Jawaban Pertanyaan Seputar Islam (2-edited)

*iseng buka-buka file lama, eh, nemu ini. tulisan ini dibuat waktu kelas xii. karena waktu itu ga ada aktivitas lain, selain belajar (haha), akhirnya para rohis kelas (irvan, dodo, nadia, uswah, izzah, dll) berinisiatif untuk membuat mading yang isinya berupa pertanyaan-pertanyaan dari temen-temen sekelas. mungkin hal ini juga yang melatarbelakangi munculnya KoMa (kotak kemajuan),, hmm… terimakasih kawan, untuk kenangannya*

Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokatuh

Segala puji bagi Alloh, Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun, Maha Pemurah lagi Maha Perkasa, yang membolak-balikkan hati dan penglihatan, mengetahui yang nampak maupun yang tersembunyi. Aku senantiasa memuji-Nya, baik pagi maupun sore. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Kalimat syahadat (kesaksian) inilah yang menyebabkan diselamatkannya orang yang mengucapkannya dari azab neraka. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah nabiNya yang dipilih (olehNya), semoga shalawat tercurah terus menerus sepanjang hari kepadanya, keluarganya, dan para sahabatnya, mereka pantas mendapatkan kedudukan yang agung dan mulia.
___________________________________________________________________________

1. Selain puasa, nadzar itu bisa dalam bentuk apa saja? (XII-IPA 8)

Kawan, berikut ini kami lampirkan sebuah artikel mengenai nadzar…

Nadzar Potong Kambing kalau Diterima di PTN

Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz Ahmad yang dirahmati Allah, 9 tahun yang lalu saya pernah bernadzar dalam hati, “Jika saya lulus dari test dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri, maka saya akan memotong kambing.” Alhamdulillah akhirnya saya lulus dan diterima di PTN tersebut, tapi saya masih masih belum menunaikan nadzar tersebut.
Yang saya tanyakan adalah:
1. Apakah nadzar saya itu termasuk nadzar yang dibenarkan oleh syariat?
2. Apakah saya harus melaksanakan nadzar tersebut? Jika iya, sebaiknya saya serahkan/bagi ke mana kambing tersebut?
Jazakumullah khairon katsiron,

Iwa
iwa at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Selama isi materi yang dinadzarkan itu bersifat ibadah atau amal-amal yang mendatangkan kebaikan dan manfaat nyata serta tidak bertentangan dengan larangan-larangan agama, tentu saja nadzar itu sah dan wajib dilaksanakan. Sebagaimana sabda beliau SAW

“Siapa yang nadzar untuk mentaati Allah, maka taatilah (laksanakanlah). Dan siapa yang nadzar untuk maksiat kepada Allah maka dilarang.”

Misalnya ketika anda bernadzar untuk menyembelih seeokor kambing, tentunya niat anda agar daging kambing itu bisa bermanfaat buat orang lain untuk dimakan. Hal itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena menjadi sedekah anda buat mereka.

Namun kalau dalam hati anda niatnya untuk dijadikan persembahan kepada jin, roh, dukun atau ritual dari alam ghaib lainnya, tentu saja hukumnya haram. Selain syirik, praktek seperti itu melahirkan dosa besar, sehingga kalau nadzarnya seperti itu, hukumnya tidak boleh dilaksanakan.

Kalau anda bertanya tentang ke mana memberikan daging kambing itu, jawabnya tergantung yang terbetik di benak anda saat bernadzar. Kalau yang terbetik adalah memberi kepada fakir miskin, maka carilah fakir miskin. Boleh secara langsung anda mencari sendiri dengan menyusuri pemukiman kumuh pinggir kali misalnya, atau anda serahkan kepada lembaga yang secara khusus bisa dipercaya untuk menyampaikannya.

Tapi kalau nadzar anda hanya bersifat umum, tanpa ada kepastian untuk siapa, sebagian dari daging itu boleh anda hadiahkan kepada orang lain yang tidak termasuk ke dalam kategori fakir miskin. Namun alangkah baiknya bila pemberian itu tetap memprioritaskan orang-orang yang kelaparan dan sangat membutuhkan.

