Studi Kasus Fiqh Prioritas

HUBUNGAN ANTARA FIQH PRIORITAS DAN FIQH PERTIMBANGAN

Contoh kasus:
Pada Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah, baginda Nabi saw yang mulia menerima permintaan orang kafir untuk menghapuskan “basmalah” yang tertulis pada lembar perjanjian, dan sebagai gantinya ditulislah “bismika Allahumma.” Selain itu, beliau juga merelakan untuk menghapuskan sifat kerasulan yang tertulis setelah nama Nabi saw yang mulia “Muhammad Rasulullah” dan cukup hanya dengan menuliskan nama beliau saja “Muhammad bin Abdullah”. Semua itu dilakukan oleh Rasulullah saw untuk mendapatkan ketenangan dan perdamaian di balik itu, sehingga memungkinkannya untuk menyiarkan da’wah Islam, dan mengajak raja-raja di dunia ini untuk memeluk Islam. Tidak diragukan lagi bahwa tindakan Rasulullah saw itu disebut di dalam al-Qur’an al-Karim dengan istilah kemenangan yang nyata (fath mubin).

HUBUNGAN ANTARA FIQH PRIORITAS DAN FIQH TUJUAN SYARI’AH

Contoh kasus:
1. Tidak terlihat alasan yang jelas mengenai pemaksaan pentingnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan sebagaimana yang kita saksikan di setiap tempat pada zaman kita sekarang ini, di kota maupun di desa. Pengeluaran zakat fitrah dalam bentuk makanan bukanlah tujuan satu-satunya, tetapi tujuan sebenarnya ialah mencukupi orang fakir miskin pada hari yang sangat mulia ini agar mereka tidak meminta-minta dan berkeliling menengadahkan tangan kepada orang lain.
2. Tidak terlihat alasan yang jelas juga makna pemaksaan pelemparan jumrah dalam ibadah haji sebelum tergelincirnya matahari, walaupun pada saat itu para jamaah sangat ramai, dan ratusan orang mati terinjak kaki, seperti yang terjadi pada musim haji tahun yang lalu. Di dalam syari’ah agama tidak ditunjukkan bahwa perkara ini merupakan tujuan yang mesti dicapai, tetapi tujuannya ialah mengingat Allah SWT, dan yang diminta ialah yang mempermudah cara pelaksanaan ibadah haji itu, sehingga tidak menyakitkan.

MEMPRIORITASKAN KUALITAS ATAS KUANTITAS

Contoh Kasus:
Memiliki jundi yang sedikit namun memiliki kompetensi yang baik di bidangnya masing-masing, itu lebih baik daripada memiliki jundi yang banyak namun tidak memiliki manfaat sama sekali.
Hal ini dikarenakan, jundi yang berkompetensi akan bergerak dan bekerja sesuai dengan jobdesc-nya masing-masing, sedangkan jundi yang tidak memiliki manfaat hanya akan menjadi beban dakwah saja.
Analogi dari keadaan ini adalah dengan mengibaratkan kapal laut sebagai sebuah organisasi dakwah. Awak kapal sedikit namun semuanya bisa mendayung, akan membuat kapal tersebut melaju kea rah tujuannya. Sedangkan awak kapal yang banyak namun tidak memiliki manfaat sama sekali, justru akan menenggelamkan kapal tersebut karena bebannya sendiri.

PRIORITAS ILMU ATAS AMAL

PRIORITAS ILMU ATAS AMAL

Contoh kasus:
Adalah seperti saat ini, ketika kita dihadapkan kepada dua hal: ikut dauroh atau ikut kepanitiaan. Jika kita tidak tahu sama sekali, baik secara pengetahuan (teori) maupun pengalaman (praktek), sebaiknya kita memilih untuk mengikuti dauroh. Karena pada dasarnya, kita akan lebih bisa beramal dengan berkualitas jika kita telah memiliki ilmu tentang amal tersebut.

