Perubahan Iklim dan Peran Arsitektur

Saat ini orang sedang ramai membicarakan perubahan iklim yang ditandai dengan pemanasan yang terjadi secara global. Sebelum kesana, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui definisi iklim.

Iklim adalah rata-rata dan variasi temperatur, penguapan, presipitasi dan angin selama periode tertentu yang berkisar dalam hitungan bulan hingga jutaan tahun. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh kesetimbangan panas di bumi. Aliran panas dalam sistem iklim di bumi bekerja karena adanya radiasi. Sumber utama radiasi di bumi adalah matahari.

Dari seluruh radiasi matahari yang menuju ke permukaan bumi, sepertiganya dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan oleh permukaan bumi. Pemantulan oleh atmosfer terjadi karena adanya awan dan partikel yang disebut aerosol. Keberadaan salju, es, dan gurun memainkan peranan penting dalam memantulkan kembali radiasi matahari yang sampai di permukaan bumi.

Dua per tiga radiasi yang tidak dipantulkan, besarnya sekitar 240 Watt/m2, diserap oleh permukaan bumi dan atmosfer. Untuk menjaga kesetimbangan panas, bumi memancarkan kembali panas yang diserap tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek. Sebagian radiasi gelombang pendek yang dipancarkan oleh bumi diserap oleh gas-gas tertentu di dalam atmosfer yang disebut gas rumah kaca. Selanjutnya gas rumah kaca meradiasikan kembali panas tersebut ke bumi. Mekanisme ini disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan suhu bumi relatif hangat dengan rata-rata 14oC, tanpa efek rumah kaca suhu bumi hanya sekitar -19oC.

Sebagian kecil panas yang ada di bumi, yang disebut panas laten, digunakan untuk menguapkan air. Panas laten ini dilepaskan kembali ketika uap air terkondensasi di awan.

Kemudian, marilah kita melangkah kepada definisi pemanasan global. Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer di dekat permukaan bumi dan laut selama beberapa dekade terakhir dan proyeksi untuk beberapa waktu yang akan datang.

Pengamatan selama 157 tahun terakhir menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi mengalami peningkatan sebesar 0,05oC/dekade. Selama 25 tahun terakhir peningkatan suhu semakin tajam, yaitu sebesar 0,18oC/dekade. Gejala pemanasan juga terlihat dari meingkatnya suhu lautan, naiknya permukaan laut, pencairan es dan berkurangnya salju di belahan bumi utara.

Pemanasan global terjadi akibat dari peningkatan efek rumah kaca yang disebebakan oleh naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin tinggi konsentrasi gas rumah kaca maka semakin banyak radiasi panas dari bumi yang terperangkap di atmosfer dan dipancarkan kembali ke bumi. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi. Peningkatan suhu iklim juga bisa dikarenakan peningkatan radiasi matahari, namun efeknya relatif sangat kecil.

Lalu, bagaimana pengaruh yang berasal dari dunia arsitektur terhadap perubahan iklim dan pemanasan global ini? Sebuah sumber menyebutkan bahwa konsumsi listrik di Amerika Serikat, paling banyak digunakan oleh produk arsitektur. Jika kita berasumsi bahwa Amerika Serikat menjadi representasi keadaan dunia, itu berarti data ini menunjukkan bahwa salah satu produk arsitektur (yaitu bangunan) adalah penyerap listrik terbesar di dunia.

Begitu juga dengan konsumsi energi di Amerika Serikat. Pada kasus ini, Arsitektur berada pada wilayah:
1. Residential
space heating, water heating, lighting, air conditioning, refrigeration, electronics, dan wet-clean (mostly clothes dryers)
2. Commercial
lighting, heating, cooling, refrigeration, water heating, ventilation, dan electronics
Data diperoleh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Energy_use_in_the_United_States.

Kesimpulan sementara sampai tulisan ini, menunjukkan bahwa arsitektur memang menyumbang terbesar terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Jika ini berlanjut secara terus-menerus, tidak bisa dihindari bahwa bisa saja Bumi segera menuju kehancuran masal, yang oleh umat Islam biasa disebut Kiamat Besar.
Mungkihkah ini bisa berubah? Bisakah arsitektur yang menjadi penyebab ini semua, justru berubah menjadi solusi atas permasalahan ini? Menurut saya, tentu hal tersebut bisa saja dilakukan, dengan sesuatu yang saat ini biasa disebut Green Architecture ataupun Sustainable Architecture.

Di Indonesia, kedua istilah di atas sebenarnya merupakan penyempurnaan dari prinsip-prinsip dasar yang terbahas dalam Arsitektur Tropis dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pergerakan arsitektur global. Pada tahun 1980-an para arsitek Indonesia bergelut dengan topik “Arsitektur Tropis” yang bertujuan memanfaatkan sebesar mungkin keuntungan geografis Indonesia di daerah tropis guna mengurangi pemakaian energi di dalam bangunan.

Contohnya:
1. Sebagai negara di kepulauan Nusantara yang senantiasa berlimpah matahari, maka penghematan energi listrik bisa diperoleh dengan pemanfaatan sinar matahari yang senantiasa menghiasi khatulistiwa.
2. Pemanfaatan sirkulasi udara di dalam ruang juga menjadi salah satu hal penting dalam bahasan arsitektur tropis. Dalam bahasan terkini mengoptimalkan sirkulasi udara alami terutama berkaitan dengan kemampuannya mereduksi pemakaian energi di dalam bangunan.

Bidang studi arsitektur memang terkait dengan berbagai aspek dalam perencanaan dan pengembangan lingkungan binaan manusia. Sudah waktunya orang-orang yang bergelut dengan dunia arsitektur baik akademisi maupun praktisi untuk menyadari perannya dalam menjadi motor penggerak dalam memperbaiki kesadaran akan pentingnya gerakan-gerakan seperti gerakan untuk hemat energi dalam konteks memperbaiki kualitas hidup bersama.

Kompetensi di bidang arsitektur diharapkan dapat memahami dengan baik kebutuhan-kebutuhan lokal yang sesuai dengan masanya, serta bagaimana anak-anak teknik ini juga perlu menguasai cara berkomunikasi dan mempresentasikan ide-ide mereka dengan baik. bagaimana arsitek baru yang mereka terima bekerja biasanya sangat idealis dan melupakan unsur komersial sebuah proyek. memang masalah manajemen sumber daya manusia dan manejemen keuangan merupakan tantangan yang sangat berat bagi para arsitek yang berwirausaha, baik sebagai arsitek perencana maupun sebagai kontraktor. Tentunya ini adalah tantangan yang tidak terlalu disadari bila bekerja dalam tim di perusahaan besar, tapi bisa menjadi masalah bagi pengelola manajemen perusahaan.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.