Hukum Melakukan Nadzar

Hukum nadzar sendiri merupakan perselisihan para ulama. Sebagian membolehkannya dan sebagian lainnya melarangnya. Dasarnya adalah karena nadzar itu menunjukkan bahwa seseorang itu pelit kepada Allah. Mau melakukan kebajikan hanya kalau Allah meluluskan hajatnya. Seolah-olah niatnya tidak ikhlas karena Allah, tapi karena ingin diluluskan hajatnya. Sehingga, menurut para ulama yang mendukung pendapat ini, sebaiknya seseorang tidak bernadzar.

Rasulullah SAW telah melarang untuk bernadzar dan bersabda:

“Nadzar itu tidak menolak sesuatu. Sebenarnya apa yang dikeluarkan dengan nadzar itu adalah dari orang bakhil.” (HR. Abu Hurairah)

Lalu tindakan apa yang seharusnya dikerjakan bila memang kondisi kita sangat membutuhkan adanya campur tangan Allah secara langsung. Seperti dalam menghadapi penyakit kronis atau hal-hal gawat lainnya?

Para ulama menganjurkan bila seseorang sedang dalam keadaan genting, sebaiknya dia berdoa langsung kepada Allah untuk meminta dilepaskan dari beban dan diluluskan semua hajatnya. Yaitu dengan bertawassul lewat amal baik yang bernilai ibadah. Baik amal itu pernah dilakukan atau akan dilakukan.

Ada cerita menarik dalam salah satu hadits nabi di mana diceritakan ada tiga orang kakak beradik bepergian dan masuk ke dalam gua. Tiba-tiba tanah bergerak dan pintu gua tertutup timbunan. Tiga tenanga manusia tidak mungkin bisa membuka pintu tersebut. Lalu ketiganya hanya berharap kepada pertolongan Allah dan mulailah mereka berdoa. Masing-masing berdoa dan bertawassul dengan menyebutkan amal kebajikan yang pernah dilakukannya. Dan akhirnya atas kehendak Allah, mereka bisa keluar dari pintu gua tersebut.

Atau bisa juga pada saat gawat dan genting, seseorang mengeluarkan sejumlah harta dan diberikan kepada fakir miskin atau anak yatim. Hal itu memang dianjurkan terutama ketika seseorang sedang mengalami musibah sakit. Atau mewakafkan sejumlah tanah untuk madrasah dan sebagainya.

Tawassul seperti ini jelas memiliki dasar yang kuat karena Allah SWT memang memerintahkannya dalam Al-Quran. Juga tidak seperti nadzar yang seolah-olah tawar menawar kepada Allah. Bila Allah beri maka saya beri tapi bila tidak diberi maka saya tidak akan memberi. Dari segi etika saja, jelas ini bukan etika yang baik dari seorang hamba kepada Rabb-Nya.

Sedangkan tawassul dengan amal-amal kebajikan berbeda dengan nadzar. Karena pada dasarnya kita berdoa dan menguatkan doa kita dengan wasilah tersebut. Bila Allah luluskan, alhamdulillah dan bila tidak atau belum, maka kita tetap berhusnuzzon kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Setelah kita bersama menyimak sejenak artikel di atas, dapat disimpulkan bahwa nadzar bukanlah sesuatu yang dianjurkan (karena ada yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya). Mengenai bentuk nadzar, boleh dengan apa saja asalkan bernilai ibadah, bukan sesuatu yang wajib, dan bukan maksiat. Misalnya saja, kita tidak boleh bernadzar akan selalu sholat lima waktu jika kita diterima di perguruan tinggi, karena sholat lima waktu memang sudah kewajiban semua muslim.

