tentang VMJ1

entah sejak kapan dan entah siapa yang memulai, cinta diidentikan dengan warna merah jambu.
bukan jambunya yang salah. (iya, emang ga nyambung. udahlah, woi puasa woi!!! haha)
jadi, langsung to the point aja ya tentang Virus Merah Jambu =D

ngerasa sedih gak kalo ada temen yang pacaran? kalo saya sih iya, tapi bukan karena saya gak laku. hehe. tapi karena ngerasa sayang ke mereka telah terbujuk oleh rayuan syaitan.
percaya deh kalo setan itu adalah sebaik-baiknya pengrias lawan jenis. sejelek, sebodo, sebau, sekerempeng apapun tuh orang, kalo setan udah masuk mah jadi ganteng banget dah (gak segitu juga sih)

pasca menjadi pengurus DKM (kelas XII maupun udah alumni SMANSA) adalah masa-masa lost power syndrome. biasanya pas istirahat atau pulang sekolah ke masjid untuk sholat trus ke sekret untuk tilawah atau koordinasi departemen, sekarang udah ga punya sekret.
bebas! udah gak ada amanah organisasi lagi, gak ada beban jadi pengurus DKM (yang harus tampil sholeh)
nah yang kayak gini ini rentan pacaran atau minimal mulai cair dengan lawan jenis.
tapi gak menutup kemungkinan juga bahwa pengurus DKM ngikutin tren dunia barat yang liberal ini.

lantas apa yang harus kita lakukan? tentu yang paling mudah adalah dengan pencegahan.
tapi kalo udah jadian? kasih aja tulisan diatas. haha =D
ok, kita bahas bersama-sama 2 kondisi tersebut…

Cara mencegah

mencegah lebih baik daripada mengobati. shaum woi! sabar. jodoh mah ga akan kemana, tinggal milih mau dengan cara baik atau dengan cara buruk. mau Allah beri dengan lembut atau dengan murka.

urusan jodoh itu ditangan Allah, tapi kalo kita ga ngambil, selamanya akan ada ditangan Allah.
tenang, masih ada lagi caranya selain menjemput, yaitu ‘memaksa’ Allah mengulurkannya ke kita.
mungkin contoh sederhananya gini, yang saya sebut ‘menjemput’ adalah seperti yang dilakukan Khairul Azzam dalam KCB: ia mendatangi satu per satu. sedangkan ‘memaksa Allah mengulurkannya’ seperti yang dilakukan Fahri Abdullah dalam AAC: ia didatangi 4 orang.
dan kedua-duanya adalah perbuatan mulia. karena menikah adalah ibadah. harus yang terbaik. yang dipakai adalah ‘fastabiqul khairat’, bukan ‘itsar’. Allahu’alam (teori ini ga harus diikuti kok. cuma sotoy-sotoyan aja, haha)

tapi sebenernya semua orang sedang melakukan ‘paksaan’ terhadap Allah kok (yee, malah diterusin =p)
yaitu: dengan shalat pada-Nya, dengan mendekatkan diri pada-Nya melalui berbagai macam ibadah sunnah, dengan berdoa pada-Nya, dll. menurut saya, itu semua (salah satu) cara untuk memaksa Allah untuk mengulurkan jodoh kita ke kita (tanpa kita sadari) haha =D (sotoy lagi, cmiiw)

btw, kok jadi bahas beginian? yasudahlah, jadi mungkin hal di bawah ini bisa membantu mencegah terjadinya VMJ:

a. Hindari longgarnya regulasi atau tata nilai tidak tertulis terkait hubungan ikhwan dan akhwat
buat aja kesepakatan tidak tertulis untuk berinteraksi, misalnya: komunikasi lintas gender (media apapun, langsung maupun tidak langsung) tidak diperkenankan pada pukul 21.00 malem sampai pukul 05.00 pagi, itu pun harus penting dan emang cuma bisa sama lawan jenis (coba mikir lagi, kalo bisa ke temen yang satu gender, kenapa mesti komunikasi sama lawan jenis?), dan tetap menegakkan adab wajib lainnya: tidak berikhtilat, tidak berkhalwat, menundukan pandangan, menutup aurat, dll.
oia, bahasanya pun harus efisien: to the point (tidak basa-basi) dan wajar (tidak kaku/tidak lebay)
bahkan untuk sms taushiyyah pun harus begitu. kemudian, bisa juga dengan memanfaatkan media terbuka bersama semcem milis atau fesbuk biar gak berduaan.
kemudian, silakan tetap jaga regulasi ini hingga kapanpun. insya Allah jadi budaya yang positif =D

