Untuk yang Berbahagia

Ahad, 19 September 2010

Huaa, senangnya bisa kembali ke Indonesia. Kampung halamanku tercinta. Empat tahun yang kuhabiskan di Eastern Mediterranean University (EMU), Turki, untuk mendalami keilmuan arsitektur, sungguh masa-masa yang takkan kulupakan karena Turki memang negara yang indah. Disana saya jatuh cinta beberapa kali. Pada Karang Pamukkale di provinsi Denizli, pada kota Aphrodisias dan kota Herapolis yang penuh bangunan bersejarah, pada pantai-pantai yang indah di Provinsi Antalia, pada susunan batu unik Cappadocia, pada roti kebab, dan tentu saja pada gadis-gadis Turki. Nah, yang terakhir tadi sangat spesial, entah mengapa ketika melihat gadis-gadis Turki saya merasa bahwa kecantikan gadis-gadis Indonesia tidak ada apa-apanya, bahkan seujung kukunya pun tidak. Perpaduan mata yang indah, hidung yang mancung, rambut hitam legam, dan bibir tipis menawan itu tidak ada di Indonesia. Ah, sudahlah. Sekarang saatnya menumpahkan segala rindu yang begitu membuncah di dada kepada ummi, abi, dan adik-adik.

Senin, 20 September 2010

Hari kedua di Indonesia. Terasa ada yang hilang di hati, sepertinya jiwa saya tertinggal di sana, di Turki. Kerinduan ini kembali muncul, kepada makhluk Allah yang disebut perempuan. Akan tetapi yang perempuan yang kumaksud adalah perempuan Turki. Jadi ingat, kemarin berbincang dengan ummi semalam suntuk. Sepertinya ummi sudah sangat rindu pada anak pertama yang dilahirkan tetapi yang kedua yang dikandungnya ini. Dari situ saya tahu, ternyata ummi mengharapkan saya segera menikah. Mungkin tidak ya, saya menikah dengan gadis Turki?

Selasa, 21 September 2010

Keinginan ummi agar saya segera menikah bukan gurauan belaka. Tadi ummi mengajak saya jalan-jalan keliling kompleks rumah. Lalu ummi menunjuk seorang gadis berkerudung lebar hingga siku dan memakai jilbab yang membuat saya hampir tidak bisa melihat sepatunya. Namanya Raudhatul Jannati. Cantik sih, tetapi beda jauh sama gadis Turki. Saya agak keberatan, tetapi ummi bilang bahwa ummi terlanjur sayang pada gadis itu. Dia pernah menolong ummi ketika ummi terkilir kemudian memijit ummi selama beberapa hari. Pada saat itulah ummi tahu kalau dia adalah gadis yang paham agama dan pintar secara akademis. Dia adalah sarjana berpredikat cumlaude program studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Namun, hingga kini saya masih mendambakan memperistri seorang Turki.

Rabu, 22 September 2010

Saya bingung sama diri saya sendiri. Tidak tahu dihipnotis siapa, hari ini saya sekeluarga berkunjung ke kediaman Raudhatul Jannati dan saya mengkhitbahnya. Cukup singkat, kami hanya saling memberi info tentang diri kami masing-masing yang kira-kira dibutuhkan. Setelah itu selesai, jawabannya akan dikirim besok.

Kamis, 23 September 2010

Positif. Itulah tanggapan darinya, calon istriku itu. Dia memintaku untuk menyegerakan akad, yaitu besok. Menurutnya, hal itu ditujukan untuk menghindari waswas syaitan yang bisa jadi menimbulkan keraguan di dalam hati. Saya pun semakin bingung, bisa-bisanya dia begitu mantap dengan lelaki yang tidak jelas asal-usulnya seperti saya. Dan hati saya merasa sesak menerima kenyataan tidak bisa memiliki istri orang Turki, karena saya berprinsip tidak akan poligami. Bukan mengharamkannya, tetapi hanya tidak suka. Sama seperti ketidaksukaan Allah kepada thalaq: tidak haram tetapi thalaq dibenci oleh Allah. Oh iya, dia juga memintaku untuk melafalkan surat Ar Rahman sebagai mahar, berarti malam ini harus muraja’ah lagi setelah mengabarkan berita pernikahan ini kepada sanak famili dan sahabat-sahabat seperjuangan di SMA dan di ITB.