2. Bagaimana cara bersuci dari junub atau haid? (XII-IPA 4)

Tidaklah mandi haid atau junub dinamakan mandi syar’i, kecuali dengan dua hal :
1. Niat, karena dengan niat terbedakan dari kebiasan dengan ibadah, dalilnya hadits Umar bin Khaththab radhiallahu anhu: bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (HR. Al-Jamaah)
Maknanya adalah bahwasanya sahnya amalan itu dengan niat, amal tanpa niat tidak dianggap syari. Yang perlu diingat bahwa niat adalah amalan hati bukan amalan lisan, jadi tidak perlu diucapkan.
2. Membersihkan seluruh anggota badan (mandi) dalam mengamalkan firman Allah subhanahu wa Taala: “Dan apabila kalian junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah :6)
Dan juga firman Allah subhanahu wa Taala : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid , katakanlah haid itu kotoran yang menyakitkan) maka dari itu jauhkanlah diri kalian dari wanita (istri) yang sedang haiddan janganlah engkau mendekati mereka, sampai mereka bersuci (mandi).” (QS. Al-Baqarah : 222)

Adapun tata cara mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah :
1. Mencuci kedua tangan sekali, dua kali atau tiga kali.
2. Lalu mencuci kemaluan dengan tangan kiri, setelah itu tangan bekas menggosok kemaluan tersebut digosokan ke bumi.
3. Kemudian berwudhu seperti wudhunya orang yang mau shalat. Boleh mengakhirkan kedua kaki (dalam berwudhu tidak mencuci kaki) sampai mandi selesai baru kemudian mencuci kedua kaki.
4. Membasahi kepala sampai pangkal rambut dengan menyela-nyelanya dengan jari-jemari.
5. Setelah itu menuangkan air di atas kepala sebanyak tiga kali.
6. Kemudian menyiram seluruh tubuh, dimulai dengan bagian kanan tubuh lalu bagian kiri sambil membersihkan kedua ketiak, telinga bagian dalam, pusar dan jari jemari kaki serta menggosok bagian tubuh yang mungkin digosok.
7. Selesai mandi, mencuci kedua kaki bagi yang mengakhirkannya (tidak mencucinya tatkala berwudhu)
8. Membersihkan/mengeringkan air yang ada di badan dengan tangan (dan boleh dengan handuk atau lainnya)

Tata cara mandi seperti di atas sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Dari Aisyah radhiallahu anha, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila dari junub beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu beliau mengambil air dengan tangan kanan kemudian dituangkan di atas tangan kiri (yang) beliau gunakan untuk mencuci kemaluannya. Kemudian beliau berwudhu seperti wudhunya orang yang mau shalat. Selesai itu beliau mengambil air (dan menuangkannya di kepalanya) sambil memasukan jari-jemarinya ke pangkal rambutnya hingga beliau mengetahui bahwasanya beliau telah membersihkan kepalanya dengan tiga siraman (air), kemudian menyiram seluruh badannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan juga hadits : “Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila mandi janabat beliau meminta air, kemudian beliau ambil dengan telapak tangannya dan dan mulai (mencuci) bagian kanan kepalanya lalu bagian kirinya. Setelah itu beliau mengambil air dengan kedua telapak tangannya lalu beliau balikkan (tumpahkan) di atas kepalanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain : “Dari Maimunah radhiallahu anha berkata : “Aku meletakan air untuk mandi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau menuangkan atas kedua tangannya dan mencucinya dua atau tiga kali, lalu beliau menuangkan dengan tangan kanannya atas tangan kirinya dan mencuci kemaluannya (dengan tangan kiri), setelah itu beliau gosokkan tangan (kirinya) ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur, memasukanair ke hidung dan menyemburkannya, lalu mencuci kedua wajah dan kedua tangannya, kemudian mencuci kepalnya tiga kali dan menyiram seluruh badannya. Selesai itu beliau menjauh dari tempat mandinya lalu mencuci kedua kakinya. Berkata Maimunah : Maka aku berikan kepadanya secarik kain akan tetapi beliau tidak menginginkannya dan tetaplah beliau mengeringkan air (yang ada pada badannya) dengan tangannya.” (HR. Al-Jamaah)

