Menundukkan Penglihatan

Perenungan singkat dan mendadak ketika perjalanan dari kantor ke rumah. Saya juga bingung kenapa tiba-tiba mikirin ini. Haha. Oia, ini murni pendapat saya, kalo salah mohon ditegur dan jangan diikuti. Okok?

Oke, kita mulai.
Sebagai penikmat angkutan perkotaan, sering terjadi hal-hal aneh yang menyentuh garis pinggir syariah Islam: berkhalwat, berikhtilat, dan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi saat ini tak jarang perempuan yang memakai pakaian yang kekurangan bahan.

Nah, ketika itu saya teringat ayat Alquran dan hadits Rasulullah tentang menundukan pandangan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” [QS. An-Nuur: 30-31].

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي

Dari Jarir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata: ”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)

Dan ketika berpikir-pikir, bila kedua hal tersebut memang harus dilakukan secara fisik (bener-bener nunduk), berarti agak bertentangan dengan hadits lain yang sama-sama dari Jabir.

Dari Jabir bin Abdillah ra: “Idza khathaba ahadukum al-mar’ata fa in istathâ’a an yanzhura minhâ ilâ mâ yad’uw ilaa nikahiha fal yaf’al. Jika seseorang dari kamu hendak mengkhitbah seorang perempuan, maka jika ia mampu melihat perempuan itu pada apa yang mendorong menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh al-Hakim. Lihat Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, jld. III, hal. 113)

Nah, karena dua-duanya shahih, berarti kita harus me-rekonstruksi ulang, seperti hadits tentang shalat tarawih: hadits pertama bilang shalat sunnah itu dua rakaat-dua rakaat, hadits kedua bilang shalat tarawih itu empat-empat-tiga. Maksudnya, shalat tarawih tuh dua rakat salam, dua rakaat salam, istirahat, dua rakaat salam, dua rakaat salam, istirahat, dan shalat witir tiga rakaat. Itulah kenapa disebut shalat tarawih, karena ada istirahatnya.

Kembali ke topik, jadi kesimpulan saya adalah mungkin banget untuk memilih istri tanpa mendongakkan kepala. Caranya dengan lihat kakinya, kalo tertutupi (roknya panjang/pake celana tambahan sebelum rok/ketutupan kaos kaki dan sepatu), insya Allah shalihah. Haha, akhir dari postingan ini malah ga penting =p

Yah, intinya zaman udah berubah, sekarang mah milih pendamping tuh lihat kakinya aja. Karena kecantikan bisa menipu. Kalo kata adik mentor saya mah: gapapa istri cantik, pinter, dan kaya; yang penting shalihah. Hoho.

Sekian, Allahu’alam…

One thought on “Menundukkan Penglihatan

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.