PRIORITAS PEMAHAMAN ATAS HAFALAN

Contoh kasus:
Dalam dunia perkuliahan, mahasiswa yang hanya hafal bahan-bahan kuliah, bisa saja hanya akan lebih sukses ketika ujian. Akan tetapi,mahasiswa yang paham akan bahan kuliahnya, bisa jadi akan lebih sukses setelah lulus dan mampu mengaplikasikan pemahamannya tersebut.
Begitu juga dalam dakwah. Orang akan lebih tergerak jika memahami dan memaknai ayat-ayat tentang jihad daripada hanya hafal saja.

PRIORITAS MAKSUD DAN TUJUAN ATAS PENAMPILAN LUAR

Contoh kasus:
1. Tidak terlihat alasan yang jelas mengenai makna pemaksaan pelemparan jumrah dalam ibadah haji sebelum tergelincirnya matahari, walaupun pada saat itu para jamaah sangat ramai, dan ratusan orang mati terinjak kaki, seperti yang terjadi pada musim haji tahun yang lalu. Di dalam syari’ah agama tidak ditunjukkan bahwa perkara ini merupakan tujuan yang mesti dicapai, tetapi tujuannya ialah mengingat Allah SWT, dan yang diminta ialah yang mempermudah cara pelaksanaan ibadah haji itu, sehingga tidak menyakitkan.
2. Tidak terlihat alasan yang jelas juga mengenai pemaksaan pentingnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan sebagaimana yang kita saksikan di setiap tempat pada zaman kita sekarang ini, di kota maupun di desa. Pengeluaran zakat fitrah dalam bentuk makanan bukanlah tujuan satu-satunya, tetapi tujuan sebenarnya ialah mencukupi orang fakir miskin pada hari yang sangat mulia ini agar mereka tidak meminta-minta dan berkeliling menengadahkan tangan kepada orang lain.

PRIORITAS STUDI DAN PERENCANAAN PADA URUSAN DUNIA

Contoh kasus:
Ketika berbisnis, sebaiknya kita melakukan survey dan membuat strategi-strategi tertentu agar bisnis yang kita lakukan dapat menghasilkan keuntungan yang optimal.
Misal ketika zaman wild-wild west yang sedang trend menggali emas, karena pada saat itu orang menganggap penggali emas adalah pekerjaan yang dapat membuat orang menjadi kaya. Akan tetapi, ternyata yang paling kaya bukanlah penggali emas, melainkan penjual celana jins dan sekop. Karena di saat semua orang ikut-ikutan menggali emas, mereka tiba-tiba mempunyai kebutuhan yang sama yaitu celana jins dan sekop. Jadi, pada saat itu, orang-orang yang dapat melihat peluang bisnis tersebut, akan menjual celana jins dan sekop dan tidak ikut-ikutan menjadi penggali emas.