Cara mandi di atas adalah cara mandi wajib yang sempurna yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Perlu diketahui bahwa untuk mandi besar ada dua sifat:
1. Mandi sempurna dengan menggunakan cara-cara di atas.
2. Mandi biasa yaitu mandi yang hanya melakukan hal yang wajib saja tanpa melakukan sunnahnya, dallinya keumuman ayat dalam surat yang artinya : “Dan apabila kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (QS. Al-Maidah : 6). Dan juga dalam firman Allah subhanahu wa Taala : “Janganlah kalian dekati mereka (wanita Haid) sampai mereka bersuci (mandi) dan apabila mereka telah mandi….” (QS. Al-Baqarah 222).

Dalam dua ayat di atas Allah subhanahu wa Taala tidak menyebutkan kecuali mandi saja, dan barang siapa telah membasahi seluruh badannya dengan air dengan mandi besar walaupun hanya sekali berarti dia telah suci. Yang demikian juga telah ada keterangan dari hadits shahih dari Aisyah dan Maimunah radhiallahu anhuma, juga hadits Ummu Salamah radhiallahu anha : “Cukuplah bagimu menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuangan , kemudian engkau siram (seluruh badanmu) dengan air, (dengan berbuat demikian) maka sungguh engkau telah bersuci.” (HR. Muslim)

Sebaik-baik teladan adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

(http://www.perpustakaan-islam.com/)

3. Lebih baik mana, syahid di Palestina atau di Indonesia? (XII-IPA 3)

Temanku, coba simak dua hadits berikut ini.

“Barang siapa meninggalkan rumahnya untuk berjihad di jalan Allah, lalu ia mati, atau tertabrak kuda, atau karena disengat serangga beracun, atau mati di atas kasur, atau mati dengan cara apapun yang dikehendaki Allah, maka sesungguhnya ia mati syahid dan baginya syurga.” (HR Abu Dawud, Hakim. Hasan menurut al-Abani)

“Barang siapa minta pada Allah dengan ketulusan hati agar diberi kesempatan mati syahid, maka Allah akan menaikkan tingkatannya ke tingkatan para syuhada, meskipun akhirnya ia mati di atas kasur.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i)

Berdasarkan dua hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tidaklah penting di mana atau dengan cara apa seorang manusia meninggal dunia. Jika ingin mati syahid, kita juga harus meminta pada Allah dengan tulus agar diberikan kesempatan untuk mati syahid. Mati syahid tidaklah harus di medan perang. Yang lebih penting adalah niatan pada saat melakukan segala sesuatu, sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita kembali. Wallahu a’lam bishshowab.

(Al-Hadits)

4. Kalo misalnya kita melakukan sesuatu karena memenuhi keinginan orangtua (misalnya masuk PTN), itu termasuk ikhlas karena Allah gak? (XII-IPA 8)

Mari cermati kembali artikel di bawah ini.

Bersikap Ikhlas

IKHLAS adalah dasar utama yang menyebabkan semua amal ibadah kita diterima dengan baik oleh Allah swt. Oleh karena itu syukur yang tidak didasari dengan ikhlas akan menjadi tertawaan manusia saja, istilah Makassar bikin syukuran tapi ‘gayana ji’.

Sabar yang tidak ikhlas akan menjadi pembicaraan manusia bahwa katanya sabar tapi suka ngedumel, ‘sabbara’ mangittu’ kata orang tua-tua dulu (orang Bugis), demikian pula maaf yang tidak ikhlas akan mengesankan rasa hambar dalam silaturahmi, kata orang Bugis ”Siamak-amakni mingka MAKEMMEH muapi” artinya sudah baikan tapi persahabatannya masih hambar belum seakrab seperti sebelumnya.

