Cihampelas Walk: Fun in Every Steps

Kota Bandung memiliki banyak mall besar, salah satunya adalah Cihampelas Walk atau sering disingkat menjadi CiWalk. CiWalk adalah sebuah kompleks mall yang terletak di Jalan Cihampelas 160 Bandung. Bangunan ini dirancang oleh Fauzan Noe’man, B. FA, B.Arch., IAI. pimpinan PT. Birano (Biro Arsitektur Achmad Noe’man) dengan klien (pemilik modal) yang bernama Deni. CiWalk memiliki luas lahan sekitar 3,5 hektar dengan kontur agak bertebing. Dari areal seluas itu, hanya 1/3 dari keseluruhan area yang digunakan untuk bangunan pertokoan, sedangkan sisanya digunakan untuk area parkir dan lahan hijau.

CiWalk memang diproyeksikan menjadi suatu one stop shopping yang digemari anak-anak, remaja, mahasiswa, eksekutif muda, dan keluarga. Oleh karena itu, CiWalk dibagi dalam tiga area yang terpisah dan spesifik. Area utama mall berada di sebuah bangunan tiga lantai yang terletak di bagian tengah. Fasadnya berupa lengkung warna-warni dipagari pohon-pohon tinggi yang rimbun.

Seperti mall pada umumnya, bangunan utama ini memiliki atrium untuk memaksimalkan sinar matahari yang masuk dan untuk sirkulasi udara. Dua area lain mendampingi bangunan utama di sisi kiri dan kanannya dengan konsep open air (terbuka). Area sebelah kanan bangunan atau lebih dikenal dengan nama Young Street terdiri dari gerai dan toko untuk anak-anak muda. Sementara area kiri yang berada di kontur lebih rendah dan sering disebut dengan Broadway lebih ditujukan untuk para pengunjung dewasa. Blok bangunan CiWalk mencakup 150 toko, yang terdiri dari: fashion, kafe, restoran, foodcourt, bioskop, games dan playground.

Proses mendesain CiWalk ini begitu menarik. Bermula ketika sang arsitek melihat kondisi existing CiWalk sebelum terbangun yang penuh dengan pepohonan besar dan semak belukar serta membelakangi sungai Cikapundung, beliau langsung membayangkan Bandung tempo dulu dengan pepohonan besar sebagai ciri khasnya. Hal tersebutlah yang menjadikan desain CiWalk ini dibuat tidak menebang pepohonan yang ada.

Akan tetapi, sang pemilik modal yang terpengaruh mall yang ada di Kanada dan Singapura, membuat desain CiWalk bergeser menjadi mall kosmopolitan, dengan catatan harus tetap mempertahankan lansekap berkontur dan pepohonan besar. Desain inilah yang kemudian menjadi ciri khas CiWalk ketika mulai beroperasi sekitar tahun 2003-2004.

Konsep CiWalk adalah perpaduan antara pusat perbelanjaan modern dengan suasana alam kota Bandung yang asri dan menyegarkan. Pengunjung dibuat berjalan kaki diantara koridor-koridor terbuka untuk bisa memasuki area perbelanjaan. Konsep ini berhasil dilakukan, karena memang terbukti akan kenyamanan pengunjung ketika berjalan kaki. Kenyamanan ini muncul dari teduhnya koridor-koridor tersebut, karena begitu banyaknya pohon dan bangunan. Hanya saja untuk memasuki kompleks CiWalk ini sepertinya hanya ditujukan bagi para pengendara kendaraan saja. Entrance CiWalk kurang memfasilitasi pejalan kaki sehingga terasa kurang aman ketika ingin melintasi jalan masuk. Terlepas dari itu semua, konsep ‘menyembunyikan’ mall di bagian belakang site termasuk keputusan yang baik, karena bisa mengurangi kemacetan yang sangat sering terjadi di jalan Cihampelas. Terutama di akhir pekan yang sering dibanjiri oleh pendatang dari Jakarta. Dengan konsep ‘menyembunyikan’ seperti itu akan mengendalikan mobilitas kendaraan dan pengunjung pun bisa merasakan kesegaran udara Bandung. Sesuai dengan konsep rancangan di awal tulisan.

