Pekan Kreativitas Ramadhan Cabang Cerpen (Tahun Lalu)

Assalamu’alaykum wr wb

ini ada cerpen buatan saya, waktu tahun lalu masih jadi peserta *sekarang jadi panitia dan ga bisa ikutan lomba =(* semoga bermanfaat..

KESAKSIAN SEBUAH PERMADANI

Tanpa sadar matanya menitikkan air mata mengingati nikmat-nikmat yang telah Allah berikan padanya. Walaupun hanya sebuah permadani tua yang sudah tidak nyaman dan indah. Bahkan seharusnya tidak bisa disebut permadani lagi karena rupa dasarnya telah bertransformasi menjadi tidak keruan. Namun, baginya ada sensasi luar biasa ketika tersungkur di lembabnya diriku ini, kain usang tersebut. Telah banyak masa yang berlalu, sejak pertama kali aku bertemu dengan Khalid, orang tersebut.

***

Awal cerita, dia sedang bersimpuh ba’da shalat Idul Fithri. Begitu asyiknya Khalid mengucapkan terima kasih kepada Sang Rahman serta mengiba agar dirinya selalu diberi keistiqomahan dalam kesyukuran hingga tak terasa hari sudah terik. Ketika benar-benar terlarut dalam khalwat bersama-Nya, terdengar suara di sampingnya.

“Maaf mengganggu, tetapi hari hampir siang dan tempat ini harus segera dibersihkan sebelum tentara zionis Israel datang.”

“Oh, iya, ‘afwan…”

Khalid membantu bapak itu membereskan semuanya. Setelah itu mereka berbincang untuk saling mengenal. Dari situ Khalid tahu bahwa tiga hari sebelum Idul Fitri, Bapak Ali adalah pengrajin permadani. Akan tetapi, rumah yang juga dijadikan tempat ia bekerja diserbu rudal oleh zionis Israel ketika dia sedang keluar mencari bahan-bahan untuk dijadikan permadani dua hari yang lalu. Pada peristiwa itu juga, istri dan kedua anak kembarnya yang belum genap lima tahun kembali kepada pangkuan Ilahi mendahului Pak Ali.

“Entah kenapa saya tidak begitu merasa kehilangan mereka, malah saya selalu merasa mereka masih ada di sisi saya,” ujar Pak Ali dengan wajah sedih membuat Khalid tak enak hati. “Saya merelakan segalanya pada Allah.”

“Maaf Pak, saya jadi mengingatkan kepada hal-hal yang tidak menyenangkan.”

“Oh, tidak apa-apa.” jawabnya dengan santai sambil menuju ke bekas rumahnya. “Saya masih ingat ketika menemukan mereka saat itu. Mereka sedang tersenyum dengan mata terpejam. Tubuh mereka masih utuh dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Sepertinya bau seperti itu hanya ada di surga.”

Akhirnya Khalid dan Pak Ali telah sampai di tempat itu, yaitu rumah Pak Ali. Rumah di mana di sana pernah tertorehkan sebuah sejarah dirinya bersama keluarga yang ia cintai karena Allah.

Khalid menebarkan pandangannya ke setiap sudut puing bangunan di depannya yang hampir rata dengan tanah. Tak sengaja mata Khalid menangkap sebuah permadani usang yang tertindih lemari bobrok tak berkaca dan tanpa sadar Khalid terdorong untuk memungut kain tersebut.

Di situlah aku pertama kali mengenal Khalid, orang yang berempati kepadaku ketika orang lain tak peduli sama sekali, bahkan tidak ada yang mau tahu kalau di situ ada diriku. Padahal aku sudah sekuat tenaga berusaha menjerit minta tolong tetapi tetap tak ada yang mau membantu.

Senyum Khalid membelai tubuhku yang kotor penuh debu dan segera ia menghampiri Pak Ali.

“Kain ini kepunyaan Pak Ali?”

“Iya… Memangnya kenapa?” Pak Ali kebingungan.

“Kok dibiarkan begitu saja? Kan sayang.”

Pak Ali tersenyum mendengar kata-kata polos Khalid, begitu juga diriku yang kini masih digenggam Khalid. Alhamdulillah, masih ada yang memperhatikanku…

“Kalau kau tak keberatan, kau boleh memilikinya, nak.”

“Memangnya boleh? Saya kan tidak punya uang.”

“Tidak apa-apa, anggap saja itu hadiah kecil dari saya di hari ‘kembali berbuka’ ini.”

