Taman Para Penuntut Ilmu

Mahasiswa ITB adalah crim del’a crim dari alumni SMU se-Indonesia.” (Prof. Kusmayanto Kadiman, Ph.D)

Memutar memori sejenak hingga tiba ke suatu lembaran kisah ketika pertama kali menginjakkan kaki di gerbang kampus ganesha. Dari sana saya bisa menatap sebuah taman yang unik. Pikiran pun sesaat menerawang menembus batas cakrawala langit khayalan.

Saya mulai membayangkan sedang membaca buku di taman itu. Perjuangan untuk menjadi “crim del’a crim” (terbaik dari yang terbaik) karena memang disinilah berkumpulnya orang-orang hebat dari seluruh penjuru Indonesia. Di taman itu saya duduk sendiri. Hanya saja bukan kesendirian yang mencekam, bukan pula kesendirian yang dilanda kesedihan. Akan tetapi, kesendirian untuk menikmati waktu dan melakukan hal yang jarang sekali dilakukan oleh banyak orang: berdialog dengan diri sendiri.

Waktu pun beranjak. Kini kita kembali ke dunia nyata. Selama hampir tiga tahun, saya belum pernah sekali pun melakukan hal yang saya ceritakan di atas. Mungkin salah satu penyebabnya karena waktu itu taman ini masih belum memiliki tempat duduk yang nyaman. Semuanya masih tanah. Bila ingin duduk-duduk di situ, harus membawa tikar sendiri. Seperti yang dilakukan para pengunjung kebun binatang untuk beristirahat bersama keluarga sambil menikmati makan siang.

Walaupun taman ganesha berkembang menjadi lebih baik dibanding tiga tahun lalu, saya masih menemukan banyak hal yang membuat taman ini belum cukup nyaman untuk dijadikan tempat belajar, padahal taman Ganesha dekat dengan institusi pendidikan.

Memasuki taman ganesha dari depan gerbang ITB, kita diharuskan untuk menuruni anak tangga yang cukup banyak. Inilah salah satu ciri khas taman yang dahulu berjuluk “Ijzermanpark”, yaitu tangga masuk menurun membentuk “sunken garden“. Sayangnya, di sepanjang tangga ini tidak ada penerangan, sehingga bisa dipastikan bahwa taman ini akan mati suri di malam hari. Bagaimana tidak, jalan masuknya saja sudah tidak bersahabat.

Sesampainya di anak tangga terakhir, pandangan kita tertutup oleh monumen berbentuk mini yang menyajikan relief yang menceriterakan proses berdirinya ITB. Kehadirannya membuat rasa penasaran muncul dalam dada. Memaksa saya harus mengitari tanaman yang membentuk tulisan taman Ganesha di sebelah kiri. Tertegun sejenak di sana, menatapi warna hijau yang tertata rapi bersama bebatuan sebagai aksennya. Menyejukan visual kita yang telah lama disuguhi hutan beton di luar sana.

Berjalan sedikit hingga tepat ke bagian aksis dari taman Ganesha, kita akan melihat jejeran pohon palem yang mengarahkan kita kepada pemandangan di Bandung selatan. Hanya saja agak terganggu dengan adanya menara dengan sebuah laptop di puncaknya. Menurut saya, meskipun ITB adalah kampus teknologi, menaruh benda semacam ini di tengah taman tidaklah kontekstual dan mengganggu keharmonisan alam binaan tersebut. Bisa jadi lebih tepat jika taman Ganesha dijadikan tempat penelitian dan pengenalan jenis flora tropis, maupun untuk studi tentang siklus alam. Saya rasa masih senada dengan ITB.

Seperti yang telah saya sebut pada paragraf sebelumnya, taman Ganesha memiliki aksis di tengahnya. Hal ini menyebabkan taman Ganesha merupakan taman yang simetris-seimbang. Bagian kanan dan kirinya identik bagai pinang dibelah dua. Bila kita mencoba menyusuri bagian kanannya, pengalaman yang dirasakan tidak akan jauh berbeda dengan bagian kirinya. Mungkin yang membedakan hanya jalan yang membatasinya. Bagian kanan dibatasi oleh Jalan Skanda dimana kendaraan dan kuda tunggangan hilir mudik maupun parkir. Sedangkan bagian kiri dibatasi jalur pedestrian berbahan batu kali.

