[jurnal] Sharing Kewilayahan di pra-GIT (part 1)

Pendahuluan

QS Ali ‘Imran : 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

QS Asy Syuraa : 23
“…Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan…”

Dua ayat tentang perintah berdakwah. Pada surat Ali ‘Imran ayat 104 kita diperintahkan untuk memilih menjadi golongan yang beruntung, sedangkan pada surat Asy Syuraa ayat 23 kita diperintahkan untuk meluruskan niat untuk tidak mengharapkan upah dalam berdakwah tetapi mengharapkan saling berkasih sayang dalam kekeluargaan. Mungkin itulah mengapa jargon GAMAIS ITB berbunyi “Karena Kita Keluarga.”

Mari kita berangkat dari visi GAMAIS 2008-2013, yaitu “Satu Keluarga Menjadi Model LDK Nasional Berbasis Pembinaan dan Kompetensi Melingkupi Seluruh Sayap Dakwah Menuju Indonesia Islami.”

Dari satu kalimat di atas, tersebut sebuah frase “Indonesia Islami”, hal tersebut menunjukkan bahwa GAMAIS ITB memiliki pandangan dan cita-cita yang besar dalam kinerja dakwahnya. Serta menunjukkan peran GAMAIS ITB sebagai salah satu batu bata di dalam proyek besar pembangunan Indonesia Islami.

Pertanyaannya adalah mengapa Indonesia Islami, bukan ITB Islami? Mungkin ini isyarat pembagian (bukan pemisahan) fokus kerja antara pusat dengan wilayah. Pusat lebih fokus kepada Islamisasi Indonesia, sedangkan wilayah fokus pada ITB Islami. Bukankah bila setiap wilayah sudah Islami, maka ITB akan menjadi Islami dengan sendirinya? Ya, visi Indonesia Islami ini turut memacu lembaga dakwah fakultas, sekolah, dan program studi agar bisa berdakwah secara mandiri sehingga mampu menjadikan ITB sebagai kampus Islami. Kesimpulannya, wilayah harus bisa memegang kampus ITB!

Ditambah lagi wilayah memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

  1. Pondasi
    Wilayah merupakan basis massa GAMAIS ITB, karena pasti setiap kader GAMAIS ITB memiliki program studi masing-masing. Konsekuensi logisnya, GAMAIS wilayah seharusnya selalu punya agen-agen dakwah yang selalu berada di wilayah tersebut.
  2. Dekat dengan objek dakwah
    Analoginya seperti ini: Bila ingin mengajak satu orang massa kampus, GAMAIS pusat musti menyediakan seperangkat sound system yang canggih dan mahal. Hal itu dikarenakan sang objek dakwah berada di ‘pelosok’ kelas, laboratorium, ataupun studio. Padahal belum tentu juga dia menengok kepada seruan GAMAIS pusat, mungkin saja dia tidak merasa terpanggil. Akan tetapi, wilayah tinggal bermodalkan jari untuk menyentuhnya untuk kemudian mengajaknya pada kebaikan. Saya rasa ‘sentuhan jari’ itu lebih menggerakkan dibanding hanya memanggilnya dari kejauhan meski dengan peralatan nomor satu.
  3. Khas
    Setiap wilayah memiliki ‘warna’-nya masing-masing dan tentu berbeda dengan yang lain. FMIPA yang eksak memiliki pendekatan dakwah yang berbeda dengan FSRD yang abstrak. Program Studi Teknik Mesin yang mayoritas laki-laki pasti berbeda cara dakwahnya berbeda dengan Sekolah Farmasi yang mayoritas perempuan. Hal seperti inilah yang sulit disentuh oleh GAMAIS pusat yang dakwahnya cenderung generalisasi.

Hanya saja, patut disayangkan dengan kondisi wilayah saat ini:

  1. Kekurangan kader
  2. Selalu sulit mencari pengganti kepengurusan
  3. Syiar monoton dan kurang menyentuh
  4. Mentoring belum berjalan
  5. Dana selalu jadi masalah
  6. Dan masih banyak lagi, bukan?

Oleh karena itu, perlu adanya penguatan wilayah, karena kejahatan yang terorganisasi, begitu ungkap Ali ibn Abi Thalib, dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi dengan baik.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s