Kerinduan akan Kejayaan

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa Ibnu Umar r.a pernah menemui Aisyah r.a, dan berkata, “Wahai Aisyah , izinkanlah kami disini sejenak dan ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari diri nabi!”. Aisyah menarik nafas panjang , kemudian terisak haru menahan tangis, ia pun berkata dengan suara lirih, “Semua perilakunya menakjubkan bagiku. Suatu malam, ketika beliau tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata “Ya Aisyah, izinkanlah aku beribadah kepada Tuhanku”, aku menjawab, “Sesungguhnya aku senang merapat denganmu, tetapi aku juga senang melihatmu beribadah kepada Tuhanmu.” Beliau bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar ia terisak-isak menangis hingga air matanya membasahi janggut. Dia lalu bersujud dan menangis hingga lantai pun basah oleh air matanya. Dia lalu berbaring dan menangis hingga datanglah Bilal untuk memberitahukan datangnya subuh.”

Sungguh cerita yang begitu menyentuh.
Seorang yang ma’shum, seorang Nabi, seorang kekasih Allah, seorang yang telah dijamin surga kepadanya, masih saja ingin beribadah kepada Tuhannya.
Alasannya cuma satu, SYUKUR.
Ya, sesimpel itu… hanya ingin bersyukur…
Ibadahnya merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada-Nya.

Terselip sebuah hikmah, untuk beribadah saja pun seorang suami harus minta izin ke istri. Ehm, yang ini nanti saja diteruskannya… ^^

Konon, beliau menangis hingga air matanya membasahi janggut sampai subuh tiba, dikarenakan turunnya sebuah ayat yang menceritakan pergantian siang dan malam.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. ‘Ali Imran: 190)

*punteun, saya lupa ayatnya yang mana. soalnya banyak banget ayat tentang pegantian siang dan malam. tapi, kayaknya sih yang ini*

Nah, pertanyaannya: kenapa beliau menangis karena ayat tersebut?

Seorang ustadz pernah bercerita kepada saya tentang hal ini.
Kata beliau, dengan bergantinya siang dan malam, itu menandakan semuanya akan dipergilirkan.
Termasuk kejayaan Islam ketika masa beliau.
Beliau sadar bahwa kelak Islam akan jatuh dan dunia akan kembali seperti sedia kala sebelum diutusnya beliau.

Kawan, itulah yang Nabi kita rasakan di zamannya.
Namun kini, dunia Islam memang sedang terpuruk.
Ingat sunnatullah yang tadi kita tangkap dari peristiwa Sang Nabi.
Ya, inilah yang sesungguhnya ingin saya sampaikan.

Bahwa kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi, tetapi sebuah janji Allah yang pasti terjadi!

Kita sedang menuju ke arah sana.
Kerja-kerja kita adalah sebuah perjalanan panjang untuk tegaknya Islam di bumi ini.
Kawan, marilah kita bersama-sama menyumbangkan batu bata untuk bangunan Islam kelak.

Ketika lelah membuat kita berhenti. Ishbiru! Dan terus bergerak.
Karena pilihannya adalah: bergerak atau tergantikan.
Dakwah bagaikan gerbong kereta api: ada atau tidaknya kita disana, kereta akan tetap berangkat menuju tujuannya.
Yakinlah, tujuannya adalah pertemuan dengan Yang Mahaindah di tempat yang terindah.

Dan ketika kemenangan itu kita raih. Fasabbih!
Sucikanlah Rabb kita.
Pujilah Rabb kita.
Memohon ampunlah pada-Nya.
Kemenangan itu, kita raih karena janji dan kehendak-Nya.
Bukan karena usaha kita semata-mata.

“ummat menanti bukti apakah ketika urusan diserahkan pada syari’at dan orang shalih kehidupan mereka akan menjadi lebih baik”
(Ust. Hilmi)

Allahu’alam

One thought on “Kerinduan akan Kejayaan

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.