S M A (Semakin Memprihatinkan Aja)

Assalamu’alaykum wr wb

Kulekatkan keningku di Bumi Allah SWT guna melepaskan segala syukur sedalam qalbu atas segala nikmatnya. Nikmat Iman, Islam, berukhuwwah, dan masih banyak lagi. Shalawat serta salam kukirimkan untuk Nabiku, Rasulku, Muhammad saw yang hidupnya telah memperjuangkan agar din ini sampai ke dada kita, menghujam hingga tak mau melepasnya.

Rancangan postingan ini bermula dari beberapa hari yang lalu, saya sekilas melihat tayangan tv di kamar (seperti sebelumnya, tidak sengaja nontonnya). Di situ ada semacam reality show berjudul Mata Kamera. Ada yang tau ga? Saya juga baru tau lho… =D

Ya, ketika itu acara itu menyoroti siswa-siswi SMA yang semakin memprihatinkan aja. kenapa? liat aja, budaya tawuran, narkoba, pergaulan bebas (sampe sex), dah ada di SMA. Ngerinya, temen saya di ITB pernah dengan santainya bilang, “Di SMA gw, tiap tahun ada yang hamil.”

Saat itu, saya berpikir dua hal, yang pertama, emang ada free sex, yang kedua, banyak yang nikah muda (hehe, kepengen =p). Tapi setelah dia bilang, “Soalnya wc di SMA gw, cewe-cowonya di gabung.” Bisa ngambil kesimpulan?

Ga cewe, ga cowo, sama aja. Cowonya nongkrong ga jelas di jalan2 sambil ngerokok, nenggak minum2an keras, bawa senjata tajam, rambut dicat, clana kedodoran, anting-tato-piercing dimana-mana, di HPnya ada video2 aneh. Cewenya baju ketat, transparan, rok pendek di atas lutut, dandanan menor, perhiasan dimana-mana, genit, doyan digodain.

Yang saya khawatirkan, rohis-rohis SMA juga jadi bermasalah. Misalnya:
1. PULANG BERDUA.
Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputar masih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.
2. RAPAT BERHADAP-HADAPAN.
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya – bila belum mampu menggunakan hijab – dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.
3. TIDAK MENUNDUNKAN PANDANGAN (GHADHUL BASHAR).
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, “Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
4. DUDUK/JALAN BERDUAAN DAN TANPA HIJAB.
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.
5. “MEN-TEK” UNTUK MENIKAH.
“Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘men-tek’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.
6. TELPON TIDAK URGEN.
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.
7. SMS TIDAK URGEN.
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.
8. BERBICARA MENDAYU-DAYU.
“Deuu si akhiii, antum bisa aja deh?..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.
9. BAHASA YANG AKRAB.
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh .” Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.
10. CURHAT.
“Duh, bagaimana ya? ana bingung nih, banyak masalah begini dan begitu, akh.” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.
11. YAHOO MESSENGER/CHATTING YANG TIDAK URGEN.
YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.
12. BERCANDA IKHWAN-AKHWAT.
“Biasa aza lagi, ukhtiii? hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Inikah pemuda-pemudi Indonesia?

Bukankah mereka adalah Iron Stock? Yaitu para pewaris peradaban ini.
Bukankah mereka adalah Guardian of Value? Yaitu para penjaga nilai-nilai yang sudah ada selama nilai tersebut masih baik.
Bukankah mereka adalah Agent of Change? Yaitu para agen pengubah nilai-nilai yang sudah tidak sesuai dan ada nilai yang lebih baik esensinya.

Usul untuk pendidikan Indonesia:
1. Tambah jam pelajaran untuk Pendidikan Agama Islam. Dua jam dalam seminggu tidak cukup untuk menjaga kita. Kalo pemahaman beragama Islam sudah ditanamkan dan terus diulang-ulang tiap beberapa hari sekali, insya Allah yang namanya penyuluhan antinarkoba, antitawuran, antifree-sex, dll tidak diperlukan lagi!
2. Legalkan dan wajibkan mentoring di tiap SMA. Kalo perlu SMP juga. Kenapa harus pake mentoring lagi. Karena di mentoring, sifatnya lebih santai, ngebahas lebih dalem, menambah tsaqofah islamiyyah, menjalin ukhuwwah, dan penjagaan yang lebih terarah.
3. Wajibkan rok panjang bagi seluruh siswi. Ngerti lah…

Nah, marilah kawan, kita bangun peradaban itu mulai sekarang. Dan warnai peradaban kita dengan warna Islam, niscaya kita tidak akan hanya sukses di dunia, pasti kita akan mendapatkan kesuksesan di surga. Maha benar Allah SWT.

‘Allahu’alam bish shawab wassalamu’alaykum wr wb

nb: ada yang ngutip artikel

3 thoughts on “S M A (Semakin Memprihatinkan Aja)

  1. comment pertamax lagi!!
    Zap, gw juga ngerasa banget penurunan di segi akhlak ini. Tapi ini gak cuma di SMA doang, SMP pun sudah mulai ikut-ikutan.
    Mulai dari diri sendiri lah kita kurangi hal2 diatas..
    Point no 7? Isi ulang pulsa pun gw jarang… 😛

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.