Keragaman Kita

Ada seorang ikhwan sangat disiplin ketika mentoring, meski ia bukan ‘pemenang’ dalam berhubungan baik dengan para tetangganya.
Ada seorang menonjol dalam ‘prestasi’ dakwahnya, meski ia mungkin bukan sosok yang baik bagi keluarganya.
Ada seorang kader menonjol dalam ma’isyah-nya di tengah kelemahannnya dalam mengisi mentoring atau ta’lim.
Ada seorang kader dipandang sebagai pakar keluarga meski ia kerap dinilai mengabaikan tugas-tugas jama’i-nya.
Ada seorang ikhwan dan juga akhwat yang menonjol di bidang akademiknya bersamaan dengan lemahnya interaksi dengan saudaranya.
Ada seorang ikhwan yang dihormati istri dan disayang anak-anaknya meski beberapa mentee ingin berpindah darinva.
Ada seorang akhwat dan juga ikhwan ahli dalam merencana dan memproyeksikan, tapi kerap mengecewakan dalam implementasinya.
Atau sebaliknya. Mungkin saja, ada keluarga kader yang rumahnya terawat rapi dan bersih, dan sebersih itu pula jumlah binaannva (alias tidak memiliki binaan).
Ada seorang ummahat bisa saja menyebabkan anak-anaknya kerasan, sementara tidak demikian halnya dengan mentee-nya.
Ada seorang kader ‘berapi-api’ dalam membahas politik atau isu kontemporer setelah beberapa saat yang lalu berkeringat karena harus setor hafalan.
Ada yang lebih eksplosif meski tidak lebih konsisten dan ada yang lebih konsisten meski adem ayem saja.
Serta masih banyak variasi lainnya.

Ada seorang kader yang disiplin, tetapi ada kader yang sering terlambat.
Ada ikhwan dan akhwat yang memiliki segudang aktivitas, tetapi ada yang masih memiliki banyak waktu luang.
Ada sang pemerhati keluarga, tetapi ada yang sembrono dalam berinteraksi dengan keluarganya.
Ada seorang yang teliti dalam menjaga kehalalan rezekinya, tetapi ada kader yang tidak seteliti dia.
Ada seorang yang menyukai rihlah, riyadhah, atau demo. Tetapi ada yang cenderung nge-ruhi atau ‘ngustadz’.
Ada seorang yang terlatih dalam seminar, lokakarya, atau diskusi. Tetapi ada yang cenderung ‘memprovokasi’ kader yang lain untuk berdebat.
Serta masih banyak variasi lainnya.

Maka dari itu, kita harus tahu akan keragaman kita ini. Maka dari itu, kita harus mengerti bahwa menyamakan semuanya adalah hal mustahil. Maka dari itu, kita harus sadar bahwa setiap kita adalah penting, dengan perannya masing-masing di belahan potensinya masing-masing.

Allahu’alam

*terinspirasi dari sebuah artikel berjudul Jama’ah Manusia. saya mengutip 2 paragraf, tapi diubah sedikit*

2 thoughts on “Keragaman Kita

  1. apakah keragaman yang negatif juga harus terus ditolerir?
    Umm, pokok masalahnya bukan ini…tapi menyadarkan diri bahwa barisan ini memang bukan barisan malaikat🙂

  2. Uda lama gak maen kesini, jadi lebih cerah blog antum ^^. Iya sepakat akh…menyamakan seluruh hal pada manusia bukan hanya mustahil, bahkan menentang fitrah manusia yang memang diciptakan berbeda.
    Intinya jadi muslim yang kuat dengan potensi kita masing-masing kan? sip2…

    “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Sebab kata-kata ‘seandainya’ membuat pekerjaan setan.” (HR Muslim)

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s