PRIORITAS DALAM BIDANG FATWA DAN DAKWAH

MEMPRIORITASKAN PERSOALAN YANG RINGAN DAN MUDAH ATAS PERSOALAN YANG BERAT DAN SULIT

Contoh kasus:
1. Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa dia melihat Rasulullah saw sedang dalam suatu perjalanan, kemudian beliau menyaksikan orang ramai mengerumuni seorang lelaki yang dipayungi, kemudian beliau bersabda, “Apa ini?” Mereka menjawab: “Dia berpuasa.” Beliau kemudian bersabda, “Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.”5 Yakni di dalam perjalanan yang amat menyulitkan ini.
Dan jika perjalanan itu tidak menyulitkan, maka dia boleh melakukan puasa; berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa Hamzah bin Amr al-Aslami pernah berkata kepada Nabi saw: “Apakah aku boleh puasa dalam perjalanan?” Hamzah adalah orang yang sering melaksanakan puasa. Karenanya Nabi saw bersabda, “Jika kamu mau, maka berpuasalah, dan jika kamu mau berbukalah.”6
Khalifah Umar bin Abd al-Aziz pernah berkata mengenai puasa dan berbuka di dalam perjalanan, juga tentang perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan fuqaha, manakah di antara kedua hal itu yang paling baik. Dia berkata, “Yang paling baik ialah yang paling mudah di antara keduanya.” Hal ini merupakan pendapat yang boleh diterima. Di antara manusia ada yang melaksanakan puasa itu lebih mudah daripada dia harus membayar hutang puasa itu ketika orang-orang sedang tidak berpuasa s emua. Tetapi ada orang yang berlawanan dengan itu. Oleh karena itu, yang paling mudah adalah menjadi sesuatu yang paling baik.
2. Nabi saw menganjurkan umatnya untuk bersegera melakukan buka puasa dan mengakhirkan sahur, dengan tujuan untuk memberi kemudahan kepada orang yang melaksanakan puasa.
3. Sahabat sekaligus pembantu beliau, Anas r.a., berkata, “Aku tidak pernah shalat di belakang imam satu kalipun yang lebih ringan, dan lebih sempurna shalatnya dibandingkan dengan Nabi saw. Jika beliau mendengarkan suara tangisan anak kecil, beliau meringankan shalat itu, karena khawatir ibu anak itu akan terkena fitnah.” 11

PENGAKUAN TERHADAP KONDISI DARURAT

Contoh kasus:
Sunnah Nabi saw yang memperbolehkan penggunaan sutera bagi kaum lelaki setelah beliau mengharamkannya untuk mereka. Yaitu riwayat yang mengatakan bahwasanya Abdurrahman bin ‘Auf dan Zubair bin ‘Awwam sama-sama mengadukan hal mereka kepada Nabi saw bahwa mereka terserang penyakit gatal, kemudian Rasulullah saw mengizinkan mereka untuk memakai pakaian terbuat dari sutera karena adanya kasus tersebut.

MENGUBAH FATWA KARENA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT

Contoh kasus:
1. Pendapat mengenai pembagian dunia kepada Dar Islam dan Dar Harb. Yaitu suatu konsep yang pada dasarnya menganggap hubungan kaum Muslimin dengan orang bukan Muslim adalah peperangan, dan sesungguhnya perjuangan itu hukumnya fardhu kifayat atas umat… dan lain-lain.
Pada kenyataannya, sebetulnya pendapat-pendapat seperti itu tidak sesuai untuk zaman kita sekarang ini, di samping tidak ada nash hukum Islam yang mendukung terhadap pendapat tersebut; bahkan yang ada adalah nash-nash yang menentangnya.
Islam sangat menganjurkan perkenalan sesama manusia, antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, secara menyeluruh: “… dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…” (al-Hujurat: 13)
Islam juga menganggap perdamaian dan pencegahan terhadap terjadinya peperangan sebagai suatu kenikmatan. Setelah terjadinya Perang Khandaq, Allah SWT berfirman:
“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejenglelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan…” (al-Ahzab: 25)
Peperangan yang disyariatkan oleh Islam pada zaman-zaman dahulu memiliki suatu tujuan yang jelas. Yaitu, menyingkirkan.