“Syukran Pak!” Khalid girang mendengar ucapan Pak Ali tadi.

“Afwan,” jawabnya.

“Khalid, apakah kamu tahu di Indonesia kata Idul Fithri itu dimaknai ‘kembali suci’?” Pak Ali melanjutkan.

“Masa sih?”

“Iya, padahal secara lughoh bahwa lafadz ‘fithri’ berasal dari kata ‘fithru’ atau ‘ifthaar’ yang menurut bahasa artinya berbuka. Jadi seharusnya Idul Fithri artinya ‘Hari Raya Berbuka Puasa’, yakni kita kembali berbuka dan tidak puasa lagi. Sedangkan kata ‘suci’ dalam bahasa Arab adalah fithrah yang tulisannya adalah Fa-Thaa-Ra-dan Ta Marbuthoh bukan fithri yang tulisannya Fa-Thaa-dan Ra. Selain itu, dari Abi Hurairah ra., sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Shaum itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan Adha itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan. Hadist ini shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam: Tirmidzi nomor 693, Abu Dawud nomor 2324, Ibnu Majah nomor 1660, Ad-Daruquthni sanad dari Abi Hurairah. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi.1” jelas Pak Ali.

“Kasihan ya, saudara-saudara kita di Indonesia, tidak ada perang saja sudah rusuh dan kacau. Namun, di Palestina yang selalu meletus perang, tetap bisa hidup rukun sesama warga.” Khalid angkat bicara. “Oh ya, saya punya kenalan dari Indonesia, namanya Abdul, tetapi saya tak pernah mendapat kabar darinya lagi.”

Aku yang sedari tadi mendengarkan perbincangan Pak Ali dengan Khalid, turut bersimpati dengan bencana-bencana di Indonesia. Semoga saudara-saudara kita di Indonesia—yang notabene muslim terbanyak di dunia—bisa mengembalikan gemilangnya kejayaan Islam. Amin…

***

Kini Pak Ali telah tiada, dia ditembak oleh zionis Israel setelah menyelamatkan seorang gadis Palestina yang hendak diperkosa dan setelah behasil memisahkan nyawa dari jasad seorang zionis Israel hanya dengan pukulannya. Ruh Pak Ali melesat ke langit disambut istri dan anak-anak beliau dengan iringan tasbih beribu laksa malaikat.

Ia tiada menyesali hidup sendiri sebagai seorang fakir lagi miskin. Setiap kejadian yang ia alami membuat jiwanya tumbuh berkembang dan dewasa. Entah itu yang pahit, sedih, menyakitkan, menyenangkan, entah yang membuatnya marah. Segalanya pernah ia temui di warna-warni hidupnya dan telah terpetik banyak hikmah dari itu semua.

Dahi Khalid cukup lama menempel pada tubuhku dan terus membasahiku dengan embun matanya. Dinginnya Palestina tidak menghalangi Khalid untuk mendirikan malam-malam yang penuh berkah. Terutama di bulan Ramadhan ini.

Ia segera bangkit dan mengakhiri shalatnya karena teringat harus membangunkan dua sahabatnya yang tidur tak beralaskan apapun, Umar dan Zaid, untuk sahur terakhir karena maghrib nanti sudah masuk 1 Syawal. Namun, bagi Khalid, ini sungguh yang terakhir.

“Assalamu’alaikum… akhi Umar bangun yuk, kita sahur. Akhi Zaid juga.”

Menggeliat sebentar, kedua orang tersebut langsung berdiri sigap seperti mujahid yang siap berperang. Mereka menghampiri bungkusan kecil berisi makanan sisa buka puasa kemarin yang bahkan tidak cukup untuk satu orang yang jarang makan sekalipun. Subhanallah, ikatan hati antarmereka memang sangat kuat. Pada kondisi seperti itu mereka masih sempat berbuat itsar dengan mempersilakan yang lain untuk memakan porsi miliknya…

***

Siang itu matahari sedang membara di Palestina, awan-awan bagai mempersilakan panas sang surya untuk menyapa orang-orang beriman yang sedang ber-shaum. Shadaqallah wa rasul, puasa memang menyejukkan di segala cuaca dan membangkitkan semangat untuk berjihad. Bahkan bagi Khalid, Umar, dan Zaid yang tertindas di negerinya sendiri, Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah dan rizqi. Oleh karena itu, tidak boleh di sia-siakan dengan meminta-minta apalagi hanya tidur sepanjang hari.

