Campus Center ITB: Mencoba Berdialog dengan Bangunan dan Mahasiswa

“Bahasa adalah inti untuk membuat, menggunakan, dan memahami bangunan.” (Tom Narkus)

Bagaimana cara kita mengetahui proses perancangan suatu arsitektur? Perlukah kita mengetahui bagaimana proses perancangan suatu arsitektur?

Menurut John Evelyn, ada beberapa aspek yang membuat kita bisa menikmati arsitektur dengan baik, yaitu: Ingenio (a man of idea), Sumptuarius (the patron), Manuarius (workmen), dan Verbarum (word). Tiga aspek pertama yang disebutkan, hanya berpengaruh hingga suatu bangunan berdiri saja, kecuali adanya revonasi.

Dari teori yang dikemukakan oleh John Evelyn tersebut, izinkan saya untuk melakukan pembahasan di aspek keempat, yaitu: Verbarum. Kenapa verbarum? Karena seperti kuot yang dituturkan Tom Narkus di awal tulisan: tanpa adanya tulisan, kita tidak bisa menikmati arsitektur secara hakiki.

Banyak bangunan di belahan Bumi ini yang digunakan secara tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh sang arsitek dalam desainnya. Salah satu sebab yang membuat hal itu terjadi adalah tidak ada tulisan yang membahas konsep rancangan bangunan tersebut. Tidak semua orang bisa membaca arsitektur tanpa ada penjelasan tertulis. Maka dari itu, kita bisa simpulkan bahwa Verbarum memang aspek penting dalam arsitektur, karena dari situ kita bisa tahu hal implisit dari suatu karya.

Salah satu hal yang sangat menarik untuk dibahas dalam arsitektur adalah bagaimana proses desain itu bisa kita temukan. Kita sering menemukan bangunan yang dikritik secara negatif ketika dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi ketika kita tahu seperti apa proses dan konsep perancangannya. Kita akan bergumam “Ooo…”

Mungkin, itulah yang dialami oleh Campus Center (CC) di Institut Teknologi Bandung (ITB) ketika awal berdirinya.

Pada tahun 1970, Prof. Slamet Wirasonjaya dengan timnya ditugaskan untuk menyusun masterplan dan melakukan proyek renovasi sekaligus pembangunan ITB hingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Masterplan ini disusun berdasarkan sense of identity, sejarah masa lalu tempat tersebut, dan visi tempat tersebut di masa depan. Dari konsep tersebut, Prof. Slamet Wirasonjaya dengan timnya menyusun kampus ITB yang dibagi menjadi 3 zona: zona heritage atau zona tradisional, zona transisi, dan zona modern.

Zona heritage dimulai dari gerbang depan ITB hingga daerah Teknik Sipil dan Fisika. Di sini kita bisa melihat gaya arsitektur Indisch yang terkarakterisasi dengan kuat dalam bentuk atap-atap bangunannya. Zona heritage terdiri dari beberapa bangunan asli kompleks THS Bandung waktu itu yang masih berdiri hingga sekarang, di antaranya adalah Aula Barat dan Aula Timur.

Zona transisi sendiri diwakili oleh keempat labtek kembar di daerah Plaza Widya (Labtek V, VI, VII, VIII) yang memiliki bentuk atap yang masih mengadopsi bentuk atap tradisional Aula Barat dan Aula Timur, namun pemilihan materialnya sendiri telah mencerminkan masa modern, yaitu: bahan sintesis mirip sirap yang dibuat di pabrik.

Zona modern yang dimulai dari pusat gema hingga Sasana Budaya Ganesha, menggambarkan visi ITB di masa depan. Bangunan yang bisa kita sebut adalah Labtek Biru dengan tangga double helix-nya, gedung PAU, dan Perpustakaan Pusat ITB.

Hanya saja, saat ini ada yang ‘merusak’ pembagian zona dari kampus ITB tersebut, yaitu bangunan yang sekarang disebut dengan CC yang berdiri diantara zona heritage dan transisi, namun berlanggam modern.

Apa maksud sang arsitek memilih desain seperti itu tidak akan kita pahami bila hanya melihat bangunan itu saja. Kita tidak akan pernah mengerti meski memelototinya selama bertahun-tahun.

“Sebagai etalase ITB,” demikian penuturan Baskoro Tedjo, arsitek CC yang juga merupakan salah satu dosen program studi arsitektur, “tempat ITB memamerkan semua hasil pencapaiannya hingga sekarang dan cita-cita masa depan. Sebagai Ruang tamu ITB, menerima tamu-tamu dari luar. Sebagai tempat wakil-wakil mahasiswa dan kegiatan-kegiatannya.”

Gedung CC dimaksudkan untuk menjadi livingroom ITB. CC dirancang semaksimal mungkin untuk menampilkan citra ang bagus di mata para pengunjung dan masyarakat ITB sendiri. Keluarnya konsep unik dari perancangan CC, tidak lepas dari proses perancangannya.

J. Christopher Jones, penulis buku Design Methods: Seed of Human Futures, menyebutkan sedikitnya ada tiga tahapan dalam proses merancang, yaitu: Divergence, Transformation, dan Convergence.

Divergensi adalah tindakan yang memperluas sebuah batasan dalam mendesain sehingga memiliki ruangan yang cukup besar untuk mencari sebuah solusi. Tahap ini adalah waktu untuk mencari data sehingga didapatkan konteks isu, batas, dan konsekuensi dalam merancang. Maka dari itu, setiap usaha dilakukan untuk menghindari asumsi lama dan menyerap data baru.