b. Hindari lemahnya ukhuwah diantara kader sesama gender
biasanya begini nih. jauh sama temen satu gender, jadinya malah curhat lintas gender.
eratkan ukhuwwah dengan mengadakan dan memperbanyak kegiatan per gender. misalnya: yang ikhwan maen bola bareng, yang akhwat rujakan atau belajar merajut.

c. Saling menjaga
ikhwan jaga akhwat, akhwat jaga ikhwan. tapi dengan jalur orang ketiga.
misal ada ikhwan bermasalah. coba akhwat yang sadar meminta tolong ke ikhwan lainnya (yang dekat dengan ikhwan bermasalah itu dan bisa dipercaya) untuk melakukan pencegahan lebih lanjut. begitu juga sebaliknya.
juga dengan menjaga ucapan, jangan terlalu dihalus-haluskan. kadang gitu, akhwat kalo ngomong ke ikhwan pelan banget, tapi pas mesen bakso suaranya kenceng melengking.
yang penting tegas, tidak mendayu dan tidak meninggi. jangan sampe pembicaraan ikhwan dan akhwat yang sudah tertarbiyah gak ada bedanya sama preman di pasar.

Cara mengobati

nah, kalo misalnya udah kejadian, jangan dijauhi tapi justru didekati dari hati ke hati.
karena ukhuwah itu seperti mata dan jari. ketika jari terluka, mata menangis. ketika mata menangis, jari menghapus air mata seolah lupa akan lukanya (cuih, cuih! =D)
kadang mereka yang tergoda itu mengetes kita, apakah peduli atau justru malah mengucilkan.
deketin dengan strategi berikut ini:

a. Mengenali siapa yang terjerat virus ini
kenali sifat atau karakternya untuk menentukan treatment yang tepat.
apakah dia tipe orang yang cukup dibiarkan saja nanti juga sadar sendiri, atau perlu didekati baik-baik dan dibantu persoalannya itu.
apakah perlu disindir secara halus, atau perlu diberitahu secara terang-terangan (tapi jangan di depan umum juga)
dan hal-hal lain yang bisa membantu mengobati virus tersebut.

b. Pendekatan solusi
– adakan diskusi rutin. tidak mengapa bila tidak terjadwal, tetapi memiliki alur (tiap pertemuan memiliki targetan). hal tersebut untuk menyadarkan tanpa menghakimi. bisa diawali dengan hal-hal yang ia sukai, misal ngomongin piala dunia.
– menegaskan regulasi atau tata nilai, dan bawa pada kesimpulan bahwa itu semua untuk menjaga kita.
– mengingatkan melalui mentor yang bersangkutan, jangan sampai lepas mentoringnya
– menjaganya tetap dalam lingkungan dakwah. karena selama ia masih dalam lingkungan dakwah ia akan lebih terjaga, beri amanah lebih agar ia lebih fokus pada kegiatan ketimbang urusan hatinya dengan lawan jenis.
– mendoakan agar suatu hari sadar, semoga Allah kembali memberinya hidayah dan kembali bersama kita dalam barisan yang rapi dan teratur.

c. Menjalankan solusi-solusi dengan sabar, telaten, dan rutin
intinya istiqomah. percayalah, tiada yang lebih sakit daripada kehilangan saudara di jalan ini…

“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan urusan pokokku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang ke sanalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini tambahan bagiku dalam setiap kebaikan dan (jadikanlah) kematian itu istirahat bagiku dari setiap keburukan.” (HR. Muslim)

One thought on “tentang VMJ1

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.