Mereka berdagang dengan membuat kerajinan tangan anyaman yang dulu pernah diajari oleh Abdul ketika mengunjungi Palestina untuk menyampaikan sedekah dari umat muslim Indonesia. Terkadang mereka mendapat penghasilan juga dari membantu orang lain seperti membuat sesuatu, menjaga sesuatu, membawakan sesuatu dan mengantar sesuatu ke tempat yang jauh. Sayangnya, hasil dari itu semua hanya cukup untuk membeli sebungkus makanan layaknya hari lalu.

Di tengah asyiknya bertebaran mencari karunia Allah, serta merta meluncur sebuah rudal berkecepatan tinggi di langit Palestina dan mendarat di tempat yang tidak jauh dari Khalid.

DUAR!!!

Tak ayal banyak nyawa terenggut olehnya. Beruntung Khalid tidak tewas. Akan tetapi, lukanya sangat parah. Wajahnya memar, tulangnya hampir patah karena terpelanting, tubuhnya terkena puing-puing yang diakibatkan ledakan berikutnya. Khalid terbaring tak bergerak merasakan rasa sakit yang luar biasa tak tertahankan.

“ALLAHU AKBAR!!!” dia memekik seraya memperhatikan sekitar mencari sahabatnya. “UMAR! ZAID! KALIAN BAIK-BAIK SAJA?” Tak ada jawaban.

Tak lama kemudian, lima tank berlambang zionis Israel menyapu jalan-jalan Palestina dan menghancurkan apa yang ada di hadapannya. Khalid sudah tak peduli pada dagangannya, ia berusaha tetap tenang dalam kepanikannya. Ketika ia sedang mencoba me-manage hatinya, semua tank yang ada berhenti dan dari dalamnya keluar seorang pria berkumis dengan pengeras suara. Ia hanya bisa memperhatikan dari tempatnya tergeletak.

“Siapa yang memimpin wilayah kotor ini?!”, ujarnya kurang ajar, membuat dada Khalid naik-turun terasa sesak oleh kesal. Perlahan di antara para warga yang ketakutan, menyembul seorang tua.

“Kamu pemimpin di sini?!” bentak pria berkumis dengan mata melotot. Diperlakukan seperti itu, nyali si pemimpin wilayah semakin ciut bahkan tidak bisa tuk sekedar mengangguk. “Kumpulkan uang dari wargamu sejumlah USD1,300 atau kuperkosa seluruh gadis yang ada di sini sekarang juga!”

Pemimpin di wilayah itu begitu terkejut mendengarnya. Ia belum siap untuk diberi pilihan yang kedua-duanya tidak mengenakkan semisal itu. Kegelisahan dan keraguannya untuk memilih, membuatnya hanya bungkam seribu bahasa. Terlihat keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh dan membuatnya tenggelam dalam konflik batin, sementara rasa takut semakin menjadi.

“Hei tua, yang mana yang kau pilih?!”

“Insya… insya Allah… sa… saya akan men… coba mengumpulkan uang yang… yang kalian minta…” lirih ia menjawab dan terbata, tetapi itu cukup terdengar bagi si pria berkumis. “teta… pi…, afwan… bisa… kah di… dikurangi jumlahnya… nya…?”

“APA KATAMU?!” kalimat terakhir pemimpin wilayah membuat pria berkumis naik pitam, emosinya mendidih dan pecah seketika. Dihampiri pemimpin wilayah ini oleh pria berkumis kemudian mengambil kuda-kuda untuk menghajar sang pemimpin wilayah. Namun,…

“T U N G G U ! ! !” aku tak percaya mendengar Khalid menjerit dengan lantangnya kepada pria berkumis yang merupakan salah satu tentara Israel. “Apa hakmu berbicara dan berbuat sepeti itu di negeri kami?!” tambahnya.

Khalid berdiri lalu berjalan mantap membelah ranah Palestina sembari menajamkan sorot mata, seakan-akan dia tidak terluka apa-apa. Hal ini bisa dipastikan adalah kekuaasaan dari Allah SWT sebab seharusnya dia sudah lumpuh tak bergerak.

Khalid begitu marah melihat kezaliman di hadapannya, apalagi yang dianiaya adalah saudaranya se-Islam. Jelas sekali kalau dia tidak bisa mematung saja.