Jumat, 24 September 2010

Alhamdulillah, akhirnya lengkap sudah tulang rusuk ini. Saya sudah sah memiliki istri. Pagi itu, disaksikan oleh keluarga besarku dan sahabat-sahabat terdekat, saya ijab-kabul dengan ayah dari seorang gadis Indonesia bernama Raudhatul Jannati. Tangan saya bergetar hebat ketika menjabat tangannya, suara pun gemetar ketika mengucapkannya. Tak terasa air mata mengalir di pipi. Saya tak bisa menjelaskan apakah itu tangis bahagia atau tangis derita. Mimpi beristrikan gadis Turki sudah pupus dan harus dikubur dalam-dalam. Setelah akad, saya dipersilakan untuk mengucapkan sepatah kata. Dengan bodohnya, saya bilang begini: “…Waktu pertama kali melihat Raudhah, saya merasa kalau dia tuh aneh. Habis, bidadari kok gak ada sayapnya…”

Sabtu, 25 September 2010

Tadi malam saya tidur di ruang tamu. Saya belum menyentuhnya sedikit pun, bahkan saya masih merasa bersalah kalau memandang wajahnya. Mungkin belum terbiasa, karena sejak SMA saya senantiasa menjaga kulit saya dari bersentuhan dengan lawan jenis. Paginya saya langsung pergi untuk melamar pekerjaan di beberapa konsultan arsitektur, tanpa berpamitan pada Raudhah yang sedang di kamar mandi.

Ahad, 26 September 2010

Hhh… Saya merasa semakin bersalah para Raudhah. Saya belum pernah menyentuhnya, bahkan saya juga belum pernah melihat dirinya tanpa kerudung. Oleh karena itu, malam ini saya akan berbuat sesuatu. Saya pun mengirim SMS padanya, “Nanti malam insya Allah saya ke kamarmu. Pakailah baju pengantinmu.” Selepas isya di Masjid dekat rumah, saya memohon kepada Allah agar diberi kerelaan di dalam hati saya untuk Raudhah. Saya pun pulang. Sesampainya di pintu kamar Raudhah, saya mengetuk pelan lalu membukanya malu-malu. Kulihat Raudhah sedang duduk anggun di tepian tempat tidur. Dengan baju pengantin, tanpa make up, persis ketika hari dimana kami menikah. Kuucap salam dan dia jawab dengan lembut. Masih malu, saya menghampirinya dan memberanikan diri untuk duduk di sampingnya, meski masih agak jauh. Kutolehkan wajah hingga seluruh wajahnya bisa kulihat dengan jelas. Kuselami pandangan matanya yang bercahaya sembari berdoa: “Baarakallahu likulli waa hidimminna fii shaahibih. Semoga Allah memberkahi masing-masing diantara kita terhadap teman hidupnya.” Detak jantung serasa tidak karuan ketika tangan saya mencoba meraih nashiyah-nya. Itulah sentuhan pertama saya. Setelah mengucapkan lafadz basmalah, saya kembali berdoa: “Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairimaa jabaltahaa ‘alaihi wa a’udzubika minsyarrihaa wasyarrimaa jabaltaha ‘alaih. Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya.” Kemudian, dia kuajak shalat berjamaah berdua. Setelah saya bermunajat kepada Allah, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang dan menangis. Dengan tersedu sedan ia mengisak, “Aa kemana aja? Kalau boleh jujur, selama ini saya merasa asing di rumah sendiri. Ketahuilah, Allah telah menghalalkan saya untuk menjadi pendamping aa dan saya pun telah rela menjadi pendamping aa.” Saya berbalik kemudian hanya tersenyum biasa. Bahkan sudah begitu pun, hati saya masih belum cair untuknya. Untuk menenangkannya, saya mengambilkan minum untuknya. Setelah agak lama, saya mengambil sebuah kertas A2 dan mengajak Raudhah untuk mendekat. Saya mengajaknya untuk membuat ‘life plan’ ke depan. Ketika waktu menunjukkan pukul 22.00, saya mulai mengantuk dan minta izin untuk tidur duluan.

Senin, 27 September 2010

Tiba-tiba terbangun dari tidur. Saya benar-benar kaget ketika mendapati seorang wanita sedang tidur di samping, saya sempat lupa bahwa saya telah menikah dan itu adalah istri saya. Kupandangi wajahnya, baru kali ini saya melihat rambutnya. Ah, pikiranku malah melayang menuju Turki dan membayangkan gadis-gadis di sana. Astaghfirullah, buru-buru saya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian shalat tahajud.

Selasa, 28 September 2010

Siang ini saya bertemu dengan paman saya, beliau tidak hadir di walimah saya padahal kami cukup dekat. Ketika SD saya pernah diasuh olehnya, karena pada saat itu bapak saya dipindahtugaskan ke luar kota. Lantas seluruh keluarga mengikuti beliau, kecuali saya yang dititipkan ke paman. Entah mengapa, saya jadi ingin bercerita tentang permasalahan selama ini. Saya akhirnya bilang bahwa saya sangat tergila-gila dengan gadis Turki. Wah, paman kaget bukan main, dia pun bercerita tentang kisah nyata gadis Turki. Paman memang pernah ke Turki, bahkan dialah yang merekomendasikan Turki sebagai tujuan untuk mencari ilmu. Singkat cerita, paman punya seorang teman, orang Indonesia, dan dia menikah dengan gadis Turki. Kecantikan istrinya luar biasa. Teman paman itu banting tulang untuk membahagiakan istrinya. Taraf hidup gadis Turki memang agak mahal dan akhrinya teman paman itu bangkrut karena jerih payahnya selalu dihabiskan oleh istrinya. Setelah tidak punya apa-apa lagi, istrinya meninggalkan teman paman itu. Ia kembali kepada mantan pacarnya yang pernah mengajaknya berzina. Tentu hati teman paman itu hancur bukan kepalang. Di akhir cerita, paman berpesan: meski tidak semua perempuan Turki tidak seperti itu, syukurilah kamu diberikan istri yang sholihah. Deg! Kata-kata itu sangat menohok, perlahan hati yang keras itu luluh jua. Tepian mata mulai mengeluarkan butir-butir kristal. Tiba-tiba segenap relung hati dipenuhi rasa rindu pada Raudhah, saya ingin segera menemuinya, tetapi karena sudah pukul 1 pagi, paman menahan dan memintaku untuk menginap saja.