Berbicara tentang batu kali, taman ini pun cukup didominasi oleh batu kali. Selain itu ada juga “paving block” yang bila tidak dirawat akan ditumbuhi lumut sehingga para pengguna jalan akan merasa licin ketika melewatinya.

Saya telusuri lagi jengkal demi jengkal taman ini, maka akan ditemui beberapa bangku taman yang panjang dan terbuat dari besi. Hal ini menjadi sebuah tempat tidur tersendiri bagi para tunawisma. Mungkin sebaiknya kursi taman diubah menjadi berbentuk bundar sehingga tidak dijadikan tempat tidur, tetapi tetap nyaman digunakan sekedar duduk-duduk.

Untuk melindungi dari serbuan rerintik hujan, bentuk peneduh yang melengkung tidak banyak membantu. Jika berteduh di bawahnya, kita akan tetap basah karena kurang cukup menaungi diri kita. Sedangkan untuk melindungi dari terik sang surya, peneduh juga tidak banyak membantu mengingat begitu lebatnya pepohonan. Bahkan saking lebatnya pepohonan tersebut, rerumputan di bawahnya tidak dapat tumbuh. Padahal taman yang alami seharusnya memiliki tanaman yang beragam. Mulai dari rerumputan sebagai “ground cover”, tanaman semak, tanaman rendah, tanaman sedang, hingga tanaman tinggi. Nah, jika dibandingkan dengan taman Ganesha yang memiliki tanaman tinggi yang banyak dan berdekatan di bagian tengah ternyata malah menghilangkan rerumputan. Tentu terasa kurang baik. Ditambah lagi jika hujan, sepatu dan celana kita akan terkotori oleh lumpur.

Belum lagi, fenomena ini membuat tanah diperkeras dengan beton. Sedangkan beton tidak akan memberikan kesempatan untuk air terserap ke dalam tanah. Saya jadi teringat ketika berjalan di taman di dekat perpustakaan pusat. Di sana menggunakan “grass block” sebagai perkerasan tanahnya. Selain, bisa menyerapkan air ke tanah, “grass block” juga memungkinkan untuk tumbuhnya rerumputan. Walaupun sedikit, tentu membantu untuk memproduksi oksigen bagi makhluk hidup di sekitar. Coba bayangkan bila hal ini dilakukan disetiap tempat, tentu yang sedikit itu menjadi banyak, bukan? Marilah kita budayakan sikap yang kontributif dengan prinsip “think globally, act locally

Secara tak sadar, saya kembali membayangkan saya sedang belajar di situ. Ya, di bangku-bangku taman itu. Sendiri hanya ditemani oleh buku-buku penuh lautan ilmu. Sesuatu yang tidak akan berkurang jika kita berikan, bahkan justru malah bertambah banyak.

Ah, jadi ingat mata kuliah Arsitektur Kota. Waktu itu sang dosen mengajak para mahasiswa berjalan di taman Ganesha. Dan beliau berkata bahwa yang bisa menghidupkan suatu taman adalah makanan. Bisa jadi taman ganesha akan lebih hidup jika ada suatu daerah yang dijadikan pusat jajanan. Mungkin di bagian selatan taman, mengingat memang di jalan Gelap Nyawang sana ada banyak tempat makan.

Makanan memang akan menarik perhatian manusia (dan hewan) untuk datang meramaikan suasana taman, akan tetapi ada yang harus diperhatikan dari adanya makanan. Tidak dapat disangkal bahwa makanan akan menghasilkan suatu limbah yang harus diolah sedemikian rupa hingga tidak merusak keindahan dan kenyamanan taman. Oleh karena itu, perlu adanya pembenahan mengenai tempat sampah di taman Ganesha.

Secara penempatan, lokasi adanya tempat sampah di taman Ganesha saat ini sudah tepat. Tempat sampah dikonsentrasikan di jalur pedestrian setiap 5 meter dan di dekat bangku-bangku taman. Namun, cobalah perhatikan. Betapa memprihatinkan kondisi si tempat sampah itu. Begitu tak terawat. Saya pun akan lebih memilih duduk di tempat lain dibanding dengan duduk di bangku yang dekat dengan tepat sampah seperti gambar di atas.
Akan lebih baik apabila kesemua tempat sampah memiliki keseragaman dan terdapat pemilahan jenis sampah. Model tempat sampah pada gambar di sebelah kiri cukup baik, karena terdapat pelindung dari air hujan. Beda dengan gambar sisi kanan, sampah-sampah di dalam tempat sampah itu akan terendam air bila turun hujan.