Dan Tobat yang tidak dilandasi dengan keikhlasan inilah yang sering orang istilahkan tobatnya tobat ‘tomat’ artinya kalo lagi susah tobatnya sungguh-sungguh tapi kalo lagi senang, bahagia, banyak rezeki eh, penyakitnya ‘kumat’ yaitu ingkar akan janjinya dan enggan beramal baik, kumat kikirnya, kumat malas salatnya, kumat penipunya, datang perbuatan isengnya, kembali jadi koruptor dsb.

Ada tiga cara melaksanakan ikhlas pada setiap aktivitas kita (1) ikhlas dalam berkata, perkataan dan segala yang berkaitan dengan lidah (2) ikhlas dalam hati dan (3) ikhlas dalam aktivitas, perbuatan, pengamalan dan semua ibadah kita kepada Allah swt.

Keempat komponen (1) syukur, (2) sabar, (3) maaf (4) tobat kalau dibuatkan illustrasi adalah bagaikan dinding dari sisi-sisi kubus, syukur dinding sebelah depan, Sabar dinding belakang, maaf dinding sebelah kiri dan tobat dinding sebelah kanan.

Ikhlas sebagai dinding bawah (alas) kubus, sedangkan dinding atas adalah bahagian diri kita yang terbuka kepada Allah swt yang akan diisi oleh Allah swt sesuai amalan dari kelima dinding tersebut.

Andaikan isinya telah ada, namun oleh karena ada salah satu komponen dari kelimanya ‘lemah’ mungkin kurang syukur, atau tidak sabar ataukah enggan memberi maaf atau malas bertobat, maka dinding kubus kita yang lemah ‘terbuka’ maka dapat dibayangkan bagaimana tentang isinya, Insya Allah ‘tumpah’ melalui dinding yang lemah tadi.

Boleh saja tumpah ke depan, ke belakang, ke samping kiri atau kanan. Apatah lagi kalau kelemahan itu lebih dari satu. Namun yang paling rawan jika kelemahan itu ada pada dasar kubus kita (Ikhlas).

Kalau ini yang lemah bagaimana pun kuatnya dinding depan, belakang, kiri atau kanan, tapi tumpah ke bawah dan tak ada yang tersisa karena ’keikhlasan’ kita tidak ada.

Selain artikel di atas, coba simak juga ayat dan hadits berikut ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman/31:14-15)

“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah).” (HR. Ibnu Majah)

Menuntut ilmu adalah salah satu hal yang diperintahkan Allah, dengan demikian, menuntut ilmu merupakan ibadah pada Allah. Membahagiakan orang tua (berbuat baik pada orangtua) juga adalah perintah Allah dan memenuhinya juga bernilai ibadah. Jadi jika kita melakukan sesuatu karena ingin membahagiakan orangtua, asalkan hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat, insya Allah tetap bernilai ikhlas karena Allah.

(Oleh Noer Bahry Noor, PD III FKM Unhas)

5. Bagaimana caranya berda’wah yang baik? (XII-IPA 4)

Dasar-dasar dakwah dan sikap Islam terhadap lawan sesuai firman Allah adalah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl :125)

[845] Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Jika kita ingin berdakwah kepada siapapun, pergunakanlah cara-cara yang baik, sebab siapapun tidak akan menyukai perkataan keras lagi kasar. Namun tetap saja, berdakwah tetap harus menggunakan perkataan-perkataan yang benar. Jangan sampai karena kita ingin membuatnya sedemikian halus, kita menyimpangkannya walaupun sedikit. Dakwah dapat dilakukan dengan bermacam cara. Bisa melalui teladan (tanpa harus berkata-kata), dan bisa pula melalui tukar pikiran (berdiskusi). Perhatikan pula bagaimana karakteristik objek dakwah kita dan pergunakan cara yang kita anggap sesuai dengannya.
Namun, kata Ustadz Hepi Andi Bastoni, redaktur majalah Sabili, yang paling baik adalah dengan keteladanan, terutama apabila objek da’wahnya adalah teman sebaya atau yang lebih tinggi. Seperti yang pernah dicontohkan oleh Hasan dan Husain ketika memberitahu seorang kakek yang salah dalam berwudhu. Mereka menjelaskan secara tidak langsung tentang hal itu sehingga tidak menyinggung perasaan orang tua tersebut.
Wallahu a’lam bishshowab.

