Permasalahan Pendidikan Indonesia

Assalamu’alaykum wr wb

Kawan, marilah kita menyimak artikel yang telah saya kembangkan dan saya analisis, di bawah ini. Namun, sebelumnya, marilah kita awali dengan membaca basmalah dan memuji Allah SWT. Bismillah walhamdulillah…

Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan? Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.

Kota-kota besar di Indonesia seharusnya menjadi contoh dalam membangun negeri ini, termasuk kota Bandung yang merupakan ibu kota dari propinsi dengan jumlah penduduk terbanyak. Namun, realita yang sebenarnya tidak sesuai harapan. Pendidikan di kota Bandung bisa dibilang mengalami kemunduran. Permasalahan pendidikan di kota Bandung diantaranya kita bisa lihat sebagai berikut:

1. Rusaknya infrastruktur sekolah di mana terdapat 1.906 ruang kelas yang rusak sehingga tidak layak untuk dipakai dalam Kegiatan Belajar Mengajar. [Laporan Kadisdik Kota Bandung; 2008]
2. Realisasi Rata-rata Lama Sekolah (RLS) hanya sebesar 10,54 tahun dari target 10,96 tahun. Warga kota Bandung belum tebebas dari buta huruf mencapai 0,61% yang berada di atas umur 10 tahun.
3. Warga yang tidak bersekolah lagi pada tahun 2006 yang berumur 7-12 tahun sebanyak 5.387 orang (2,17%), umur 13-15 tahun sebanyak 8.381 orang (6,77%), 16-18 tahun sebanyak 38.286 orang (31,79%), dan 19-24 tahun sebanyak 203.752 orang (74,52%) (SUSEDA kota Bandung 2006)
4. Alokasi anggaran pendidikan kota Bandung yang hanya hanya mencapai 76,3 milyar, angka ini masih rendah dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lebih miskin seperti Sumedang dan Banjar.
5. Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang masih diwarnai berbagai penyimpangan walaupun telah ada peraturan walikota No. 371 Tahun 2008 jutlak PSB TK dan sekolah. Penyimpangan ini meliputi pungutan liar (padahal sudah dilarang). Hal ini disebabkan karena tidak adanya sanksi yang tegas dan mengakibatkan tumbuh suburnya berbagai macam praktik kecurangan pada pelaksanaan PSB dari tahun ke tahun.
6. Program Sekolah Gratis yang belum tepat sasaran dan belum memberikan akses bagi warga miskin untuk bersekolah karena minimnya sosialisasi dan terbatasnya kuota. Selain itu, fasilitas pada sekolahnya sangat kurang mendukung kegiatan belajar mengajar.
7. Perguruan tinggi yang ada tidak memiliki sosialisasi yang baik mengenai beasiswa di masing-masing perguruan tinggi sehingga calon-calon mahasiswa yang pantas masuk, menjadi takut memilih perguruan tinggi tersebut karena mahal.

Berawal dari data-data di atas, sudah merupakan kewajiban bagi pemerintah kota Bandung untuk serius menangani masalah tersebut. Kondisi pendidikan di kota Bandung telah sampai pada titik yang memprihatinkan karena itu semua sangatlah tidak pantas untuk kota seperti Bandung yang berdekatan dengan ibu kota negara.

Sebenarnya masalah-masalah ini adalah masalah klasik, tetapi hingga sekarang belum ada titik terangnya.

Mengapa krisis tersebut terjadi?

Salah satu penyebab tidak berkembangnya dan malah menjadi suatu kemunduran pendidikan di kota Bandung adalah karena pemerintah tidak serius untuk menuntaskan masalah ini. Hingga saat ini, belum ada sebuah itikad baik dari pemerintah untuk menjadikan pendidikan di kota Bandung lebih baik. Sampai sekarang program-program yang berhubungan dengan pendidikan hanya menjadi kampanye untuk meraih jabatan.

