Kebun Raya Cibodas


Selasa, 22 Februari 2011, sekitar pukul 09.30 WIB, rombongan kuliah lapangan mahasiswa arsitektur ITB sampai di Kebun Raya Cibodas dengan menggunakan 2 bis.

Setelah turun dari bis, kami dihadapkan pada tempat parkir yang sangat luas. Disana hanya disediakan parkir untuk bis, karena memang disana hanya ada pola parkir untuk bis. Tempat parkir ini dikelilingi oleh gunung-gunung yang tertutup kabut di bagian atasnya. Terasa sekali rasa dingin menyelimuti kulit kami.

Setelah merasa cukup menikmati suasana baru itu, kami segera bergegas menuju pintu gerbang Kebun Raya Cibodas. Ternyata kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke pintu gerbang tersebut. Menurut saya, desain seperti ini memang cukup tepat, karena memang di kebun raya kita harus berjalan kaki agar lebih optimal ‘menyatu’ dengan alam. Kendaraan bermotor tempatnya bukan disini. Bila ingin mengendarai kendaraan, silakan saja pergi ke mall di kota. Disini hanya untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda saja.

Di gerbang depan kami menemukan jajaran loket untuk membeli tiket sebagai prasyarat untuk bisa masuk ke kebun raya Cibodas. Tak lama dari gerbang, kami bertemu dengan lapangan luas dan beberapa fasilitas umum, seperti masjid, kantin dan kafetaria, serta galeri bunga.

Di kebun raya ini terdapat jalan kecil dengan material batu alam atau paving block agar bisa sampai ke bangunan/tempat khusus lainnya.

Ada satu jalan kecil yang menarik perhatian saya, yaitu jalan dengan peneduh di atasnya. Sejujurnya, desain saya di tugas studio, ingin menampilkan jalan seperti ini, tetapi masih belum terbayang detailnya seperti apa. Dengan adanya preseden seperti ini, sangat membantu saya untuk ke depannya. Inovasi yang ingin saya tambahkan adalah dengan menanam tumbuhan rambat di setiap kolomnya yang menghiasi peneduh tersebut di kanan-kirinya (seperti pergola).

Bangunan yang kami kunjungi di kebun raya Cibodas salah satunya adalah Laboratorium. Ternyata konsep bangunan Laboratorium ini sama dengan konsep desain tugas saya, yaitu kontras.
Baca lebih lanjut

Rangkaian Amal 1/3 Malam Terakhir


BERDOA BANGUN TIDUR
َلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ‘
“Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.” (HR. Bukhari)

BERDOA MASUK KAMAR MANDI
بِسْمِ اللهِ] اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ]
“(Dengan nama Allah) Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan setan laki-laki dan perempuan.” (HR. Bukhari)

BERWUDHU
Dari Abu Hurairah radiallahuanhu, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sungguh umatku kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan (muka dan kedua tangannya) kemilau bercahaya karena bekas wudhu. Karenanya, barangsiapa dari kalian yang mampu memperbanyak kemilau cahayanya, hendaklah dia melakukannya (dengan memperlebar basuhan wudhunya).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa kalian dan meninggikan derajat kalian?” Para sahabat menjawab: “Mau, ya Rasulullah.” Kemudian beliau pun berkata: “Yaitu dengan menyempurnakan wudhu dari hal-hal yang bersifat makruh, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu waktu shalat setelah shalat (tahiyatul masjid). Yang demikian itu adalah ikatan (perjanjian).” (HR.Muslim)

BERDOA KELUAR KAMAR MANDI
غُفْرَانَكَ
“Aku minta ampun kepadaMu.” (HR. Seluruh penyusun kitab Sunan, kecuali An Nasai)

BERDOA SETELAH WUDHU
Dari Umar radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang dari kalian berwudhu secara sempurna, lalu mengucapkan: Asyhadu ala ilaha illallahu wahdahu laa syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), melainkan kelak akan dibukakan untuknya delapan pintu surga yang kepadanya dipersilakan untuk masuk melalui pintu mana saja yang ia sukai.” (Al Hadits)

SHOLAT SYUKRUL WUDHU
Rasulullah berkata kepada Bilal: “Ceritakanlah kepadaku amal apa yang amat engkau harapkan dalam Islam, sebab aku mendengar suara kedua sandalmu di surga?” Bilal menjawab: “Tidak ada amal ibadah yang paling kuharapkan selain setiap aku berwudhu, baik siang atau malam, aku selalu shalat setelahnya sebanyak yang aku suka.” (HR. Bukhari)

