ustadzah di madrasah peradaban =p

hoho, saya suka banget sama gambar di atas.
saya memaknainya sebagai suatu cita besar sepasang hati yang ingin mewujudkan peradaban islam dari madrasahnya.

—–

setiap pemimpin besar pasti memiliki wanita luar biasa di belakangnya. entah itu ibunya ataupun istrinya. oleh karena itu, sangat tepat ketika Rasulullah saw bersabda:

Dari Abu Hurairah ra: “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada perempuan.” (HR Al-Tirmidzi, dan dia menilainya hasan shahih)

sebenernya konteks hadits diatas lebih ke istri. tapi tetep aja ga ada yang bisa mengalahkan kemuliaan seorang ibu. hadits yang memerintahkan untuk berbakti kepada ibu justru lebih banyak.

menikah adalah penyempurna separo agama kita. secara logika matematis, orang yang paling sholih tapi tidak menikah, persentase keimanannya hanya 50%. itu tidak lebih baik dari orang yang keimanannya 30% tetapi menikah, sehingga keislamannya menjadi 60%. Allahu’alam.

tentu kita menikah bukan hanya untuk menggenapkan agama kita, tetapi alangkah lebih baiknya bila pernikahan itu memiliki cita besar suatu peradaban. karena keluarga merupakan komunitas terkecil dalam sebuah masyarakat. semuanya berawal dari sini. jika ingin membentuk masyarakat yang Islami, kita harus membangun keluarga yang Islami (setelah menjadi individu yang Islami)

kehadiran istri menjadi penentu dua fenomena di atas, yaitu: penyempurna agama kita dan pembentuk peradaban Islami. berikut ini ada perannya yang tidak bisa digantikan oleh siapapun:

1. benteng penjaga dari api neraka

inilah fungsi istri terhadap seorang suami dalam rangka penggenap separo keislaman itu. kalo kata ustadz salim a fillah: istri, arah kita berlari dari yang haram menuju yang halal. berlari dari dosa mencari pahala. berlari dari hina menuju mulia. berlari dari tempat maksiat ke tempat ibadat. berlari dari syaithan yang keji menuju bidadari yang suci. bukankah itu berarti berlari dari neraka menuju surga?

seorang suami harus berjuang mencari nafkah. kenapa berjuang? karena di luar sana terdapat godaan bertubi-tubi, entah itu harta, tahta, maupun wanita.

di luar sana banyak wanita yang tidak bisa menjaga dirinya. lalu dipaksa berinteraksi secara rutin dengan mereka atas nama pekerjaan. tentu berat bukan? inilah yang dikisahkan nasyid dinda-nya gradasi, andai saja bisa membelah diri menjadi dua. seorang suami akan meninggalkan yang satunya untuk pergi ke kantor. sementara dia akan tetap disini bersama sang dinda.

tentu hanya khayalan dan kita tetap musti pergi. hingga tiba saatnya pulang dari tempat kerja, tentu pria yang telah beristri tidak sabaran untuk segera sampai ke rumahnya. karena sang istri di sana sudah berias dan menunggunya, hanya untuk sang suami tercinta.

2. penjaga anak-anak dan madrasah

selain itu, setiap wanita di suatu saat nanti akan menjadi seorang ibu. tentu di sini perlu dipahamkan bahwa mereka adalah pendidik dan pembesar calon pemimpin bangsa nantinya. dialah sang ustadzah pertama bagi anak-anak di madrasah kecilnya. saya yakin, bangkitnya suatu bangsa terjadi ketika bangsa tersebut memiliki wanita-wanita yang baik.

dia pula yang akan menjaga keberlangsungan madrasah. di tempat ini terkumpul segala macam manifesto cucuran peluh suami setiap harinya. dan ia tidak punya waktu 24 jam untuk menjaganya, untunglah ada istri yang selalu menjaga dan memelihara. agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan d*r*h tak menguap sia-sia. di madrasah itu ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

dia jualah yang menjadikan rumah sederhana kita memiliki cita rasa surgawi…

—–

tentu tak ada yang bisa menggantikan peran istri pada 2 poin di atas.
jadi, kalo saya sih cukup satu saja. hehe =D

wanita memang tercipta dari tulang rusuk laki-laki
ia tidak diciptakan dari kepala agar tidak tinggi hati, juga tidak dari kaki agar tidak diinjak-injak kehormatannya
tetapi ia diciptakan dari tulang rusuk agar dekat dengannya, dekat dengan tangan agar bisa dilindungi, dan dekat dengan hati untuk dicintai

