Obsesi Diri

FAKTOR PENDUKUNG 1

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (TQS. Ali-Imran:140)

Ayat tersebut menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini semuanya dipergilirkan: siang dan malam, bahagia dan sedih, tawa dan tangis, menang dan kalah. Termasuk umat yang memimpin peradaban manusia, semua dipergilirkan. Kita lihat berturut-turut berbagai bangsa silih berganti memimpin peradaban dunia. Bangsa Tsamud, bangsa Saba’, bangsa Mesopotamia, bangsa Mesir, bangsa Romawi, bangsa Arab, bangsa kulit putih di Eropa, dan akhirnya bangsa dari Amerika. Itulah sunnatullah yang berlaku umum, baik untuk umat Islam maupun yang bukan.

Malik bin Nabi, seorang sejarawan Aljazair, mengatakan tentang kaidah tumbuhnya suatu peradaban. Pada suatu masa paling bagus dari sebuah peradaban, kita bisa melihat generasinya didominasi nilai-nilai spiritual. Lalu ketika mereka jaya, nilai-nilai yang dominan adalah nilai rasional. Kelak, jika sebuah peradaban menuju keruntuhannya, maka ketika itu yang dominan adalah nilai-nilai nafsu, syahwat, dan materi yang mendominasi generasinya.

Mungkin itulah penyebab jatuh-bangunnya suatu bangsa. Itulah sunnatullah-nya.

Nah, bila kita perhatikan, ada satu bangsa yang belum pernah memimpin peradaban umat manusia sepanjang sejarahnya, yaitu bangsa Melayu. Mengapa bangsa Melayu? Bukankah masih ada bangsa lain yang sama-sama belum memimpin peradaban? Mari, kita simak hadits Rasulullah berikut ini:

“Muncul Kenabian di tengah-tengah kamu selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya. Kemudian akan muncul Khilafah sesuai dengan sistem kenabian selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendaki. Kemudian akan muncul ‘Kerajaan yang menggigit’ selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya. Kemudian akan muncul ‘Kerajaan yang diktatorial’ selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya. Kemudian akan muncul (lagi) Khilafah sesuai dengan sistem kenabian” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)

Kalau bangsa lain mungkin akan binasa, tetapi akan ada bangsa yang akan selamanya ada selama ia menjadi kesatuan umat yang satu, yaitu umat Islam. Islam akan kembali memimpin peradaban dunia, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad di atas. Ditambah lagi, saat ini salah satu bangsa melayu, yaitu Indonesia, menjadi negara terbesar dengan mayoritas umat Islam terbanyak. Selain itu, penyebaran Islam di Indonesia begitu kondusifnya, sehingga sangat pesat meluas ke hampir seluruh wilayah Indonesia.

Maka dari itu, bangsa Melayu, khususnya Indonesia, merupakan kandidat paling kuat untuk menjadi lahirnya peradaban Islam di masa sekarang ini.

FAKTOR PENDUKUNG 2

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335)

Kita semua tahu, bahwa dari hadits tersebut muncul nama Muhammad Al Fatih. Obsesi dirinya untuk menjadi sebaik-baik pemimpin, telah tercatat dengan tinta emas di kanvas sejarah peradaban manusia.

Meski begitu, bukan berarti penaklukan itu terjadi dengan begitu mudahnya, Muhammad Al Fatih mempersiapkan dirinya dengan tidak pernah meninggalkan amalan-amalan wajib dan sunnah sejak baligh. Beliau senantiasa meningkatkan kualitas amalan wajib serta meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan sunnah. Ke-istiqomah-an seperti itu hanya bisa tercipta melalui iltizam yang sangat kuat, yaitu berasal dari obsesi dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya pemimpin.

Selain itu, berkali-kali Muhammad Al Fatih gagal menaklukan kota Konstantinopel. Namun, dengan strategi perang yang belum pernah ada sebelumnya, Muhammad Al Fatih akhirnya mampu menjadi sebaik-baiknya pemimpin seperti yang Rasulullah sabdakan.

Mungkin obsesi seperti itulah yang harus dimiliki setiap muslim dewasa ini, agar kegemilangan peradaban Islam kembali mempesona di seluruh penjuru dunia. Kita tidak boleh membiarkan kondisi umat Islam yang tengah sakit dan tertidur ini terus terjadi. Kita harus cemas, sebagaimana kecemasan yang dialami oleh Rasulullah ketika melihat kondisi Makkah yang jahiliyah. Setelah berkhalwat di Gua Hira, jadilah beliau menyejarah sebagai Khatamul Anbiya.

Dan kecemasan itu harus menumbuhkan obsesi diri yang mendorong kerja-kerja besar mengusung bangkitnya peradaban Islam.

OBSESI DIRI

Obsesi diri saya saat ini adalah merancang dan membangun peradaban Islam di Indonesia.

Oleh karena itu, mulai saat ini saya harus berpikiran dan bersikap layaknya seorang arsitek peradaban Islam. Tidak boleh lalai, apalagi bermaksiat. Mulai saat ini, saya harus hati-hati dalam berucap dan bersikap. Mulai saat ini, saya harus punya mindset bahwa bila saya lalai, bukan saya saja yang akan rugi, tetapi umat Islam di seluruh dunia juga akan rugi (dan saya harap semua kader da’wah memiliki mindset yang sama juga).

Memang terasa sangat jauh mengawang, namun saya yakin hal tersebut bisa dilakukan, karena semua yang bisa dibayangkan oleh manusia, insya Allah bisa direalisasi. Mohon bantuan dan doa dari teman-teman semua.

One thought on “Obsesi Diri

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s