SHALAT TAHAJUD
“Dan di sebagian malam hari, shalat tahajud-lah engkau sebagai ibadah tambahan bagimu, semoga Allah mengangkatmu ke tempat terpuji.” (TQS. Al Isra’: 79)

SHALAT WITIR
Dari Ali ra, katanya: Sebenarnya witir itu bukan fardhu sebagaimana shalat-shalat lima waktu yang diwajibkan. Hanya saja Rasulullah saw setelah berwitir, pernah bersabda: “Wahai ahlul Quran, kerjakanlah shalat witir, sebab Allah itu witir (Maha Esa) dan suka sekali kepada witir.” (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan dan oleh Tirmidzi dianggap sebagi hadits hasan, sedangkan oleh Hakim yang meriwayatkannya juga, menganggapnya sebagai hadits shahih).
Baca lebih lanjut

Takkan Sendiri


“Kita tidak akan merasa sendiri, selama masih ada Allah dalam hati. Kita tidak akan merasa berduka, selama masih ada iman dalam dada.” (kuot ngasal buatan sendiri. hoho)

1.
Allah akan selalu ada untuk kita…
Bila dalam amanah da’wah ini kita merasa sendiri, itu bukan berarti rekan-rekan kita meninggalkan kita, melainkan kita lah yang meninggalkan Allah…

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (TQS. Al Baqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (TQS. Qaaf: 16)

“…Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…” (TQS. Al Hadiid: 4)

2.
Tidak selayaknya bagi seorang mu’min bersedih hati lagi bersusah diri, sementara surga-Nya telah rindu menanti kedatangannya dan bidadari-bidadari telah sibuk menata diri untuk bertemu dengannya…
Baca lebih lanjut

Obsesi Diri


FAKTOR PENDUKUNG 1

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (TQS. Ali-Imran:140)

Ayat tersebut menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini semuanya dipergilirkan: siang dan malam, bahagia dan sedih, tawa dan tangis, menang dan kalah. Termasuk umat yang memimpin peradaban manusia, semua dipergilirkan. Kita lihat berturut-turut berbagai bangsa silih berganti memimpin peradaban dunia. Bangsa Tsamud, bangsa Saba’, bangsa Mesopotamia, bangsa Mesir, bangsa Romawi, bangsa Arab, bangsa kulit putih di Eropa, dan akhirnya bangsa dari Amerika. Itulah sunnatullah yang berlaku umum, baik untuk umat Islam maupun yang bukan.

Malik bin Nabi, seorang sejarawan Aljazair, mengatakan tentang kaidah tumbuhnya suatu peradaban. Pada suatu masa paling bagus dari sebuah peradaban, kita bisa melihat generasinya didominasi nilai-nilai spiritual. Lalu ketika mereka jaya, nilai-nilai yang dominan adalah nilai rasional. Kelak, jika sebuah peradaban menuju keruntuhannya, maka ketika itu yang dominan adalah nilai-nilai nafsu, syahwat, dan materi yang mendominasi generasinya.

Mungkin itulah penyebab jatuh-bangunnya suatu bangsa. Itulah sunnatullah-nya.

Nah, bila kita perhatikan, ada satu bangsa yang belum pernah memimpin peradaban umat manusia sepanjang sejarahnya, yaitu bangsa Melayu. Mengapa bangsa Melayu? Bukankah masih ada bangsa lain yang sama-sama belum memimpin peradaban? Mari, kita simak hadits Rasulullah berikut ini:
Baca lebih lanjut

Naik Marhalah


Ah, terkadang kita memang sama dengan para sahabat yang Allah telah ridho kepada mereka. Ketika Rasulullah memberi perintah, para sahabat melakukan protesnya. Misalnya kisah di bawah ini:

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus melarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)

Dan kita pun, bila ada pada masa Rasulullah hidup, pasti akan melakukannya juga. Hanya saja kita protes bahwa 1 bulan itu terlalu cepat untuk mengkhatamkan Alquran. Kita akan meminta untuk diberi dispensi untuk menamatkan Alquran dalam 2 bulan. Astaghfirullah…

Kadang kita berpikir bahwa membaca Alquran yang sebanyak 30 juz itu dalam 1 bulan adalah hal mustahil. Ada sebuah cerita fiktif sarat hikmah yang serupa dengan hal tersebut. Ini dia:
Baca lebih lanjut