“Apa hakmu berbicara dan berbuat sepeti itu, HAH?!” Aku yang berada di genggaman Khalid menyaksikan dengan jelas bahwa ia membuat si pria berkumis menjadi pucat pasi karena bagi pria berkumis dan tentara zionis lainnya, Khalid adalah segerombolan orang bersenjata lengkap dengan tubuh tinggi besar perkasa. Sesungguhnya malaikat Allah telah turut membantu Khalid dengan izin-Nya. Khalid sama sekali tidak menyadarinya, tetapi aku dapat melihat sosok yang terbuat dari Nuur tersebut. Subhanallah…

“Cepat pergi dari negeri ini, SEKARANG JUGA!!!” Khalid berteriak ketika beberapa meter dari pria berkumis. Aku melihat beberapa tentara mengarahkan moncong senapannya ke arah Khallid dan melepaskan peluru beberapa kali. Awas, Khalid!!! Gunakan diriku sebagai perisai!!!

Ajaibnya, Khalid seperti mendengar apa yang aku ucapkan kepadanya. Khalid mengibaskan diriku ke arah datangnya peluru. Ukh, panas… tapi tidak seberapa jika dibandingkan panasnya neraka. Na’udzubillah… Peluru-peluru itu langsung berjatuhan sebelum hinggap di tubuh Khalid dan berdentingan di tanah.

Kemudian giliran dua tentara zionis terdekat yang mencoba menghentikan Khalid, roboh tak berkutik setelah disabet Khalid menggunakan tubuhku.

“PERGI!!!” Khalid sudah berada tepat di depan hidung si pria berkumis. Kontan membuat pria berkumis dan tentara zionis lainnya kaget setengah hidup dan berebut untuk masuk ke dalam tank.

“Wuaaa!!!”

Khalid masih kokoh di tempatnya sambil menyaksikan tank-tank itu mengecil, menitik, dan menghilang di kejauhan. Alhamdulillah, ya Rabb…

***

Saat ini Khalid terbaring di kasur rumah salah seorang warga. Ia baru saja selesai diobati. Tubuhnya penuh balutan perban dan membuatnya semakin sulit untuk bergerak. Sedari tadi, Khalid dipaksa untuk membatalkan shaumnya agar bisa meminum obat secepatnya, tetapi Khalid bersikeras untuk bertahan. Dia yakin bahwa shaum tidak akan membunuhnya malah shaum itu adalah penyembuh bagi luka-lukanya. Lagipula, azan maghrib tak akan lama lagi. Diam-diam tekad Khalid membuatku kagum padanya, padahal dia baru saja membanting tulang memeras keringat demi mendapat makanan dan kemudian dijatuhi rudal oleh tentara zionis Israel.

Dia sekarang tidak punya apa-apa untuk berbuka. Kelemahan finansialnya tidak menyebabkan dia menjadi pengemis jalanan, justru dijadikannya sebagai motivasi untuk menghasilkan uang. Memang sejauh ini belum ada perubahan yang signifikan. Namun, ia percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah akan memberinya balasan, kalau tidak di dunia, ya, di akhirat nanti. Dan Khalid lebih memilih opsi kedua. Dia memutuskan untuk meminum air keran walaupun hanya setetes sebagai pembuka shaumnya nanti.

Perlahan rintik hujan membasahi bumi. Setelah lama dinanti, ia membawa kesejukan dan kesegaran di hati. Membuat riang tiap insan yang sedang berbakti kepada Ilahi Rabbi.

Ramadhan memang bulan penuh berkah, andai saja setiap bulan adalah Ramadhan. Ah, jadi tersadar bahwa sebentar lagi Ramadhan hendak pergi. Dia juga rindu pada kedua orang tuanya yang pergi selama-lamanya untuk kembali pada saat dia masih sangat belia sehingga dia tidak ingat wajah mereka sedangkan mereka tiada meninggalkan apa-apa. Dia terus bertanya-tanya kemana Umar dan Zaid, apa mereka selamat, tetapi pertanyaannya itu tidak dia tuangkan dalam kata-kata…

Embun hangat terasa di mata Khalid dan menganak sungai di pipinya. Aku memperhatikannya sejak dia dibawa ke rumah ini. Dia memang orang yang pandai bersyukur. Dia berkali-kali melafadzkan hamdalah, terkadang mengusap pipinya yang basah.