Bila kita perhatikan dengan seksama, bangunan-bangunan di ITB memiliki beberapa benang merah. Diantaranya adalah atap, kolom, selasar, dan koridor. Namun, bila melihat bangunan-bangunan di zona modern, hanya kolom, selasar, dan koridor yang dipertahankan. Hal-hal yang telah disebutkan itulah yang sangat mempengaruhi rancangan CC.

Selain kontekstual bangunan, isu kontekstual terkait sejarah seharusnya dijadikan pertimbangan dalam desain. Sebelum CC dibangun, di lahan ini tadinya berdiri sebuah bangunan bernama Student Center (SC). Bisa dibilang gedung SC merupakan pusat segala kegiatan mahasiswa pada zamannya. Di dalamnya ada kantin, sekretariat unit, sekretariat Dewan Mahasiswa, serta livingroom tempat mahasiswa biasa membaca dan belajar.

Goris Mustaqim, sarjana Teknik Sipil ITB angkatan 2001 yang juga menjadi inisiator peresmian CC versi mahasiswa, mengatakan bahwa ada kesepakatan awal yang didapat antara pihak mahasiswa dan rektorat sebelum proses pemindahan sekretariat dari SC. Hal itu adalah janji rektorat bahwa pemindahan sekretariat unit di lokasi yang ditempati sekarang bersifat sementara dan posisinya akan dikembalikan lagi ke CC setelah gedung tersebut rampung dibuat. Hal ini seharusnya membuat desain CC mampu menampung berbagai macam kegiatan mahasiswa di dalamnya.

Tahapan kedua dalam merancang menurut J. Christopher Jones adalah Transformation. Transformasi adalah pembuatan pola, kreativitas tingkat tinggi, kilatan wawasan, perubahan tata cara, dugaan penuh inspirasi, dan segala sesuatu yang membuat merancang jadi menyenangkan.

Dari tahap divergensi, kita tahu bahwa: Pertama, kampus ITB memiliki kesamaan dalam hal atap, kolom, selasar, dan koridor. Kedua, bangunan di zona modern hanya mempertahankan kolom, selasar, dan koridor.

Keputusan desain dari sang perancang adalah CC merupakan bangunan modern yang menjadi gerbang kedua setelah gerbang utama di jalan Ganeca, sehingga bentuk bangunannya seolah replika dari gerbang utama.

Itulah sebabnya mengapa CC menggunakan atap datar, karena bangunan-bangunan di zona modern menggunakan atap yang cenderung datar sebagai ciri khas bangunan modern. Bila masih menggunakan atap miring tradisional seperti Aula Barat dan Aula Timur, kesan gerbangnya kurang terasa dibandingkan dengan penggunaan atap datar bangunan modern.

Gerbang kedua ini membuka jalan menuju zona transisi. Bentuk dua persegi panjang adalah pintu gerbangnya, sedangkan bentuk lingkaran di tengahnya adalah ruang melingkar setelah pintu gerbang utama. Maka dari itu, terciptalah sebuah kesan yang menggugah dengan menciptakan pola berulang dari gerbang kampus hingga CC.

Desain CC juga mempertahankan kolom-kolom bulat, sistem selasar, dan sistem koridor seperti yang ada pada bangunan lainnya di ITB. Hanya saja, alih-alih memakai batu kali seperti kebanyakan kolom di ITB, CC memakai beton yang dicampur dengan bebatuan kecil, mirip kerikil sebagai finishing-nya. Sedangkan sistem selasar dan koridor tetap dipakai sebagaimana bangunan lainnya di ITB, meski koridor yang menghubungkan CC dengan bangunan lainnya hanya satu.

Akan tetapi, saya tidak menemukan isu kontekstual terkait sejarah dalam desain CC. Ruangan CC yang tidak begitu banyak sehingga kurang bisa menampung berbagai kegiatan mahasiswa. Apalagi bangunan modern yang dipenuhi oleh kaca dengan rangka baja, tidak tepat bila dijadikan sekretariat unit kegiatan mahasiswa karena akan mengganggu privasi unit kegiatan yang bersangkutan.

Kemudian, tahap terakhir dalam proses merancang kali ini adalah Convergence. Pada tahap konvergensi, perancangan hampir seluruhnya selesai meski berada di bawah pengaruh otomasi desain. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketidakpastian sekunder progresif sampai hanya satu dari sekian banyak alternatif desain yang mungkin yang tersisa.

Konsep, massa, bentuk, dan grid kolom telah ditentukan. Tahapan ini tinggal membuat pola dari ruangan di dalam CC. Disebut di bawah pengaruh otomasi desain karena memang ruangan yang terbentuk sangat identik dan tinggal mengikuti bentuk bangunan dan grid kolom.

Pada tahap ini pun terjadi evaluasi. Desain awal rotunda yang berbentuk lingkaran di tengah CC ternyata terlalu tinggi sehingga mengganggu pemandangan ke Gunung Tangkuban Perahu. Oleh karena itu, rotunda tersebut diturunkan ketinggian bangunannya menjadi satu lantai saja.

Itulah penelusuran singkat jejak langkah proses perancangan gedung Campur Center ITB yang sungguh mengasyikan. Dan dari situ kita bisa tahu tingkat keberhasilan suatu rancangan: ternyata CC hanya berdialog dengan bangunan lainnya saja. Sedangkan dengan mahasiswa, dia kurang bersahabat. Oleh karena itu, tugas mahasiswalah untuk menghidupkan kembali semangat Student Center di gedung CC ini.

3 thoughts on “Campus Center ITB: Mencoba Berdialog dengan Bangunan dan Mahasiswa

  1. Ping-balik: Kantor Alumni ITB » Campus Center ITB: Mencoba Berdialog dengan Bangunan dan Mahasiswa

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s