Poin penting yang dapat dipelajari dari CiWalk ini adalah bagaimana arsitek dapat bersikap empati terhadap lingkungan. Bisa jadi hal tersebut dilatari oleh keluarga sang arsitek yang relijius. Fauzan Noe’man adalah seorang arsitek lulusan Rhode Island School of Design. Ayahnya, Achmad Noe’man, sering merancang Masjid besar dan sangat mencintai rumah Allah tersebut. Kecintaan inilah yang beliau wariskan kepada empat anaknya, termasuk Fauzan, sebagaimana yang beliau terima ‘warisan’ itu dari ayahnya: H.M. Djamhari, saudagar batik dan tokoh Muhammadiyah Garut, Jawa Barat. Nuansa yang penuh spiritualitas ini yang membuat Fauzan berpikir: “Ya Allah, apakah pohon-pohon sebesar ini akan dilibas begitu saja?” ketika pertama kali melihat site CiWalk sebelum dibangun. Dan itu jualah yang akhirnya menjelaskan mengapa musala di CiWalk merupakan musala yang baik dan nyaman untuk beribadah umat Islam yang berkunjung ke CiWalk.

Beberapa rancangan CiWalk yang ‘menghormati’ alam dapat dilihat ketika bangunan itu seolah ‘mengalah’ pada pepohonan yang sudah ada sejak lama. Bangunan CiWalk bagaikan meliuk-liuk diantara pepohonan. Sayangnya, beberapa cabang-cabang pohon tersebut dipotong sehingga yang tersisa tinggal-lah batang utamanya. Kemudian, bisa dilihat dari desainnya yang mengikuti kontur dan mengurangi cut and fill. Kisah ini akan lebih jelas bila kita berada di plaza utama CiWalk yang berada tepat di depan bangunan utama. Plaza ini menjadi spatio temporal, yaitu suatu ruang yang memungkinkan diubah-ubah konfigurasinya. Pernah plaza yang disebut Union Square ini dibuat semacam tenda kecil untuk makan ataupun stan-stan pameran produk-produk baru, pernah juga dijadikan tempat menggelar acara musik. Hanya saja, plaza seluas ini hanya dipenuhi oleh paving block yang kurang menyerap panas. Tetapi itu sudah cukup untuk menciptakan sebuah ‘kota’ di dalam kota atau dengan kata lain membuat ruang privat seolah ruang publik. Desain yang ekologis ini jarang ditemui pada perancangan fasilitas komersial di kota-kota lain. Alih-alih ‘menghormati’ alam, rancangan fasilitas komersial itu cenderung melanggara aturan semacam KDB atau KLB hanya karena pertimbangan nilai investasi yang didominasi dari pemikiran kapitalisme.

Akan tetapi, bukan berarti CiWalk bebas dari pengaruh kapitalisme, justru desain CiWalk yang modern berbanding terbalik dengan permukiman di sekitaran bantaran sungai Cikapundung yang bisa dibilang terkesan kumuh. Fenomena ini seakan-akan menjadi suatu kesenjangan sosial dan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Bisa jadi para pedagang di sekitar area ini kehilangan pelanggan (yang kebanyakan mahasiswa), sejak adanya mall besar ini. Selain itu, desain yang modern juga membuat struktur bangunan menjadi sedikit boros. Tuntutan bentuk bangunan yang dinamis membuat kolom-kolomnya terlalu berdekatan dan balok-balok yang tersusun jadi agak berantakan. Belum lagi, kolom-kolom di koridor CiWalk berdiri miring tidak seperti kolom pada umumnya yang tegak lurus.

Secara keseluruhan, saya sangat mengapresiasi positif terkait desain kompleks mall CiWalk ini karena menerapkan green architecture. Salah satu contoh lainnya adalah dengan menambah tanaman yang langsung menyentuh tanah pada lanskapnya. Dengan begitu pohon tersebut akan berinteraksi dan bergabung dengan organisme-organisme lainnya di tanah tersebut. Hal ini tidak akan didapatkan bila tanaman tersebut ditaruh di atas pot. Kemudian, pohon tersebut ditemani tanaman-tanaman rendah sehingga warna coklat tanah bisa tertutupi oleh warna hijau daunnya. Tanaman rendah itu juga berfungsi untuk mengurangi kotornya paving block akibat percikkan tanah bila terjadi hujan.

Kritik saya pada CiWalk hanya ketika mall ini berada pada waktu malam hari. Sepanjang koridor, terdapat lampu hias yang tidak terlalu terang tetapi boros energi listrik. Selain itu, ketika malam hari mulai banyak pengunjung wanita yang memakai pakaian serba mini. Mungkin salah satu dampak desain CiWalk yang modern menuntut para pengunjung untuk selalu mengikuti tren fashion dunia yang berkiblat ke barat. Padahal tren tersebut sangat bertolak belakang dengan budaya Indonesia yang terkenal dengan keramahannya dan kesantunannya, termasuk dalam hal berpakaian.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s