Lapangan Rumput Masjid Salman ITB

Memasuki area kompleks masjid Salman merupakan suatu pengalaman yang mengasyikan. Ada sekuens yang akan kita jalani, akan ada sensasi yang berbeda di tiap langkahnya, akan ada lompatan kecil pertanda kebahagiaan ketika menyusuri tangga-tangga mungilnya, akan ada kenyamanan dikelilingi bebatuan kokoh dan pohon yang rindang saat menapaki jalannya. Menyenangkan bukan?

Setelah keluar dari gerbang parkir seni rupa, saya berdiri di depan gerbang kompleks ini. Apa yang saya lihat? Hanya bebatuan hitam dihadapan. Tentu saya sudah terbiasa dengan batu kali itu, sebab kampus ITB penuh sesak dengan material yang satu ini. Saya jadi teringat Aula Barat dan Aula Timur ITB yang sungguh fenomenal. Bedanya, kalau di Masjid Salman material batu kali digunakan sebagai elemen lanskap. Inilah yang baru. Rancangan pintu masuk kompleks masjid yang meruang dengan elemen-elemen yang tersusun sedemikian rupa cantiknya, termasuk si batu kali.

Sayangnya, grass block yang mengiringi prosesi masuk menuju kompleks masjid sudah tidak baik lagi keadaannya. Lubang dimana-mana. Ketika hujan, air menggenang di situ. Mungkin itulah yang membuat orang-orang malas untuk berbondong-bondong menuju tempat peribadatannya. Kesan awal yang mereka dapatkan dari masjid kampus ini kurang baik.

Langkah pertama kita akan disambut oleh tangga-tangga mungil namun lebar, sehingga ketika menapakinya saya sering berlompat-lompat kecil. Saya cukup senang melakukannya, karena rambut saya pun akan turut naik-turun.

Awalnya kita akan turun dua anak tangga, jika mendongak ke sebelah kanan, kita akan menemukan lapangan rumput yang kurang terurus. Terlihat dari cukup panjangnya rumput-rumput tersebut. Kemudian, kita harus naik dua kali maka akan ada semacam bordes sebagai tempat berhenti sejenak memandangi sekitar, memperhatikan fenomena-fenomena yang luar biasa terjadi. Sampai di sini, pandangan kita masih terhalang dari Masjid Salman. Susunan elemen lanskap berupa batu kali yang telah kita sebut di awal tulisan menjadi penyebabnya. Dia menghadirkan rasa penasaran ke dalam diri kita. Saatnya bergerak kembali, jangan sampai istirahat sejenak ini melenakan kita. Istirahat sebenarnya hanya ketika kita telah sampai di ujung jalan ini.

Dari ‘bordes’ tadi, kita akan menaiki beberapa anak tangga lagi. Setelahnya ada dua pilihan jalan, bila ke kiri kita akan keluar dari kompleks ini dan mendarat di jalan Ciung Wanara, sedangkan jika ke kanan kita akan menemukan lapangan luas yang menjadi halaman masjid Salman ITB. Sejauh mata memandang ada warna hijau terbentang dihadapan. Sungguh kontras dengan warna gelap batu kali sebelumnya.

Perasaan kita akan jungkir balik, berputar 1800, dan teraduk-aduk karena mendapatkan pengalaman yang sangat bertolak belakang. Di awal, kita masuk ke arena yang relatif sempit, kemudian kita disuguhkan pandangan yang luas. Di awal, kita masuk ke arena yang relatif rendah akibat banyaknya pepohonan yang rindang, kemudian kita disuguhkan suatu area yang langit menjadi plafonnya. Di awal, kita masuk ke arena yang kelam dan dingin, kemudian kita disuguhkan warna-warni yang ceria dan bersemangat. Lihat saja mural pada fasad masjid Salman. Terasa hangat dan bersahabat…

Sama seperti ruang utama masjid Salman yang tidak ada kolom di tengahnya, di lapangan ini pun tidak terdapat pepohonan di tengahnya. Konsekuensi logisnya adalah banyak kegiatan yang bisa kita lakukan di lapangan tersebut. Hal ini terbukti adanya. Keberadaan lapangan rumput ini tersemat status spacio temporal. Lapangan ini berubah-ubah keadaannya tergantung waktu. Bila ada pesta pernikahan, lapangan ini akan disulap menjadi tempat prasmanan, dengan beberapa unit tenda didirikan sebagai peneduh dari terik sang mentari. Bila di waktu jumat, lapangan ini menjadi tempat shalat extension saking melimpahnya jamaah di sekitar masjid. Saya berharap di suatu hari nanti pada setiap shalat shubuh, jumlah jama’ah yang shalat sama seperti ketika shalat Jumat. Kemudian, bila di hari minggu tempat ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang bermain atau para (calon) pendekar yang sedang berlatih Thifan Po Khan dalam kegiatan suatu unit kegiatan mahasiswa di Salman. Juga di saat-saat tertentu pada sore hari, akan banyak anak SMA yang mendapatkan tutorial mata pelajarannya.