Kumandang azan maghrib menggema, dia bangkit dan berjalan lambat ke arah kamar mandi. Khalid tidak bisa meminta tolong pada siapa-siapa karena rumah itu kosong dan hujan masih menabuhkan musik alam. Diputar olehnya sebuah keran dan alhamdulillah ada air beberapa tetes, mungkin disebabkan oleh hujan kali ini. Selanjutnya ia meneguk tetesan itu dengan doa.

Keran air itu segera berhenti sehingga dia tidak bisa berwudhu. Aku melihatnya berjalan menuju pintu keluar. Ketika Khalid baru saja keluar rumah dan hendak melangkahkan kakinya, terdengar suara guntur yang cukup keras. Khalid kaget dan astaghfirullah dia terjatuh! Kepalanya terbentur hingga tak sadarkan diri. Aku memanggil-manggilnya; Khalid tetap tak bergeming. Aku mencoba bergerak, tetapi tak bisa; Khalid sudah kuyup hingga ke sumsum tulang.

***

Khalid membuka matanya beberapa menit sebelum shubuh. Aku perbanyak dzikir pada Allah karena tadi malam Khalid sempat kolaps dan belum sadarkan diri. Namun, saat ini di kamarnya terdapat banyak orang yang siap membantunya.

“Jam berapa sekarang?” tanya Khalid. Orang-orang di situ nampak senang melihat Khalid siuman.

“Sekitar pukul 04.00.” jawab salah satu dari mereka.

“Astaghfirullah, saya belum shalat maghrib dan ‘isya!”

“Kalau mau bertayamum dan pakai isyarat saja.”

Khalid sempat berdzikir sebelum azan shubuh tertabuh. Dia pun segera shalat di tempat.

Khalid terus berdoa agar dikuatkan untuk shalat Id seperti biasa di lapangan. Sampai saat itu ia bertakbir, bertahlil, dan bertahmid. Ketika mencoba tuk terbangun, tubuhnya terasa ringan dan rasa sakitnya sudah tak terasa. Tak lupa di membawa diriku sebagai alas sujud di lapangan.

***

Khalid terlihat aneh di tempat jama’ah shalat berkumpul untuk shalat karena dia dipenuhi perban yang melilit sana-sini tubuhnya. Dan…

Waktu itu akhirnya tiba, semua yang ada disitu berdiri menunaikan shalat Idh, termasuk Khalid. Sejak takbir pertama ia tak bisa membendung tangisnya. Di takbir kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya tangisnya semakin kuat. Imam kini telah sampai ke surat al Fathihah ayat 5…

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Ayat itu memang Khalid terapkan sepanjang hidupnya. Dia tidak meminta-minta kepada orang lain karena menurutnya orang lain juga sama seperti dirinya, lemah dan tidak punya apa-apa. Semua orang sama seperti dirinya, sebagai golongan dhuafa dan musafir di bumi Allah. Oleh karena itu, ia hanya ingin meminta kepada satu-satunya Dzat yang berhak dimintai pertolongan, Allah Yang Maha Memiliki.

Pada masa itu pula aku melihat malaikat turun dengan cepat di sisi Khalid. Beriringan dengan gerakan Khalid menuju sujud padaku, Khalid merasakan perasaan yang aneh, dia merasa melayang. Puncaknya dia melihat bahwa dirinya menjauhi bumi. Terus menjauhi bumi dan dia baru sadar bahwa dia dibawa malaikat atas perintah Allah. Inilah waktunya. Diapun mendongakkan kepalanya ke langit, di sana ia melihat orang-orang yang ia cintai karena Allah: kedua orang tuanya, Pak Ali beserta keluarga, Umar, dan Zaid.

Setelah itu ia ruku’ memuliakan-Nya dengan menghinakan diri sesempurna mungkin, bangkit dari ruku bertahmid dan bersyukur kepada-Nya.

“Allahu Akbar.” Sang Imam memimpin untuk bersujud.

Sementara itu, jasad Khalid tetap menelungkup padaku yang terpana memandang itu semua. Aku siap menjadi saksi atas semua amal-amal Khalid, seorang tertindas yang meraih kemenangan sejati karena berhasil memaknai bulan Ramadhan sebagai bulan berjihad. Kini citanya telah teraih: syahid di jalan-Nya, innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

Bandung, 26-27 September 2007

3 thoughts on “Pekan Kreativitas Ramadhan Cabang Cerpen (Tahun Lalu)

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.