Arsitek dan Peradaban (part 2)


Review Perancangan Tapak

1. Penggunaan material alam sangat direkomendasikan untuk dipakai karena akan lebih bersahabat kepada penggunaannya.
Di sinilah terungkapkan bahwa ada perbedaan yang cukup besar antara material alam dengan material buatan manusia.
Material alam yang merupakan karya Tuhan tidak meradiasikan panas dan tidak merefleksikan cahaya.
Contoh: daun pada pepohonan. Kita akan merasa sejuk berada di bawahnya. Berbeda dengan tenda ataupun material buatan manusia lainnya. Kita akan tetap merasa panas dan tidak nyaman.
Aplikasinya dalam berarsitektur, misalnya penggunaan cobbale stone pada bak kontrol.
Selain dapat menyerap air, cobbale stone ini bisa ditumbuhi rumput. Dan rumput itulah yang membawa ‘ruh’ pada bak kontrol. Sehingga space berubah menjadi place.
Space adalah ruang yang belum punya makna. Place adalah space yang telah memiliki kehidupan di dalamnya.
Contoh lainnya, penggunaan kayu dan rumput atau kayu dan pasir pada tangga atau amphitheater.
Intinya, seorang arsitek sebaiknya mendesain dengan menggunakan prinsip ekologi dan tidak melulu menggunakan hardscape.

2. Hal tersebut terlihat pada arsitektur di Eropa.
Tata letak kota yang kompak, padat, koridor sempit, plaza besar, menghargai kehijauan, dll.
Ruang di Eropa tidak rectangular dan tidak grid, tetapi lebih mengikuti kontur.
Bila ada kemiringan pada lahan, tidak diratakan tetapi diikuti.
Bahkan ada bangunan yang disengaja dibuat miring, yaitu Museum Guggenheim di New York, karya arsitek Frank Lloyd Wright.
Ada juga Spacio Temporal, yaitu ruang yang selalu berubah tergantung waktunya.
Manusia senang dengan pengalaman ruang yang kaya, oleh karena itu banyak tempat yang memiliki koridor sempit kemudian bertemu dengan plaza yang besar.
Baca lebih lanjut