Soal fasilitas, taman ini memiliki toilet sendiri. Saya curiga bahwa toilet ini menggunakan air bersih dari PDAM untuk membilas kotoran tubuh. Ini sama saja dengan pemborosan air bersih. Padahal di tempat lain, masih ada saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk mendapatkannya haruslah berjalan jauh dan membelinya dengan harga yang mahal, kemudian pulang dengan menenteng berliter-liter air. Sedangkan disini, kita berfoya-foya dengan menggunakan air bersih untuk membilas kotoran tubuh. Kenapa tidak menggunakan air hujan untuk aktivitas ini? Bukankah Indonesia kaya akan air hujan? Bukankah setiap musim hujan, taman Ganesha selalu tergenang air hujan?

Pertama, air hujan tersebut disaring dan ditampung dengan teknologi sederhana. Air ini dimanfaatkan lagi untuk kegiatan-kegiatan seperti yang disebutkan diatas. Setelah dirasa cukup, air hujan diresapkan ke tanah untuk menghidupi tanaman-tanaman yang ada di taman. Oleh karena itu, sebaiknya tanaman langsung bersentuhan dengan tanah agar terjadi siklus yang tertutup dan alami pada taman ini. Bukan menaruh tanaman-tanaman itu di pot yang terpisah dari Bumi. Setelah diserapkan ke tanah, bila masih ada air berlebih, baru dialirkan ke “riool” kota. Selain mengurangi luapan air di got-got, memanen air hujan seperti ini akan menghemat air bersih dari PDAM.

Wah, ternyata cukup banyak yang bisa kita lakukan untuk taman Ganesha. Karena, selain sebagai tempat interaksi manusia, taman Ganesha juga merupakan tempat singgah bagi beberapa spesies burung. Oleh karena itu di taman ini juga ada papan yang menjelaskan spesies-spesies burung yang sering mampir ke taman ini. Kawasan jalan Ganesha memang diperuntukkan bagi konservasi beraneka ragam burung sehingga tidak satu pun burung yang ada diperbolehkan untuk diburu.Sayangnya, akhir-akhir ini jumlah burung yang hidup di taman Ganesha semakin berkurang.

Saya akan berjalan-jalan sedikit lagi, karena mungkin saja ada yang belum sempat saya amati. Di bagian tengah ada sebuah kolam yang cukup besar di taman Ganesha. Lagi-lagi kondisi kolam ini memprihatinkan. Selain air mancur yang sudah tidak berfungsi lagi, air di kola mini berwarna hijau. Bagi saya, fakta tersebut sangat aneh, belum lagi penelitian yang dilakukan oleh program studi Biologi mengungkapkan bahwa kola mini dipenuhi bakteri-bakteri yang membawa penyakit.

Oleh sebab itu, pengelolaan kolam ini harus diperhatikan secara serius, karena tidak tertutup kemungkinan bahwa kolam ini justru menjadi pusat perhatian pengunjung. Di siang hari bisa dijadikan tempat pemancingan seperti yang sudah mulai terlihat pada akhir-akhir ini. Hanya saja, kegiatan mancing-memancing ikan ini baru ada ketika mentari sudah condong ke barat. Di pagi hari, orang-orang yang gemar memancing ini masih disibukkan oleh aktivitas hariannya, sedangkan di siang hari terlalu terik untuk memancing. Mungkin bila ditambahkan pergola semipermanen di sekeliling kolam akan membantu meramaikan pemancingan pada siang hari.

Malam hari pun akan terasa lebih romantis bila diberi kilapan permainan cahaya di atas riakan air kolam taman Ganesha ini. Namun, harus tetap diperhatikan agar lampu-lampu ini tidak boros energi. Belum lagi suara gemericik air mancur yang semakin menghanyutkan suasana anggunnya taman Ganesha. Air yang mengalir akan lebih menarik perhatian, karena memang “fitrah”-nya manusia menyukai air yang mengalir.

Di taman inilah seharusnya para penuntut ilmu pernah menempa diri. Belajar pada alam yang senantiasa tunduk pada yang menciptakannya. Di sini mereka berjuang menjadi pribadi yang tangguh sekaligus tetap memiliki budi pekerti yang tinggi. Di sini jualah mereka memimpikan agar ibu pertiwi tiada pernah menangis lagi, justru senyum merekah menghiasi bibir rakyatnya karena sang pemimpin bangsa memimpin dengan hatinya.

One thought on “Taman Para Penuntut Ilmu

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.