12 thoughts on “ustadzah di madrasah peradaban =p

  1. hmmmm teringat 2 buku yang masuk list “have to read” saya: ada cinta di rumah hasan al banna dan persembahan cinta istri hasan al banna. Karena masing2 punya peranan sendiri. karena pentingnya peranan tersebut dalam membangun rumah tangga maka Rasul menyarankan untuk memprioritaskan agama ketika memilih calon pendamping. Tapi koq ngebahas bagian akhwat, bahaslah bagian ikhwan XD.

  2. hehehe, PH…Hadoh, ni anak kecil udah gede ya? =P

    Saya suka paragraf yang ini:
    “tentu kita menikah bukan hanya untuk menggenapkan agama kita, tetapi alangkah lebih baiknya bila pernikahan itu memiliki cita besar suatu peradaban”
    Umm, rekonstruksi peradaban!

    Hahaha, jadi inget juga sama kata2 ibu ustadzah yang mengulang ini berkali-kali sambil ngelirik jahil ke saya “Karena menikah adalah tahapan da’wah selanjutnya”. Huehehehe, ibu…saya s2 dulu ya? boleh kan? =P

    • gede itu pasti, tapi saya milih untuk dewasa! (wedeh, sip banget dah kata-katanya. haha =p)
      yup, hingga Islam menjadi soko guru peradaban, ustadziatul ‘alam!
      iya, menikah itu awal. tapi ada temen abis nikah, malah melepas semua amanah dakwahnya (baik formal maupun internal)
      tapi kalo ada yang dateng mah sambut aja, teh…

  3. nah, itu dia…kenapa ya ketika menikah bukan justru makin produktif malah sebaliknya. Hoh, apalagi kalau mesranya di depan umum. Hehe, bukan mupeng…tapi ga indah aja ngeliatnya
    Mangkanya PH, ayo segera buktikan!!! Hahahaha *undang-undang ye, dan jangan jauh2 dari bogor =P

    • alasannya sih sibuk ngurus keluarga (nafkah, dll)
      mesra (yang wajar) di depan umum menurut saya gapapa, asalkan orang disekitarnya tau kalo mereka udah menikah. itung-itung nyindir.
      pengennya sih gitu, haha =D

  4. Wah, PH ternyata termasuk orang yang pro pada pasangan bermesra-mesraan di depan umum ya?
    ckckckck, boro2 buat nyindir itu mah…yang ada malah geuleuh. Hiii

    • saya mendukung apa yang dilakukan rasulullah. dan standar ‘mesra’-nya yang di depan umum, ya seperti yang dilakukan rasulullah itu (bukan yang sekarang). tidak kurang dan tidak lebih.
      cari aja kisah rasulullah ber-‘mesra’-an dengan shafiyyah binti huyay (kalo gak salah). tapi waktu itu ada sahabat yang gak tahu kalo itu shafiyyah, trus rasulullah mengklarifikasi (seinget saya begitu) -> makanya saya bilang, kalo bisa orang lain harus tau biar ga klarifikasi terus-terusan.
      CMIIW wallahu’alam…
      (tolong tabayun, soalnya saya agak lupa. kalo kisahnya bener, insya Allah jadi pahala =D)

      • iya gitu?
        seinget saya sambil ber’mesra’an (tapi gatau ngapain, saya agak lupa sih)
        pokoknya mesra-nya itu seperti yang dilakukan rasulullah. tidak kurang dan tidak lebih.

  5. Malah, bukan sampai jalan berdua.
    Saat itu, rasullah hanya ketemuan aja sama shafiyah. Ketika tiba-tiba ada seorang ikhwan yang ngeliat, dan sebelum timbul fitnah rasulullah bilang, “wahai (nama ikhwan itu), ini shaffiyah”
    *inget banget cerita ini soalnya baru baca di buku fiqh akhlak bada’ book fair
    Kapan rasulullah menunjukkan kemesraan beliau dengan istri2nya di depan umum? sepertinya tidak pernah…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.