Resensi Artikel Kritik Arsitektur

EXPERIENCING ARCHITECTURE WITH SEVEN SENSES, NOT ONE
oleh Robert Campbell, FAIA

Ringkasan Artikel

Di Boston terdapat dua bangunan dengan desain yang menarik menurut caranya masing-masing.
Akan tetapi, justru itu membuat masa depan dunia arsitektur patut kita khawatirkan, karena kedua bangunan tersebut mematikan lima, enam, atau ketujuh indera kita.

Pertama, kantor Stasiun PBS lokal, WGBH, karya Polshek Partnership

Keterangan:

  • Fasadnya bukan lagi arsitektur, melainkan mural LED setinggi 30 kaki yang bisa berubah setiap harinya.
  • Kalo sudah seperti ini, siapa lagi yang butuh arsitektur?
  • Mural GBH merupakan contoh serius dimana fasad bangunan bukan lagi solid materials, melainkan slide-show gambar-gambar.
  • Sebut saja digital architecture yang menggabungkan arsitektur dengan media.
  • Untungnya, Pemerintah di Boston sadar dan mengeluarkan aturan untuk tidak menggunakan gambar bergerak lagi.
  • Robert Venturi pernah mengusulkan agar setiap fasad menggunakan layar yang menampilkan gambar bergerak.

Kedua, toko Neiman Marcus karya Elkus/Manfredi



Keterangan:

  • Billboard besar tanpa kata
  • Tinggi 40 kaki
  • Panjang 2x lapangan sepakbola
  • Dari baja tipis berwarna perunggu dan perak
  • Seperti kain yang tertiup angin

Dari sisi Arsitektur, Neiman sangat jauh. Ia menjadikan arsitektur menjadi dua dimensi dan satu indera saja, yaitu visual.
Neiman (dan Mural WGBH) hanya bisa dinikmati secara visual. Fasad Neiman seperti bendera berkibar yang diiringi oleh lagu kebangsaan nasional.
Komputer menjadi musuh, karena komputer cenderung menjadikan setiap desain bangunan terlihat translucent, berwarna, dan seperti weightless plastic.

Pembandingan

Sebelum digital lahir, arsitektur adalah pengalaman semua indera manusia.

Ada sebuah gereja kecil di hill town di Italia. Pertama kali datang kita akan merasa sakit di lutut sebagai tanda bahwa kita telah mendakit suatu ketinggian. Lalu masuk ke dalam bangunan, mendadak temperatur turun dan kelembaban naik. Ada suara berbisik, namun belum berisik. Lampu redup setelah kerlap-kerlip piazza, namun perlahan menjadi cerah seiring pupil saya melebar. Suara motor di luar, memperkuat perasaan bahwa saya berada di dalam. Tercium bau lilin, batu tua, dan lempung. Berjalan ke depan, terasa tekstur lantai yang telah diukir selama berabad-abad oleh kaki lainnya. Dan cara ruang dikonfigurasi saat aku melaluinya.

Indera kinetik mungkin kualitas yang terpenting dari arsitektur

Kutipan “An Architecture of the Seven Senses” karya Juhani Pallasmaa

Bagaimana bahan memberitahu kita tidak hanya tempat, tetapi juga waktu: bahan alam menyatakan usia dan sejarah bagaimana ia dibuat dan digunakan oleh manusia.

Bagaimana keheningan adalah suara imajiner: setelah kericuhan ketika membangun, bangunan menjadi diam tak bersuara.

Bagaimana kita bersosialisasi dengan bangunan, bukan hanya melihat mereka. Kita berdialog secara terus-menerus dan berinteraksi dengan lingkungan, hingga sampai ke tahap sulit untuk melepaskan citra diri dari keberadaannya secara ruang dan situasi.

Penutup

Ketika kita menyukai sebuah bangunan, tentu kita berharap agar tidak ada replikanya. Misal, menara Eiffel, itu harus menjadi satu-satunya menara di Paris.
Saya berharap yang demikian untuk GBH dan Neiman. Saya menyukai keduanya, tetapi saya berharap mereka bukanlah awal sebuah tren.

Metode Kritik

Metode kritik yang dilakukan oleh Robert Campbell, FAIA tidak satu macam.
Pertama, ia mengawali kritiknya terhadap 2 bangunan secara normatif. Menurutnya arsitektur harus menggunakan material yang solid, terasa ruangnya (3D), dan dapat dirasakan oleh indera.
Kemudian, ia membandingkannya dengan sebuah bangunan yang baik menurut Robert Campbell.
Dia memberikan tawaran dari sudut pandangnya namun tidak menjelaskan konteks lingkungan, konsep perancangan sang arsitek, maupun latar belakang sang arsitek.

Pengetahuan Arsitektural

Dari artikel tersebut, saya mendapat hal menarik bahwa memang arsitektur yang baik adalah yang memanusiakan manusia, yaitu arsitektur yang menyentuh setiap indera yang kita punya.
Semenjak dunia digital merebak, kita sering kehilangan sisi manusia kita akibat begitu banyaknya hal yang membuat kita lupa akan hal itu, karena kita didoktrin menjadi lebih konsumtif.

Teknik Tulisan yang Menarik

  1. Judul
    Experiencing architecture with seven senses, not one
    Menjadi menarik karena indera kita ada lima, sedangkan judul artikel ini menyebutnya tujuh.
  2. Pembukaan
    “Instead of experiencing our being in the world, we behold it from outside as spectators of images projected on the surface of the retina.” (Juhani Pallasmaa)
    Is architecture turning into a purely visual sport? Will it be just like video games, except that it won’t have all those crashing noises?
    Pembukaan artikel ini adalah sebuah kutipan. Kemudian dilanjutkan dengan dua pertanyaan seolah mengajak pembaca untuk berdialog. Tulisan pun menjadi interaktif.
  3. Mengkritik dengan humor
    Purely as architecture, Neiman’s is a knockout. But it’s architecture reduced to two dimensions and one sense, the visual. As with the WGBH mural, this is architecture to look at, preferably from a car. It’s like an extra-wide screen at a drive-in, showing the flag while the national anthem plays.
    Maybe someday, architecture won’t be up to the architects at all. Driving along in our bean-sprout-fueled cars, we’ll simply flip a switch to create our own environment.
    Menjadi menarik karena dengan sedikit humor mampu menjaga perasaan orang yang dikritik sehingga kritikan yang kita berikan dapat ia terima.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s