[jurnal] mengisi sebuah ta’lim

CARA MUSLIM BERGAOOL

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (TQS. Al Maaidah: 54)

Kita semua yakin, bahwa Islam adalah agama yang mulia dan sempurna. Satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Hanya saja, kecemerlangan cahaya Islam telah diredupkan oleh para pemeluknya. Kemuliaan Islam tidak dibarengi dengan keindahan akhlaq para pengikutnya. Sehingga cap yang kurang baik cukup melekat pada Islam pada saat ini, sebut saja: ngaret dan teroris.

Selain itu, pada saat ini jika ada suatu posisi strategis yang diisi oleh pemeluk Islam yang taat, masyarakat umum akan berpikiran negatif. Mereka tidak percaya. Padahal dahulu, tiap orang ingin dilindungi oleh kekhalifahan Islam, baik yang Muslim maupun yang kafir. Bahkan ada yang ingin dipimpin oleh orang Islam meskipun mayoritas penduduknya nonmuslim.

Oleh karena itu,
Sudah saatnya, kemuliaan Islam dibarengi dengan kecemerlangan akhlaq para pemeluknya!
Sudah saatnya, seorang Muslim memiliki kemampuan untuk mengelola suatu lembaga yang mengurusi hajat orang banyak!

Karena sesungguhnya akhlaq adalah ciri khas seorang muslim yang membedakannya dari yang lain. Akhlaq Islam yang tinggi dan mulia, ia mengidentifikasikan manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan binatang (lihat QS. 7:179). Akhlaq lahir dari pemahaman yang benar tentang ibadah dan buah dari ibadah itu sendiri (contohnya pada QS. 29: 45 dan QS. 2: 197). Selain itu, bukankah salah satu tugas Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia?

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh” (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim)

Lalu, seperti apakah akhlaq seorang Muslim itu?
Setidaknya kita harus berakhlaqul karimah terhadap empat hal:

Pertama, kepada Allah.

Akhlaq kita kepada Allah adalah dengan cara mencintai-Nya (lihat QS. 3:31 dan QS. 2: 165) serta memberikan wala’nya hanya bagi Allah, sehingga Allah pun menjadi mencintai kita.

Dan salah satu indikasi rasa cinta pada Allah adalah ‘bergetar’ hatinya bila nama-Nya disebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (TQS. Al Anfaal: 2)

Tentu bila kita mendengar nama orang yang kita cintai, ada getaran halus yang merayap dalam dada. Itulah resonansi cinta. Itulah orang yang sempurna imannya. Dia akan menyebutkan sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan Allah hingga hatinya terus bergetar dan makin cinta.

Kedua, kepada orang Mu’min.

Akhlaq kita kepada orang Mu’min adalah dengan cara bersikap sayang terhadapnya dan memberikan wala juga kepada orang Mu’min, yaitu yang sering kita sebut dengan ukhuwah Islamiyyah.

Menurut Hasan Al-Banna, ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah karena Allah dan mengharap ridha-Nya semata, yaitu suatu ikatan yang tingkatan terendahnya adalah berlapang dada terhadap saudaranya dan yang tertinggi adalah mendahulukannya meskipun sebenarnya kita juga butuh.

Ukhuwah Islamiyah pun memiliki rukun, yaitu: Ta’aruf (perkenalan jasad, jiwa, dan sifat), Tafahum (saling memahami), Ta’awun (saling menolong), dan Takaful (merasa senasib)

Berikut ini ada tips-tips untuk memelihara ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan kepada saudaranya (sesama muslim, kecuali kepada lawan jenis)
2. Memohon didoakan bila hendak berpisah
3. Saat berjumpa menampakkan wajah yang ramah dan diiringi senyum kegembiraan
4. Berjabat tangan saat berjumpa (kecuali bukan muhrim)
5. Saling mengunjungi sesama saudara muslim (silaturahim)
6. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
7. Memberi hadiah pada waktu-waktu tertentu
8. Memanjatkan doa untuknya tanpa sepengetahuannya

Banyak keutamaan yang Allah berikan kepada para pelaku ukhuwah Islamiyah, misalnya: kelak wajah mereka kelihatan bercahaya, berada dalam surga Allah dan mendapat keridhaan-Nya (lihat QS. 15: 45-47), merasakan manisnya iman, dan pada hari kiamat berada di bawah naungan ‘arsy Allah (termasuk 7 golongan yang dilindungi Allah).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah: penguasa yang adil, seorang pemuda yang tekun (tumbuh) beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya senantiasa bergantung (memikirkan dan mengusahakan kemakmuran) masjid, dua orang laki-laki yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh seorang wanita yang mempunyai jabatan dan kekayaan namun ia menolak dengan mengatakan ‘Aku takut kepada Allah’, seorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan seorang yang berdzikir saat sedang sendirian hingga menangis karena rasa takutnya kepada Allah.” (HR. Bukhari, Muslim)

Perlakuan ukhuwah terhadap orang lain tentu berbeda-beda. Dengan yang lebih tua, kita harus bersikap hormat. Dengan yang lebih muda, kita harus menyayangi, salah satunya dengan cara menjadikannya lebih baik daripada kita. Kepada lawan jenis, tentu ada adab-adabnya, diantaranya: ada agenda yang penting, tidak ikhtilat, tidak berkhalwat, tidak saling memandang, dan tidak bersentuhan.

Ketiga, kepada orang Kafir.

Akhlaq kita kepada orang kafir adalah dengan cara bersikap keras terhadapnya. Kita harus menampakkan ‘izzah kita. Terutama dalam hal aqidah, kita harus mempertahankannya. Toleransinya nol.

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (TQS. Al Kaafiruun: 1-6)

Namun, bila masalah muamalah, kita tidak mengapa untuk berinteraksi dengan mereka. Misal: belajar bareng, makan-makan, dan berorganisasi. Kecuali yang telah diharamkan oleh Allah. Dan kalo saya sendiri sih, bila masih memungkinkan, saya akan lebih mendahulukan dengan yang muslim. Bukan diskriminasi, tapi lebih bisa saling memahami. Kan kurang enak juga bila lagi seru-serunya belajar atau ngerjain tugas, trus izin shalat. Kalau dengan sesama muslim kan bisa sholat berjamaah. CMIIW.

Keempat, kepada urusan-urusan kita.

Akhlaq kita kepada orang urusan-urusan kita adalah dengan cara berjihad/bersungguh-sungguh di jalan Allah.

Selain bermakna jihad secara fisik, kita juga harus bersungguh-sungguh dengan setiap urusan kita. Entah itu kuliah, organisasi, dan urusan lainnya.

Buktikan bahwa kita mampu memegang posisi dalam suatu lembaga yang mengurusi kebutuhan masyarakat banyak. Buktikan konsep Islam merupakan solusi dari berbagai permasalahan. Bukikan bahwa seorang muslim memiliki akhlaq yang mulia dan kemampuan yang baik.

Ini juga masalah niat. Jadikan setiap aktivitas kita sebagai suatu jihad di jalan Allah. Siapa tahu diberi pahala orang yang syahid kan?

Allahu’alam

-sebuah catatan ta’lim sore KISR (Keluarga Islam Seni Rupa) ITB-

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.