Musyawarah


Dalil urgensi musyawarah: QS. Ali-Imran: 159

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“…karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah…”

Musyawarah: Belajar dari Perang Uhud

Ketika itu suasana sedang mencekam, intel Rasulullah mendapati bahwa Makkah akan menggempur Madinah dengan kekuatan penuh karena ingin membalas dendam atas petaka yang menimpa mereka pada Perang Badr Kubra. Dan kejadian yang akan menyejarah tersebut akan terjadi tinggal menghitung hari. Maka dari itu, Rasulullah menggelar Majelis Permusyawaratan Militer. Padahal Rasulullah telah bermimpi yang seharusnya bisa dijadikan rujukan utama dalam perang nanti.
Hikmah #1: Segenting apapun, musyarawarah tetap penting dan sangat dianjurkan. Mimpi Nabi ‘hanya’ menjadi bahan musyawarah, sedangkan hasil musyawarah yang telah disepakati adalah hal yang akan dilaksanakan.

Takwil dari mimpi Rasulullah saw mengatakan akan banyak sahabat dan keluarga Rasulullah yang terbunuh, serta rekomendasi untuk bertahan di Madinah. Hal terakhir ini diamini oleh para Shahabat senior, yaitu kaum Muslim tidak perlu keluar dari kota Madinah sehingga musuh berada dalam keadaan yang menggantung: bila tidak menyerang, mereka akan kehabisan makanan dan air; namun bila menyerang, posisi mereka tidak akan diuntungkan karena pasukan Madinah akan menyerang dari segala arah (bahkan wanita dan anak-anak bisa membantu menyerang dari atap-atap rumah). Adapun mayoritas Shahabat (khususnya para pemudanya, karena tidak ikut perang Badr Kubra) berpendapat bahwa kaum Muslim hendaknya keluar dari kota Madinah guna menghadapi kaum Quraisy Makkah. Argumennya: mengapa musti takut kalah, bukankah kematian di jalan Allah adalah hal mulia dan hal yang sangat diinginkan oleh para Shahabat?
Hikmah #2: Dalam musyawarah, diperbolehkan adu argumen (bahkan dalam kasus ini berargumen ‘melawan’ mimpi Nabi). Kerahkan semua kemampuan, buatlah argumen sekuat mungkin dari akal maupun hati. Akan tetapi, jangan sampai berdebat, bisa jadi keberkahan berawal dari adanya keridhaan orang yang mengalah (pendapatnya tidak dijadikan keputusan syura)

Akhirnya, pilihan kedua (yang kebetulan jadi suara terbanyak) inilah yang dijadikan mufakat. Rasulullah saw memutuskan untuk keluar dari kota Madinah dan menyongsong pasukan Makkah di bukit Uhud.
Hikmah #3: Perbedaan antara demokrasi dan musyawarah adalah bahwa musyawarah tidak melulu harus mengambil suara terbanyak, keputusan pemimpin musyawarahlah yang menjadi utama, dengan mempertimbangkan argumen-argumen yang ada. Setelah itu, semuanya harus patuh dan tawakkal atas azzam bersama tersebut.

Ada cerita unik tentang pentolan munafiqun Madinah, Abdullah bin Ubay bin Sahul. Berbeda dengan sikap politiknya sebelumnya yang selalu menentang, kali ini dia malah setuju dengan pendapat Rasulullah dan Shahabat senior untuk bertahan di Madinah. Hal ini tidak lain hanyalah untuk kepentingan dirinya, bukan kepentingan Islam. Dia ingin bertahan di Madinah agar tidak ketahuan bila dia bersembunyi dan tidak ikut perang. Jadi, berhubung keputusan musyawarah adalah keluar Madinah, ia membawa pengikutnya untuk tidak ikut perang.
Hikmah #4: Setiap keputusan musyawarah, bisa jadi skenario Allah untuk membersihkan kaum beriman dari hal-hal yang mengotorinya dan dari hal-hal yang menghilangkan keberkahan musyawarah.
Baca lebih lanjut

Cerita KP #1: Kultur di Kantor


orang bilang bahwa dunia kerja itu sangat luar biasa kerasnya. kalo di kampus, kita masih bisa meluangkan waktu untuk shalat dhuha atau sekedar membaca beberapa lembar ayat suci. nah, di lingkungan kerja (katanya) sangat susah untuk itu. akan tetapi, hal-hal tersebut justru bertolak belakang dengan yang saya alami di tempat KP saya.

saya KP di Elang Group (PT Elang Semestaguna), tepatnya di anak perusahaan yang jadi developer, yaitu PT Dwikarsa Semestaguna. kenapa disitu? udah ada jawabannya di blog saya. hehe. oia, ternyata di Elang Group ini ada bagian konsultan arsitektur dan urban planning juga, namanya PT BILD Consulting. saya baru tau ketika udah kepalang disuruh jadi pengawas lapangan oleh Pak Eko (dosen matkul Praktek Profesi) ='(

sekilas tentang Dirut Elang Group, dia adalah Elang Gumilang, alumni IPB dan SMA Negeri 1 Bogor, usianya hanya terpaut 4 digit lebih banyak dari saya namun asetnya sudah miliaran rupiah (saya pernah baca di CV-nya sekitar 61 miliar rupiah). meski banyak prestasi yang diraihnya (cek aja di gugel atau twitter), orangnya tetap sederhana. ketika ada undangan untuk menghadiri talkshow tentang green housing (semacam itulah) dari Jotun di Hotel Mulya Jakarta, beliau mengingatkan ke saya: wah za, harus menundukkan pandangan nih. ketika ada undangan untuk presentasi di Bali, yang terucap pertama kali: enak apanya, banyak godaannya tau. keren kan? hehe =D

nah, kembali ke topik. ada hal menarik di kultur Elang Group. di sini ada 3G yang menjadi orientasi perusahaan: yang pertama dan utama adalah GOD, orientasi pada nilai-nilai Ketuhanan; kedua adalah GOLD, orientasi pada pencapaian target yang diukur dari aspek materi; dan terakhir GLORY, orientasi pada terwujudnya visi besar perusahaan.

kali ini, saya akan menjelaskan tentang orientasi pertama, yaitu nilai-nilai ketuhanan. perusahaan ini selalu mengawali paginya dengan briefing singkat dan pembacaan alquran oleh salah satu karyawan secara bergantian. cukup tiga ayat beserta artinya, namun sangat memberikan semangat untuk bekerja selama seharian.
Baca lebih lanjut

Menundukkan Penglihatan


Perenungan singkat dan mendadak ketika perjalanan dari kantor ke rumah. Saya juga bingung kenapa tiba-tiba mikirin ini. Haha. Oia, ini murni pendapat saya, kalo salah mohon ditegur dan jangan diikuti. Okok?

Oke, kita mulai.
Sebagai penikmat angkutan perkotaan, sering terjadi hal-hal aneh yang menyentuh garis pinggir syariah Islam: berkhalwat, berikhtilat, dan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi saat ini tak jarang perempuan yang memakai pakaian yang kekurangan bahan.

Nah, ketika itu saya teringat ayat Alquran dan hadits Rasulullah tentang menundukan pandangan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” [QS. An-Nuur: 30-31].

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي

Dari Jarir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata: ”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)

Dan ketika berpikir-pikir, bila kedua hal tersebut memang harus dilakukan secara fisik (bener-bener nunduk), berarti agak bertentangan dengan hadits lain yang sama-sama dari Jabir.
Baca lebih lanjut