[jurnal] Buku LDW (pendahuluan)

Assalamu’alaykum wr wb

Ahh, cukup sebel juga kemaren-kemaren ga sempet ngurusin buku ini. Sekarang udah terdampar di Bogor =(
Pokoknya harus jadi sebelum oktober ya! Fighting!!!

Eh, saya punya usul baru untuk konsep bukunya.
Kan kita ceritanya mau bikin pedoman LDW, maka dari itu tidak boleh lepas dari pedoman asasi kita (yang udah terjamin keberhasilannya), yaitu Al Quran.
Sayyid Quthb dalam Ma’alim fith Thariq telah menjabarkan bebarapa karakteristik Al Quran sebagai manhaj hidup , berikut ini ringkasannya:

  1. Tujuannya jelas. Sudah jelas bahwa tujuan akhir dari manhaj Al Quran adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati umat Islam, agar aqidah yang lurus itu hadir di tiap relung jiwa manusia yang lahir ke dunia
  2. Memiliki tahapan. Mulai dari sembunyi-sembunyi, terang-terangan saat bergabungnya Umar bin Khattab, lalu hijrah agar lebih leluasa berdakwah, kemudian boleh perang bila diserang tetapi masih menahan diri untuk memulai peperangan (mulai ada pertumpahan), dan akhirnya perang ekspansif saat turunnya Surat At Taubah agar din ini semata hanya untuk Allah.
  3. Dekat dengan realitas. Bukan teori semata, melainkan bersentuhan langsung dengan kondisi riil masyarakat. Maka dari itu, diturunkan berangsur-angsur dan perlahan-lahan sesuai dengan situasi yang terjadi saat itu.
  4. Menyeluruh dan universal. Mengatur dari yang kecil seperti mencukur rambut, hingga yang besar seperti mengurus negara. Berlaku di semua tempat untuk saat ini maupun pada masa yang akan datang.

Oia, sebelumnya perlu diluruskan, kita bukan sedang membuat tandingan Al Quran yang nantinya menjadi manhaj pengganti Al Quran, maupun bukan ingin meniru yang serupa dengan Al Quran.
Kita tetap memegang teguh Al Quran sebagai pedoman utama kita dan tidak sekali-kalipun terlintas untuk mencari (apalagi membuat) penggantinya, yang kami lakukan hanyalah sebatas memberikan rekomendasi praktis untuk mengimplementasikan nilai-nilai Qurani dalam tataran dakwah kampus (bahkan lebih spesifik lagi yaitu dakwah fakultas/sekolah/program studi) sehingga bila ada nanti ketidaksesuaian antara keduanya, buku panduan ini bisa ditinggalkan dan kita harus kembali pada Al Quran.
Kita pun yakin bahwa tidak ada yang bisa meniru Al Quran meski semua manusia dan jin bersekutu untuk membuatnya, yang kami ingini hanyalah agar buku ini bermanfaat sebanyak-banyaknya dengan mencontoh pedoman yang sudah pasti keberhasilannya (Al Quran) sehingga setidaknya prinsip-prinsip buku ini mendekati karakteristik pedoman tersebut.

Nah, jadi kalo dihubung-hubungin dengan karakteristik Quran:

  1. Pertama, buku ini tujuannya adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati mahasiswa Islam yang ada di fakultas/sekolah/program studi. Caranya adalah dengan melakukan Syiar Islam dan rekrutmen (harus kepada Islam, bukan lembaga, firqah, maupun harakah).
  2. Kedua, pembahasannya bukan berbasiskan sektor (tiap sektor dibahas satu per satu) melainkan berbasiskan pada tahapan kondisi lembaga yang ada di blueprint, yaitu: lembaga mula, muda, dan mandiri.
  3. Ketiga, kita bikin sesuai dengan alur tiap kepengurusan dan kita juga musti membahas masalah-masalah yang sering melanda (nanti dijelaskan dan kita sepakati lebih lanjut, insya Allah).
  4. Keempat (ini yang paling susah, makanya ga ada yang bisa nandingin Quran), jangan terlalu ITB banget, harus cari tau kondisi kampus lain, selain itu harus memperkirakan tren Dakwah Kampus di masa yang akan datang (jangan hanya membahas pas kita megang LDW aja).

Lalulalu, biar beda: saya kebayangnya buku ini seperti ‘Goosebumps’ edisi petualangan. *Ada yang tahu ga?* Intinya pembaca ga perlu membacanya berurutan dari halaman pertama sampai halaman terakhir.
Misal, nanti ada sesi levelisasi, pembaca diminta mengisi kuesioner yang nanti hasilnya bisa disimpulkan termasuk level apakah lembaganya. Kalo lembaga masih mula silakan buka halaman 10, kalo lembaganya level muda buka halaman 57, dan kalo lembaga mandiri buka halaman 96.
Atau misalnya, lagi bahas syiar di level mandiri, sebelum pembahasan dikasih pertanyaan: masih ingat syiar di level-level sebelumnya? Kalo ingin membaca ulang syiar level mula buka halaman 23, syiar level muda halaman 67.

Jadi, yang udah dibahas di level mula, ga usah dibahas lagi di level muda dan mandiri. Kan bukunya kan jadi seru: bisa dilahap secara berurutan, atau bisa dijadikan cemilan dengan membacanya pada level tertentu saja (sesuai dengan kondisi lembaganya). Hehe…

Gimanagimana?
Draft kontennya belum selesai nih (insya Allah setelah ini dishare). Gini dulu aja deh, mohon tanggepannya dulu, okok?

Sekian wassalamu’alaykum wr wb

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s