Rabu, 29 September 2010

Saya terpaksa kembali mencari nafkah dengan mengenakan baju paman. Saya berencana membuat kejutan untuk Raudhah malam ini. Saya ingin memberinya hadiah yang paling indah! Hanya saja… Ah, saya masih ingat dengan jelas saat-saat itu. Tepat setelah selesai shalat dzuhur, tiba-tiba ada SMS masuk. Dari ummi, intinya memintaku untuk pulang ke rumah segera. Waktu itu perasaan saya jadi langsung tidak enak. Tanpa menunggu apapun, saya langsung melaju ke rumah. Ketika sampai ke kompleks, saya melihat banyak bendera kuning sepanjang jalan menuju rumah. Hati semakin tidak enak, saya pun mempercepat langkah. Ya, saya harus menerima kenyataan bahwa Raudhah, istri saya, baru saja meninggal dunia karena tertabrak mobil ketika hendak membuang sampah ke tempat pembuangan sampah di depan kompleks. Saya hampir menjadi gila saat itu. Saya teriak sejadi-jadinya memanggil Raudhah untuk kembali. Saat itu saya terus bertanya dalam hati: mengapa ketika rasa cinta itu muncul, engkau malah meninggalkan saya? Ummi menenangkan saya dengan mengajak saya ke kamar. Setelah agak tenang, saya memohon agar ummi meninggalkan saya sendiri di kamar. Saya langsung membenamkan kepala saya ke bantal yang ada di situ untuk kembali menangis. Dari balik bantal saya menemukan beberapa lembar kertas. Dengan diiringi rasa penasaran, saya membacanya. Itu adalah tulisan Raudhah yang ia tulis semenjak saya menikahinya. Di awal diceritakan bahwa betapa senang hatinya dipersunting lelaki yang faqih dan berakhlak mulia. Terasa gerimis dalam hati saya. Kemudian, tulisannya semakin bernuansa sedih dan terus bertanya-tanya mengapa saya bersikap dingin terhadapnya. Mata saya mulai berkaca-kaca. Tertulis di kertas itu bahwa ia akan bertahan mengarungi ini semua, karena Raudhah berprinsip bahwa ketika dia telah menentukan seorang pendamping, maka ia akan mati-matian menjaga kebahagiaan suaminya itu. Pipi saya sudah basah oleh air mata. Saya juga baru tahu dari tulisan itu kalau selama ini dia lebih sering shaum sunnah untuk menahan hasrat biologisnya yang belum pernah saya penuhi. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Wahai Raudhah, memang engkau adalah seorang wanita yang shalihah, sedangkan saya? Siapa saya ini? Berani-beraninya menikahi wanita semulia dirimu. Semoga engkau diterima di sisi-Nya dan kita dipertemukan lagi di surga. Bila diperbolehkan untuk mengajukan sebuah pinta, tunggulah saya di tepian telaga Kautsar, akan kutunjukkan besarnya rasa cintaku saat ini…

 

(terinspirasi dari Pudarnya Pesona Cleopatra – Habibburahman El Shirazy)
Untuk yang merasa kecantikan/ketampanan adalah segalanya. Sungguh itu tidak ada faedahnya ketika berhadapan dengan Allah kelak.

 

“Pernikahan adalah akad untuk beribadah kepada Allah, akad untuk menegakkan syariat Allah, dan akad untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah… Pernikahan juga bermakna akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, dan akad untuk membangun peradaban masa depan… Pernikahan adalah akad untuk segala hal yang bernama kebaikan..” (Cahyadi Takariawan)

 
Untuk yang akan, baru saja, maupun yang sudah lama menikah:

  • Jadilah seperti mata dan jari. Ketika jari terluka, mata menangis seolah turut merasakan sakit. Ketika mata menangis, jari menghapus air mata seolah lupa akan lukanya.
  • Bagai beberapa benda berserakan yang sedang menuju satu titik, benda itu makin lama akan semakin berdekatan. Begitu juga kita, ketika kita hanya menuju pada satu Allah, hati kita pun akan semakin berdekatan.
  • Barakallahu laka, barakallahu ‘alayka, wa jama’a bayna kuma fii khair…

 
**dibuat di Bandung

4 thoughts on “Untuk yang Berbahagia

  1. Ping-balik: Untuk yang Berbahagia (2) | perjalanan seorang arsitek merancang peradaban islam

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s