Mari kita coba untuk masuk ke dalam lapangan rumput itu. Wah, ternyata cukup menyengat di sini. Saya tidak akan nyaman berlama-lama di sini. Tetapi ada yang menarik. Di tempat ini ada menara Masjid Salman yang menjulang dan di sekitarnya ada elemen lanskap berupa batu kali yang bisa kita gunakan untuk duduk-duduk. Dengan adanya elemen ini, seolah kita dipaksa untuk tetap beraktivitas di tengah panasnya siang hari. Ada daya magis yang mendorong kita untuk mengunjunginya, walau sekedar duduk-duduk saja. Tempat ini akan sangat nyaman untuk ditempati ketika cuaca sedang mendung, ketika sang surya malu-malu bersembunyi di balik awan. Maka akan berdengung elemen lanskap ini dengan diskusi-diskusi berbobot diselingi gelak tawa hangat. Menara yang menjulang seolah memberikan perlindungan khusus kepada para pengisi waktu ini.

Kemudian kita berpindah. Kita lanjutkan perjalanan dengan mengitari lapangan ini. Sepanjang jalur pedestrian di pinggir lapangan, terdapat pepohonan yang cukup meneduhi penggunanya dari sinar matahari. Berbeda keadaannya dengan waktu kita berada di tengah lapangan tadi. Hanya saja bila hujan maka sekujur tubuh akan basah karena tidak ada yang menaungi kita di sepanjang jalan ini. Lalu, di jalan ini terdapat beberapa lampu taman. Lampu inilah yang membuat suasana malam menjadi lebih damai. Penggunaannya tidak berlebihan, tetapi cukup menerangi jalan dan justru menambah indah lapangan rumput Masjid Salman, seolah sengaja mengantar kita menuju sebuah tempat penghambaan.

Menikmati lanskap di kompleks Masjid Salman menjadi suatu keunikkan tersendiri, karena di sini kita tidak hanya berekreasi secara fisik saja, tetapi juga kita akan mengalami rekreasi ruhani.

17 thoughts on “Lapangan Rumput Masjid Salman ITB

  1. uwah jadi inget pas baru mau masuk itb. komen apa y za?
    hmmm *mode mikir*. Grass block yg tergenang itu karena kurang sirkulasi udara tanah di bawahnya. mungkin sudah padat krn sering terinjak2.
    Batu kalinya jadi point of view dong y di lanskap taman mesjid itu.
    desain tangganya juga perlu memperhatikan kenyamanan user (jgn sampai kaya tangga ekalos yang menanjak itu, it’s uncomfortable), apakah susah dilalui atau tidak.
    Lapangan rumput untuk aktifitasnya perlu perawatan ekstra y hehehe dari latihan bela diri sampai pernikahan tu rumput di injek2.
    jadi kangen shalat disitu lagi (^.^//)
    sekalian ulas taman ganesha yg di sebelah taman dong hehehe

    • salah teh, di bawah grass block itu semen. ga ada tanahnya.
      aneh ya?

      nyaman kok, tingginya sekitar 15 cm (untuk ruang luar emang sekitar segitu)
      kalo di elos lebih tinggi dari 15 kan? mungkin itu yang bikin ga nyaman.

      yap! makanya ada tulisan: ‘keep salman clean’ dan ‘jaga salman bersih’ (bener2 diterjemahin secara bebas)

      kalo taman ganesha bukan saya yang bahas, tapi temen saya. tiap mahasiswa ga boleh sama =D

      • pantesan aja, konstruksi pemasangan grass block kan dasarnya bukan semen tp campuran tanah dan pasir. Pasirnya emang agak padat supaya tanah stabil dan tetap ada drainase untuk air. aneh juga.
        tangga di ekalos itu lebarnya enggak enak banget, orang ngelangkahnya jadi 1,5 kali. Memijak pake satu kaki yg sama malah bikin pegel kan.

    • ini maksudnya ruang utamanya kan raf??
      karena udah ada teknologi beton pra tegang akh, ketika itu. Yang memungkinkan bentang panjang, tanpa ada tiang kolom di tengahnya untuk menyangga..

      Lagi pula kalau ada tiang, lebih ga nyaman kan sholatnya??

  2. Ping-balik: “Salman”, masjid kampus yang selalu hidup « serpihan pelangi

  3. menarik untuk di simak, semoga bisa di share lagi mengenai masjid2 di bandung yang berdaya seni tinggi

    …. izin kopas imagenya ( request picnya dengan angle yg berbeda )
    from SAPPK Magister 2012

  4. Ping-balik: 50 Tahun Masjid Salman (Part One) | perjalanan seorang arsitek merancang peradaban islam

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.