Ditambah lagi dengan adanya oknum-oknum yang tidak bermoral di internal sekolah. Hal ini menyebabkan terjadinya penyelewengan-penyelewengan dan suap-menyuap pada elemen pendidikan Indonesia. Ya, kecurangan pada PSB semakin sering terjadi. Orientasi diterima atau tidaknya seseorang adalah besar kecilnya sumbangan kepada sekolah, tidak lagi menjadikan minat dan bakat menjadi variabel seleksi yang utama.

Para guru yang seharusnya mengajarkan moral pada muridnya, malah memberikan kunci jawaban pada ujian dengan alasan agar si murid dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Sebuah alasan yang tidak logis dan cara yang tidak dapat dibenarkan.

Bagaimana idealnya?

Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

Sekolah-sekolah gratis di Indonesia memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menujang bangku persekolahan sehingga timbul keraguan ‘Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.’

Bagaimana solusi dari kita?

Sebagai mahasiswa, ketika kita memandang suatu masalah atau menyampaikan kritik, haruslah disertai dengan solusi. Sebab, dengan seperti itu, apa yang kita pandang dapat menjadi lebih baik. Bukankah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan?

Salah satunya memilih pemimpin yang memiliki political will dan action plan. Ya, seorang yang mempunyai keinginan untuk belajar dan menjadi lebih baik serta yang memiliki kemampuan eksekusi yang baik. Mulai dari walikota yang punya program sekolah grati dan yang nyusun anggaran untuk pendidikan di kotanya. Kemudian kepala sekolah yang tidak mau disuap, lebih mementingkan minat dan bakat calon siswanya dalam PSB. Serta guru-guru yang memiliki kejujuran, keteladanan, keadilan, dan integritas.

LAMPIRAN


Gambar 1. SMA Negeri 1 Bandung


Gambar 2. Seorang siswa terlambat datang ke sekolahnya dan tampak seorang penjaga sedang menutup pintu gerbang


Gambar. 3 Pembangunan Infrastruktur dan Moral

(Setelah mewawancarai seorang siswa, SMA di atas adalah sekolah berstandar nasional tetapi siswa tersebut tidak tahu apakah di sekolah tersebut ada beasiswa atau tidak karena menurutnya siswa yang belajar di situ termasuk mampu. Ini menunjukkan beberapa permasalahan yang diangkat penulis sudah terbukti)

Allahu’alam, semoga bermanfaat. Wassalamu’alaykum wr wb

*data didapat dari Press Release GEMA PENA UPI tanggal 14 Juli 2008

2 thoughts on “Permasalahan Pendidikan Indonesia

  1. liat juga anak-anak yang masih dalam usia sekolah,, tidak sedikit anak anak yang enggan sekolah meskipun orang tua mereka sangat mampu untuk melanjutkna sekolah bahkan hingga perguruan tinggi. mental anak negeri ini masih belum merata hingga sekolah pun enggan. inilah yang harus ditanamkan kepada anak di negeri kita gar mereka punya keinginan untk melanjutkan sekolah.. pemrintah kurang memandang minat belajar anak, dan kita jangan hanya melihat sebagai kebobrokan pemerintah dalam hal pemberian pelayanan gratis kepada anak, harus ada kerja sama dengan orang tua dan tingkatan pemerintah paling kecil semisal RT agar punya pemahaman terhadap pendidikan dan penanaman minat dalam pendidikan, termasuk media.. gencarkan propaganda pendidikan denagan berbagai media. jarang sekali pemerintah melakuakn iklan tersebut meskipun media sudah bak jamur di musim hujan … kalau pun harus bayar untuk biaya iklan, masa gak bisa sih

  2. @school:
    sepatu!!! sepakat dan setuju!
    intinya, ga cukup pemerintah aja yang membangun bangsa dan negara ini, tetapi harus semua elemen yang harus bersama-sama membangunnya!

    bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.