Plaza Bale Pare Kota Baru Parahyangan

“Suatu kepuasan yang tercipta dalam bermimpi bukanlah ketika kita memimpikan suatu hal yang besar, melainkan ketika kita menggapai mimpi tersebut setelah perjuangan yang melelahkan.”

Perjalanan itu pun berakhir. Tujuan sudah terlihat dan kita akan segera menemuinya.

Memasuki sebuah area yang bernama Bale Pare, kita akan disambut dengan kemegahan sebuah tatanan vegetasi dan hardscape yang melingkar. Komposisnya menguatkan kesan radial yang memang sengaja dibentuk dalam sebuah desain terpadu. Poros dari semua ini adalah bundaran mungil yang ditumbuhi tanaman hias berbunga jingga.

Arsiteknya memainkan irama yang ketukannya harmonis. Repetisi yang dibentukkan oleh paving block dua warna, menghadirkan rasa nyaman secara visual, karena pada dasarnya manusia menyukai sesuatu yang berulang. Hal ini membuat informasi yang diterimanya lebih melekat dengan baik.

Tetapi juga perlu disadari bahwa sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Begitu juga dalam arsitektur, pengulangan yang berlebihan akan menimbulkan kesan biasa dan membosankan.

Di antara itu semua, ada hal yang kurang saya sukai, yaitu adanya menara di kanan-kiri tulisan Bale Pare tanpa kejelasan fungsinya. Padahal bisa saja digunakan untuk pos satpam. Ditambah lagi tidak adanya akses menuju puncak menara tersebut.

Untungnya hal tersebut tidak terjadi di entrance Bale Pare ini. Perpaduan material buatan Tuhan dan buatan manusia yang ada, cukup baik terlihat. Peralihannya pun cukup bertahap. Berawal dari rerumputan berwarna hijau, kemudian beralih menjadi bebatuan alam yang memiliki satu khrom, dan diakhiri menjadi paving block hasil pabrikasi dengan warna dan pola yang lebih beragam dan menarik.

Kesan yang didapat adalah sebuah jamuan yang ramah, mempersilakan para pendatang untuk melihat-lihat ke dalam Bale Pare dan menikmati keindahan lainnya di sana, diam-diam mereka memberi isyarat bahwa selanjutnya akan ada yang lebih menakjubkan menanti kita.

Setelah hal yang sangat homy di atas kita nikmati, sambutan kedua adalah kolom-kolom kokoh yang menyangga pergola di atasnya. Yang menarik adalah pemberian warna hijau pada kolom ini berupa tumbuhan yang disengaja dan diundang untuk merambat disekitar kolom tersebut. Kolom-kolom itu sendiri memakai material batu alam yang monochrome.

Hal tersebut mengingatkan saya kepada gerbang utama kampus tercinta, kampus gajah duduk tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun terakhir ini, Institut Teknologi Bandung. Hanya saja yang ini lebih spektakuler. Betapa tidak, kolom batu yang menjadi ciri khas utama bangunan di ITB diberi warna ungu bunga Bougenville atau biasa disebut juga Bunga Kertas. Uniknya bunga ini akan mekar hanya ketika tahun ajaran baru dimulai, seolah menyambut mahasiswa baru dengan suka cita dan mendoakan kesuksesan untuk mereka semua. Semoga bisa menjadi bagian solusi dari begitu banyaknya permasalahan yang dapat kita temui di negara ini. Ya, kitalah harapan bangsa ini.

Kembali ke Bale Pare. Desain yang ditetapkan untuk pergola ini sangat baik. Air hasil jatuhan dari pergola, dibiarkan meresap ke tanah dengan tidak menutupinya dengan perkerasan buatan. Akan tetapi, penempatan pot tanaman diantaranya merupakan kejanggalan bagi saya. Pot memisahkan tanaman yang ada dengan komunitas hidup lainnya. Dia akan menciptakan ekosistem tersendiri yang terpisah dan tidak terintegrasi dengan ekosistem alami.

“Ah, pasti bukan sang arsitek yang menaruhnya di situ.” begitu pikirku sembari lempang berjalan melewatinya.

Lalu, apa yang kudapatkan? Sebuah pemandangan binaan yang luar biasa! Bayangkanlah sebuah panggung besar yang dihadapkan pada sebuah plaza nan teduh dan hijau. Terbayar sudah perjuangan yang dilalui untuk menuju kesini. Hilang sudah semua lelah itu. Perasaan nyaman dan damai merasuk ke dalam qalbu. Dia mendesir indah dan meresonansikan getar cinta kepada Sang Mahakuasa.

Plaza ini tidak terlalu besar. Ada rerumputan. Ada tetumbuhan. Ada pohon besar. Ada tempat duduk-duduk. Ada tenda kecil untuk makan. Disekitarnya adalah bangunan dengan fungsi kantor dan layanan. Material yang mendominasi adalah bebatuan alam dan vegetasi hijau yang dibiarkan tumbuh secara natural.

Rasakanlah nuansa yang telah dibuatnya. Keteduhannya. Kenyamanannya. Keramahannya. Membuat ingin terus ada di sini dan meninggalkan kepenatan di luar sana. Bayangkan juga betapa rukunnya setiap organisme yang berkumpul dalam plaza ini. Tidak ada yang menonjol sendiri, semuanya terlihat sama. Memang berbeda-beda, tetapi semua setara. Tidak ada yang ingin menang sendiri, tidak ada yang ingin hebat sendiri, tidak ada yang menyakiti yang lainnya. Di sini yang ada hanyalah saling melengkapi satu sama lain.

Ingin sekali tatanan yang seperti ini terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Semuanya hidup saling menghormati, saling menghargai, saling mengapresiasi.

Bahkan perlakuan yang sama diberikan juga kepada air. Air memang benda mati, tetapi sangat esensial. Tanpa air, semua keteduhan, kenyamanyan, dan keramahan yang ada di plaza ini akan mati begitu saja. Tragis. Sekali lagi, padahal air sendiri adalah benda mati dan sering disia-siakan oleh manusia.

Desain plaza ini menjadikan air begitu spesial. Kemanfaatan air digunakan dengan cara meresapkannya ke tanah. Air dari atap dijatuhkan melalui pipa yang ada ditanam di dalam kolom atau dialirkan secara perlahan melalui rantai yang digantung. Kemudian, ketika mencapai Bumi, tanah yang menerima air tidak diekspos, tetapi ditutupi dengan bebatuan alam sehingga terjadi keselarasan nada dengan material di sekitarnya.

Tak terasa hari berganti malam dan matahari terganti oleh rembulan.

Suasana malam yang menyelimuti Bale Pare meredamkan setiap amarah yang bergejolak, menyejukkan hati yang sedang panas, dan meneduhkan pikiran yang kepenatan. Semuanya menjadi lebih rileks. Inilah buah dari benih-benih impian yang kita tanam dalam perjuangan melawan koridor yang tidak nyaman. Tuhan Mahaadil. Memberikan dua kemudahan untuk mendampingi setiap kesulitan yang ditemui.

Namun, suasana seperti ini memang harus dibayar mahal. Ada suatu harga yang harus dikeluarkan dengan lebih banyak. Ini dikarenakan banyaknya penggunaan lampu untuk mengondisikan suasana di plaza ini. Keremangan romantis yang ingin dibentuk membuat lampu dimasukan ke dalam kaca yang menyerap sebagian cahayanya. Walaupun energi yang dikeluarkan sama, tetapi cahaya yang diterima berbeda, berarti ada energi yang terbuang.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.