Koridor Utama Kota Baru Parahyangan

“Percayalah, bahwa di ujung jalan ini, sepanjang apapun, semendaki apapun, dan sesukar apapun, ujungnya adalah pertemuan dengan Yang Mahaindah di Tempat yang terindah.”

Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan sebuah kisah perjalanan menuju sebuah plaza di kota baru Parahyangan.

Perjalanan ini bermula ketika saya menapaki sebuah koridor panjang, yang awalnya adalah gerbang utama dan ujungnya belum saya kunjungi, bisa menjadi suatu perenungan yang baik bagi saya.

Perjalanan adalah pekerjaan yang menyenangkan. Menikmati jalanan yang dilalui memiliki banyak manfaat, walaupun biasanya hal tersebut tanpa kita sadari telah kita rasakan. Dalam masa yang panjang dalam mengarungi koridor ini, ada sebuah perenungan yang dapat saya lakukan.

Sengaja saya analogikan bahwa koridor ini adalah rentang hidup seorang insan. Menurut saya, koridor kota baru Parahyangan ini agak berbeda dengan koridor-koridor lainnya. Biasanya, koridor pada umumnya lebih mengutamakan kenyamanan fisikal: pohon yang rindang untuk melindungi dari teriknya sang mentari, adanya sedikit ruang untuk berteduh di kala sang hujan tumpah, dll. Sedangkan pada koridor di kota baru ini lebih memanjakan visual para penggunanya.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah adanya asumsi bahwa yang akan berada di koridor ini hanyalah para pengguna mobil dengan pengondisian udara di dalamnya, sehingga rancangan koridor ini lebih menekankan kepada visualnya. Hal ini menjadikan indah pada pandangan mata saja, sedangkan secara fisik desain koridor belum bisa membuat suatu kenyamanan yang dapat dirasakan oleh para pejalan kaki.

Penempatan tanaman yang jenis Arecaceae di bagian tengah (sebagai pembatas di kedua jalur mobil) dan di jalur pedestrian, kurang cukup menaungi setiap pejalan kaki. Seperti yang telah saya sebutkan pada paragraf sebelumnya, bahwa tanaman ini memang akan mempercantik panorama di depan mata. Namun, tidak cukup solutif ketika diharuskan berjalan kaki ketika siang hari atau ketika hujan. Jadi, akan lebih baik jika ada pohon yang berfungsi sebagai kanopi.

Ditambah lagi, ruang yang diberikan bagi pejalan kaki sungguh kontras jika dibandingkan dengan jalur mobil. Kesan lebih mementingkan pengguna mobil semakin terlihat jelas. Seharusnya akan lebih baik ketika pejalan kaki lebih diapresiasi karena telah membantu menghemat bahan bakar fosil. Seperti yang dilakukan oleh walikota Bogota. Lepas dari itu, jalan yang sempit justru membuat perenungan saya bertambah menarik.

Saya membayangkan sebuah perjalanan jauh, lagi panjang, sukar, dan mendaki, yang ujungnya belum pernah saya kunjungi tetapi berita mengenainya sungguh telah memacu semangat saya untuk menggapainya. Jalanan yang sempit, terik, diselingi badai, mendaki, dan berkelok. Namun, saya yakin bahwa di ujung jalan ini ada sesuatu yang indah menunggu. Begitulah seharusnya kita memaknai hidup. Tak selamanya jalan hidup tanpa hambatan. Ada ujian yang datang melanda, ada perangkap menunggu mangsa.

Perlu kita sadari bahwa jalan kebenaran, selalu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, mengharapkan sebuah kesenangan dalam perjuangan untuk menggapai cita, tiada beda dengan merindu rembulan di tengah siang. Karena jalannya tidaklah seindah sentuhan mata: pangkalnya jauh ujungnya belum tiba.

Lalu, pertanyaannya adalah: Akan kuatkah kaki yang melangkah, bila disapa duri yang menanti? Akankah luka mata yang menatap, pada debu yang pasti ‘kan hinggap?

