada akhir ayat disebutkan bahwa pemimpin seperti itulah yang akan diberi petunjuk. Sedangkan pada awal ayat dipastikan bahwa pemimpin hanya akan lahir dari orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah…

Wallahu’alam bish shawab

Sesungguhnya taushiyyah di atas seperti bola yang dipantulkan ke dinding, maka bola tersebut akan kembali kepada si pelempar. Begitu juga taushiyyah di atas, sejatinya saya tujukan kepada diri saya. Saya berharap dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan saya yang lemah sekali. Saya berharap bisa menjadi generasi yang menggantikan dan bukan yang diganti.

Menjadi sang pemimpin, bukan sang pemimpi!

Wa’alaykumsalam wr wb.

Bandung, 20 Mei 2008

3 thoughts on “Sang Pemimpi(n)

  1. tok.. tok.. tok..
    assalamu’alaikum..
    ada orang di dalam? he2..

    Wah, ane komen pertama nih sepertinya, mustinya dapet hadiah nih.

    rajin2 nulis ya. jangan lupa rajin2 ngasih komen di blog ane juga, biar ketularan ramenya. he2.

  2. Assalamu’alaikum..
    semoga kita mendapatkan pemimpin yang benar-benar memimpin. bukan yang hanya mencari orang2 tuk dipimpin olehnya karena ambisi semata

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.