Majelis Syura

Menuju Jama’atul Muslimin, sebuah tesis pascasarjana yang membeberkan janji-janji Allah akan happy ending-nya agama ini. Semuanya sudah terbahas panjang lebar disitu. Saya jadi terbayang bagaimana perasaan Muhammad Alfatih saat tiap hari diceritakan padanya tentang penaklukan Konstantinopel oleh pemimpin terbaik, hingga itu menjadi obsesinya.

Sekarang tinggal kita menemukan takdir kepahlawanan kita di masa sekarang. Saatnya kita bergerak dan merebut janji-janji Allah itu dan menjadikan agama hanya milik Allah semata. Untuk itu, kita perlu mengetahui seperti apakah Jama’atul Muslimin.

Kesimpulan sang penulis bahwa Jama’atul Muslimin terdiri dari 1 basis/qa’idah yaitu Ummat serta 2 pilar yaitu Majelis Syura dan Khalifah. Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit membahas tentang Majelis Syura, berhubung saya pernah dan sedang menjadi anggota Majelis Syura di suatu lembaga di kampus.

Setelah penulis memberikan penjelasan yang mendalam tentang syura, akhirnya saya kembali terenyuh ketika sampai pada syarat-syarat anggota syura, ini dia syaratnya (yang telah saya rangkum dari Ath Thariq ila Jama’atil Muslimin halaman 94-96):

  1. ‘Adalah (keadilan), dengan semua persyaratannya
    Khiththah (kebijakan) para khalifah sesudah Rasulullah saw adalah bermusyawarah dengan orang-orang yang adil dan terpercaya dari para ahli ilmu dalam umat ini pada setiap zaman dan makan.
    Bukhari berkata, “Para pemimpin sesudah Rasulullah saw senantiasa meminta pendapat (musyawarah) dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan ahli ilmu.” (Bukhari 9/138-139, Fathul Bari 13/339: dalam menjelaskan perkataan Bukhari ini Ibnu Hajar berkata ‘Terdapat banyak riwayat tentang musyawarah para Imam sesudah Nabi saw.’)
    Para ulama menyimpulkan syarat-syarat ‘adalah dalam Islam ada lima hal, yaitu: Islam, berakal, merdeka, lelaki, baligh. (Kutipan dari kesimpulan Imam Mawardi dalam Al Ahkam Al Sulthaniyah halaman 6)
  2. Bertaqwa dan bersih dari dosa kepada Allah dan umat
    Orang berilmu yang dicalonkan menjadi anggota syura ini hendaklah orang yang memiliki lembaran putih dengan Allah dan terpelihara akhlaq-nya (bukan pelaku dosa). Sebab, ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya bermusyawarah dengan para sahabatnya, Dia meminta agar Rasulullah saw terlebih dahulu memaafkan mereka atas kesalahan mereka terhadapnya. Disamping memintakan ampun kepada Allah atas dosa mereka yang berkaitan dengan Allah, sehingga mereka layak bermusyawarah dan menjadi anggota syura.
    Firman Allah: “…karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (TQS. Ali ‘Imran: 159)
    Dengan syarat ini, berarti tidak ada tempat dalam Majelis Syura Islami bagi tukang maksiat, orang-orang fasiq, dan para ulama yang tidak jujur.
  3. Mengetahui Al Quran dan As Sunnah, serta ilmu-ilmu bahasa, tafsir, ilmu hadits, dan lainnya
    Anggota syura seharusnya adalah orang yang paling banyak menguasai Al Quran dan As Sunnah, karena mereka merupakan orang-orang yang dapat membuat garis perjalanan umat ini sesuai dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
    “…Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (TQS. An Nisaa’: 83)
    Bukhari berkata, “Para anggota syura umar adalah seorang Qari’.” (Bukhari 9/138-139, Fathul Bari 13/339: dalam menjelaskan perkataan Bukhari ini Ibnu Hajar berkata ‘Terdapat banyak riwayat tentang musyawarah para Imam sesudah Nabi saw.’)
  4. Berpengalaman dengan masalah yang dimusyarawarahkan, serta berakal cerdas dan matang
    Selain ‘adalah (lihat bahasan poin pertama), Imam Mawardi dalam Al Ahkam Al Sultahniyah halaman 6 menyimpulkan bahwa syarat-syarat anggota syura selanjutnya adalah mempunyai ilmu dan keahlian dalam masalah yang dimusyawarahkan, serta mempunyai pemikiran yang cerdas dan bijaksana dalam memilih pendapat.
    Imam Al Qurthuby membedakan sifat orang yang bermusyawarah dalam urusan agama dan dalam urusan keduniaan. Anggota syura dalam urusan agama hendaklah orang yang berilmu, taat beragama, dan cerdas; sedangkan dalam urusan keduniaan hendaklah berakal, berpengalaman, dan menyayangi orang yang mengajak musyawarah. (Al Jami’ 4/251)
  5. Jujur dan amanah
    Al Qurthuby berkata, mengutip dari Sufyan Ats Tsauri, ” Hendaklah orang yang menjadi anggota syura kamu adalah orang yang bertaqwa, amanah, dan takut kepada Allah.” (Al Jami’ 4/251)
    Jika disunnahkan yang berdiri dibelakan imam shalat (imamah kecil) adalah orang yang bijak dan mampu mencegah, hal itu lebih disunnahkan lagi bagi orang yang akan menjadi anggota Majelis Syura Islam dan mendampingi bagi pemegang imamah ‘uzhma (kepemimpinan besar), sebab ia akan meluruskan imam ketika ia menyimpang dan mendukungnya ketika ia lemah.
    Sabda Rasulullah saw: “Hendaklah orang yang mendampingiku adalah orang-orang yang bijak dan mempunyai kemampuan untuk mencegah di antara kamu.” (Dikeluarkan oleh Muslim 1/323, Tirmidzi 1/110, Abu Daud 1/80, Nasa’i 2/87-88, Ibnu Majah *Ahmad dengan tahqiq Syakir* 6/712, Musnad Ahmad 1/57, Ad Darimi 1/290)

Saya benar-benar merinding dan malu membacanya, meski 2 amanah Majelis Syura diberikan secara mendadak (pas pengumumannya saya tidak hadir dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya), saya harus terima jadi amanah Majelis Syura tersebut.

Saya pun merasa tidak ada satupun syarat yang melekat pada diri saya, sehingga saya pun jadi kepikiran bahwa seharusnya nama Majelis Syura tidak dengan seenaknya digunakan, khawatir malah jadi tercemar. Contohnya seperti DPR yang mulai memburuk citranya di mata masyarakat (mungkin syarat di atas berlaku juga untuk milih anggota legislatif), padahalnya di dalamnya masih ada orang-orang yang ikhlas ingin membangun negeri.

Akan tetapi, sisi baik dari amanah Majelis Syura ini salah satunya adalah untuk belajar menjadi Majelis Syura Islam. Bisa jadi, kelak salah satu dari anggota Majelis Syura ini benar-benar menjadi Majelis Syura Islam kan? Amin.

Yuk, mempersiapkan diri untuk masa kegemilangan Islam itu, sungguh Allah takkan memberikannya hingga kita siap mengembannya. Allahu’alam…

One thought on “Majelis Syura

  1. Terima kasih atas artikelnya pak.
    Ini juga menjadi bahan renungan saya tentang makna dari majelis syuro tersebut. Memang banyak hal-hal yang tidak terduga dalam organisasi yang mengatasnamakan Islam.

    Semoga kita tetap dalam tuntungan-Nya. amin.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.