Ternyata, halangan yang menyapa di jalan tidak hanya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan, tetapi juga hal-hal yang menyenangkan. Hanya saja, hal-hal yang menyenangkan tersebut justru melenakan dan membuat kita lupa akan tujuan di awal perjalanan, sehingga bisa saja tersesat.

Sama seperti analogi di atas, koridor utama kota baru Parahyangan pun memiliki godaan. Pemandangan yang disajikan di sekitar koridor sungguh indah dan bisa saja mengalihkan tujuan utama kita menuju plaza yang ingin kita kunjungi.

Selama menikmati perjalanan panjang di koridor utama, saya menemukan beberapa hal yang menarik perhatian saya. Walaupun lebih banyak rasa sepi yang hinggap sehingga saya lebih berkesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar sembari melirihkan segala pujian kepada Sang Maha Pencipta, namun ternyata masih ada geliat hidup di sepanjang pedestrian koridor ini.

Lihat saja, ada permainan alam di sana. Palem yang melambai-lambai diterpa sang bayu menimbulkan gemerisik lirih bak orkestra alam dengan harmoninya sungguh anggun. Rerumputan yang hijau bermandikan cahaya sang surya. Mereka riang menyambung hidup dengan men-sintesis sinar matahari, menghasilkan energi bagi dirinya untuk bisa bertahan saat petang menjelang, sekaligus melepaskan O2 untuk penghidupan makhluk lainnya. Bahkan sebuah tanaman mungil pun punya kepedulian terhadap selainnya. Mereka berkontribusi terhadap permasalahan yang terjadi di ekosistemnya. Maka berpendarlah mereka dengan cahya kebaikan. Sungguh kontras dengan fitrah manusia yang cenderung untuk merusak dan menumpahkan darah padahal diberi anugerah berupa akal yang tidak diberikan kepada makhluk biotik lainnya.

Tidak sampai di situ saja, karena ternyata rerumputan dan semua Plantae yang ada, serta tanah yang berkontur, mengajak manusia untuk bermain-main dengan mereka. Walaupun buruknya perangai manusia, sempitnya nafsu manusia, kerasnya hati manusia, dan kotornya tangan manusia, tetap saja mereka mengundang manusia untuk menghadiri pesta kecilnya itu. Mungkin bukan pesta, melainkan syukuran atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.

Mereka membiarkan manusia untuk menikmati setiap jenak-jenak yang telah mereka alami. Mengumpulkan lelah-lelahnya untuk dijadikan energi baru dalam menyongsong perjalanan selanjutnya. Membiarkan rasa lelah itu, lelah mengejar mereka. Tak memperdulikan rasa jenuh dalam menghadapi tantangan dan ujian hidup menuju impiannya. Asalkan sungguh-sungguh, pastinya akan ada jalan keluar menuju kesana dan itu akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dan akhirnya, cahya tembaga bersemburat di barat kala mentari jelang peraduannya. Rona merah memerah dan memudar, kegelapan pun menumpah Bumi. Sang nokturnal pun lantang bernyanyi mengharu malam, maka terhalaulah rasa sunyi mencekam. Merdu berlagu, menyeruak kelam, hingga keremangan malam pun terusik olehnya. Suatu simfoni malam.

Ada hal di dunia ini yang hanya kita temui ketika malam hari, yaitu: cahaya lampu. Sorot lampu jalanan yang kita temui sepanjang koridor utama ini menimbulkan nuansa romantis namun sendu, juga menimbulkan sensasi menyenangkan namun haru, serta mencampur aduk rasa suka dan duka dalam mengarungi jalan yang terbentang di depan mata.

Hanya saja cukup mengkhawatirkan jika berjalan sendirian di sini. Seolah ada mata yang mengintai dan mengancam keselamatan diri.

Perjalanan pun berlanjut. Tak peduli waktu apa yang berjalan dan musim apa yang berganti. Yang pasti, sudah tak sabar untuk segera tercapai mimpi-mimpi yang dirajut sebelum perjalanan. Ada rindu yang terselip diantara peluh ini. Ada semangat yang membuncah dalam dada untuk memenuhi dahaga kerinduan ini.

Ya, pertemuan dengan Yang Mahaindah itu.

One thought on “Koridor Utama Kota Baru Parahyangan

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.