Tahapan Rekonstruksi Bangsa


Assalamu’alaykum wr wb

HIDUP BANGSA INDONESIA!!!

Jika kita mempelajari sejarah negara ini, kita akan menemukan serangkaian perjuangan yang luar biasa. Semuanya tertulis dengan tinta emas oleh bocah-bocah negeri zamrud khatulistiwa ini.
Terlalu banyak hal menakjubkan yang tercipta, bahkan tidak akan cukup kisah itu dikenang dalam tulisan ini. Apalagi itu semua diprakarsai oleh pejuang-pejuang Islam yang mencintai Negara dan Bangsanya karena Allah semata. Prinsip ‘lebih baik mati syahid daripada hidup terhina dibawah penjajahan orang lain’ mengobarkan semangat juang dan merintis terjadinya pemberontakan-pemberontakan.
Dengan membawa bendera merah putih (padahal waktu itu bendera ini belum menjadi bendera resmi Indonesia, ini menandakan yang menciptakan bendera Indonesia adalah pejuang Islam juga) dan pekikan takbir yang membahana dan mewarnai tanah air tercinta, membuka mata dan nurani pejuang lainnya (kaum nasionalis, dsb).
Sayangnya, ketika kemerdekaan didapat, pejuang Islam agak kurang peduli dengan pemberdirian Negara yang pada waktu itu masih labil. Mereka lebih memilih untuk kembali ke pesantrennya masing-masing dan membiarkan negeri ini dilanjutkan oleh kaum nasionalis. Padahal sejatinya perjuangan baru saja dimulai.
Ini menyebabkan sila pertama yang seharusnya tertulis asma Allah, diganti menjadi Tuhan. Terus, yang seharusnya azas Negara ini adalah Islam, menjadi nasionalisme. Dan lain semacamnya…

Waktu, berlalu,,,
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak ingin Islam menjadi landasan Negeri ini, mulai membuahkan hasilnya. Lihat saja, banyak pemimpin tidak adil, banyak rakyat yang tidak sejahtera…
Oleh karena itu, saya sebagai seorang mahasiswa yang ingin membantu bapak-bapak di sana untuk memperbaiki Indonesia. Semuanya bertahap, ini dia:

1. Membangun kebesaran jiwa.

Permasalahan inti dari Penduduk Indonesia, mulai dari tataran elit hingga jelata, adalah jiwa yang sempit dan tamak. Hati mereka dipenuhi oleh nafsu dunia semata. Tiada lagi indahnya berbagi, semua terasa menyesakkan, saling berdesakkan, sikut kanan-sikut kiri. Semua hanya memikirikan dirinya, bahkan sesama keluarga pun terkadang tidak peduli.

Mengapa membangun kebesaran jiwa itu penting?
Baca lebih lanjut