(Al Quran Al Karim)

6. Kenapa Allah memakai kata KAMI dalam Al-Qur’an? (XII-IPA 4)

Allah mempergunakan berbagai macam kata ganti untuk menyebutNya dalam Al-Qur’an. Kata ganti yang sering dipergunakan dalam ayat-ayatNya adalah “Aku” dan “Kami”. Pembedaan tersebut terkadang menimbulkan pertanyaan. Allah mempergunakan kata ganti “Kami” untuk memperindah atau memperhalus, mempergunakan majas yang seolah-olah banyak tetapi sebenarnya hanya satu (misalnya majas totem pro parte dalam bahasa Indonesia). Yang dimaksud tetap hanya Allah sendiri, karena Allah Maha Berdiri Sendiri.
“Keagungan adalah sarungKu dan kesombongan adalah pakaian Ku. Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya.” (HR. Muslim)

Kesombongan hanyalah milik Allah. Bagaimanapun, Allah justru mempergunakan kata “Kami” yang (jika dalam bahasa Indonesia) bermaksud memperhalus. Allah saja, yang paling berhak untuk sombong, tidak menyombongkan diri. Maka dari itu, kita sebagai makhlukNya tidak boleh sombong. Wallahu a’lam bishshowab.

7. Kenapa hidup ini aneh, dan orang-orang suka melakukan hal-hal yang aneh? (XII-IPA 4)

Bisa jadi karena kita atau mereka tidak tahu tentang arti hidup. Semua manusia tanpa terkecuali pasti akan mati. Bila demikian, tentu apa yang sebenarnya akan dituju oleh kita di dunia ini? Apakah kita hidup semata-mata hanya untuk bekerja, berumah tangga, bersenang-senang dengan harta yang dimiliki, kemudian kita mati tidak berdaya? Dan apakah setelah mati itu kita akan menguap seperti api obor yang mati? Jika ya, apakah berarti hidup kita di dunia ini sia-sia belaka? Tentu tidak, karena Allah berfirman bahwa manusia akan terus ada dan tidak akan pernah menghilang. Manusia akan menjalani kehidupan abadi di akhirat.
Agar kita lebih tahu tentang arti hidup ini, cobalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini sampai kita menemukan jawabannya:
• Dari mana asalku?
• Hendak ke mana aku menuju?
• Untuk apakah aku diciptakanNya?
• Apa cita-citaku?
• Siapa musuhku?
• Apa senjataku?
• Apakah kompas hidupku?
• Siapakah tokoh idolaku?
• Berapa lama jatah yang diberikanNya padaku untuk tinggal dii dunia?
• Ke manakah aku akan pergi setelah itu?
• Bagaimanakah keadaanku nanti di sana? Makin susah ataukah makin senang?
Dengan mengetahui arti hidup yang sebenarnya, maka keanehan-keanehan di sekitar kita akan menjadi tidak berarti lagi karena lebih banyak hikmah yang bisa diambil dari hal-hal tersebut.

___________________________________________________________________________

Teman-teman sekalian, mungkin jawaban dari kami belum memuaskan, jikalau antum sekalian ingin mendapat jawaban yang lebih pasti ikutlah kajian-kajian Islami serta baca dan kajilah ayat-ayat al-Quran dan Hadits-hadits Rasululloh SAW.

Sekian dulu, kami mohon maaf apabila ada kesalahan. Sesungguhnya yang benar datang dari Alloh SWT dan Rasul-Nya, sedangkan kesalahan dan kekurangan yang ada, hanyalah kebodohan kami. Wllahu ‘alam bish shawab.

Subhaanaka Allahumma wa bihamdika asyhaduanla laa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atubu ilaika. Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

One thought on “Jawaban Pertanyaan Seputar Islam (2-edited)

  1. Ping-balik: Bersuci dari Junub dan Haid | Muda Indonesia News

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.