MENJAGA SUNNAH PENTAHAPAN (MARHALAH) DALAM DA’WAH

Contoh kasus:
Ketika pengharaman khamar, yang penetapan hukumnya dilakukan secara
bertahap.
2. Kalau kita hendak mendirikan “masyarakat Islam yang hakiki”, maka kita jangan berangan-angan bahwa hal itu akan dapat terwujud hanya dengan tulisan, atau dikeluarkannya keputusan dari seorang raja, presiden, atau ketetapan dewan perwakilan rakyat (parlemen)…
Pendirian masyarakat Islam akan terwujud melalui usaha secara bertahap; yakni dengan mempersiapkan rancangan pemikiran, kejiwaan, moralitas, dan masyarakat itu sendiri, serta menciptakan hukum alternatif sebagai ganti hukum lama yang berlaku pada kondisi tidak benar yang telah berlangsung lama.
Pentahapan ini tidak berarti hanya sekadar mengulur-ulur dan menunda pelaksanaannya, serta mempergunakan pentahapan sebagai ‘racun’ untuk mematikan pemikiran masyarakat yang terus-menerus hendak menjalankan hukum Allah dan menerapkan syariat-Nya; tetapi pentahapan di sini ialah penetapan tujuan, pembuatan perencanaan, dan periodisasi, dengan penuh kesadaran dan kejujuran; di mana setiap periode merupakan landasan bagi periode berikutnya secara terencana dan teratur, sehingga perjalanan itu dapat sampai kepada tujuan akhirnya… yaitu berdirinya masyarakat Islam yang menyeluruh.

MELURUSKAN BUDAYA KAUM MUSLIMIN

Contoh kasus:
1. Di lembaga-lembaga pendidikan agama, universitas dan fakultas-fakultas keagamaan, banyak sekali pelajaran yang menghabiskan tenaga dan waktu para pelajar untuk melakukan kajian terhadap hal itu. Padahal separuh atau seperempat waktu yang dipergunakan untuk itu sebetulnya dapat mereka pergunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi agama dan dunia mereka.
Saya dapat menyebutkan, misalnya pada fakultas Usuluddin, kita mengkaji kitab al-Mawaqif karangan al-Iji, berikut syarah-nya yang ditulis oleh al-Jurjani beberapa paragraf –dan bukan beberapa bab– yang berkaitan dengan al-thabi’iyyat dalam buku itu; atau bab al-Muqaddimat. Dalam kasus ini kita sangat lamban memahami dan mencerna kandungan buku itu, dan guru kita juga lamban dalam memberikan penjelasan dan pemecahan hal-hal yang rumit dan mengungkapkan muatan maknanya.
Misalnya waktu itu kita pergunakan untuk mengikuti perkembangan aliran filsafat modern dan memberikan
tanggapannya yang ilmiah dan obyektif, atau mengikuti sumber rujukan dasar dan syarah para imam besar, atau menggali pemikiran dan pemahaman yang orisinal dalam kajian pembaruan di dalam Islam, maka insya Allah banyak kebaikan dan manfaat yang kita peroleh darinya.
2. Kita mesti memperhatikan peradaban yang hendak kita berikan kepada kaum Muslimin, dan pentingnya menciptakan variasi terhadap peradaban tersebut. Dan harus dibedakan peradaban yang diberikan kepada orang yang terdidik dan masyarakat awam yang terdiri atas para buruh, petani, dan lain-lain.
Kebanyakan para juru da’wah dan para guru –serta kebanyakan para penulis– hanya mengisi otak masyarakat dengan pemikiran dan pengetahuan agama yang diulang-ulang, dan dihafal, yang tidak didukung dengan dalil yang diturunkan oleh Allah SWT serta dalil-dalil hukum agama. Mereka hanya menyampaikan tafsir Israiliyat, dan hadis-hadis lemah dan maudhu, yang tidak ada sumbernya.

UKURAN YANG BENAR: PERHATIAN TERHADAP ISU-ISU YANG DISOROT OLEH AL-QUR’AN

Contoh kasus:
1. Keimanan kepada Allah SWT, kepada para nabi-Nya, hari akhirat, pahala dan siksaan, surga dan neraka.
2. Pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi.
3. Pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.
4. Kita juga perlu mengetahui isu-isu yang tidak begitu diberi perhatian oleh Islam kecuali sangat sedikit, misalnya masalah Isra’ Nabi saw.

One thought on “Studi Kasus Fiqh Prioritas

  1. right, teori tanpa praktek g kan ad artinya. mk aplikasi itu penting. jgn hanya terpaku pada simbol2 tp apa arti dari simbol tersebut or apa esensi dari suatu ibadah………

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.