itsar vs fastabiqul khairat

assalamu’alaykum wr wb
alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah

sungguh Islam itu adalah jalan hidup yang sangat lengkap.
betapa tidak? selain memiliki sifat Rabbaniyyah, Islam pun bersifat Insaniyyah.
hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya perintah terkait hubungan antarmanusia.
bahkan, sikap tersebut (berbuat baik terhadap sesama) menjadi salah satu indikasi tingkat keimanan kita.
itulah yang disebut dengan ukhuwwah islamiyyah

nah, didalam konsep ukhuwah islamiyyah, saya menemukan hal yang unik.
hal tersebut bertolak belakang…
yup! itu adalah itsar dan fastabiqul khairat!!!

di satu sisi kita harus mendahulukan orang lain, namun di sisi yang lainnya kita harus mendahulukan diri sendiri.

ITSAR,,,
sebuah puncak tertinggi yang ada dalam pegunungan ukhuwah Islamiyyah..
bagaimana tidak? mendahulukan orang lain dibanding diri kita!
padahal bisa jadi kita juga butuh dengan hal tersebut…
itulah salah satu sifat Rasul-kita yang mulia:

“sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (TQS At Tawbah ayat 128)

tentu hal ini akan semakin menguatkan ukhuwah kita, karena sikap itsar akan menumbuhsuburkan sifat-sifat mulia, seperti peduli, empati, dan pemurah.
lalu, itsar juga akan mengurangi sifat-sifat buruk perusak ukhuwah, seperti egois, kikir, dan individualistis.

orang yang itsar di dunia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya.
sedangkan di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar yang terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Ta’ala, serta Al-Jannah, karena telah mempererat ukhuwah Islamiyyah.

FASTABIQUL KHAIRAT,,,
berlomba-lomba dalam kebaikan (QS. al Baqoroh ayat 148 dan QS. al Maidah ayat 48) memerlukan suatu keegoisan dalam mencapainya.
ini berarti kita harus mendahulukan diri sendiri dan mengesampingkan kepentingan orang lain.

namun, ini jualah (saling berkompetisi didalam berbuat kebaikan) yang akan menjadi kendaraan paling tepat dan efektif untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan kehidupan negeri akhirat yang abadi.
bayangkan! setiap orang ingin memberi kebaikan sebanyak-banyaknya…
tentu terjadi keshalihan sosial pada tahap itu dan setiap manusia pun menjadi produktif untuk membahagiakan orang lain.

hanya saja diperlukan keikhlasan niat yang tinggi.
perlu adanya kehati-hatian agar kebaikan yang berlimpah itu tidak sia-sia belaka.

NAH,,,
pertanyaannya, kenapa bisa bertolak belakang?
lalu dimana letak perbedaannya?
kapan kita harus itsar, kapan kita harus fastabiqul khairat?

sebenernya saya bingung menjawabnya, namun kesimpulan yang saya dapat hingga saat ini adalah…
terletak pada jenis amalnya

saya mulai mengerti tentang ini ketika nonton ketika cinta bertasbih (hehe =D)
waktu itu ada tokoh yang membiarkan orang yang dicintainya menikah dengan orang lain dengan alasan itsar.
padahal menikah adalah ibadah kepada Allah, kita harus fastabiqul khairat (bukan itsar)

“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (TQS. an Nuur ayat 26)

dari ayat di atas, tentu kita ingin menjadi orang yang baik dan kalo ingin mendapatkan pasangan yang baik, tentu harus jadi yang paling baik.
nah, oleh karena itu, menikah haruslah fastabiqul khairat, bukan itsar.

begitu juga dengan shalat di shaf pertama bagi ikhwan. harusnya rebutan, bukannya saling mempersilakan.
waktu zaman nabi saja, harus diundi untuk menentukan siapa yang berhak shalat di shaf pertama, saking semuanya tidak mau mengalah.

itsar dilakukan ketika berhubungan dengan hal-hal keduniaan, misal: memberikan uang kepada yang lebih membutuhkan (padahal kita juga butuh), memberikan makanan kepada yang lebih kelaparan (padahal kita juga lapar)
*bener gak sih? khawatir salah juga =p*

dalam hal pahala, kita harus rakus.
oleh karena itu, yuk kita melakukan itsar dan fastabiqul khairat di saat yang tepat…
CMIIW Allahu’alam wassalamu’alaykum wr wb.

One thought on “itsar vs fastabiqul khairat

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.