Seminar Pendidikan Astronomi (part 1)

Dalam rangka menyambut 60 tahun pendidikan astronomi di Indonesia yang ditandai berdirinya Program Studi S1 Astronomi di Institut Teknologi Bandung, maka diadakanlah sebuah seminar pendidikan astronomi dengan tema “Astronomi untuk Indonesia: Menuju Terbentuknya Jaringan Pendidikan Astronomi di Indonesia” pada tanggal 26 Oktober silam.

Seminar ini mengundang berbagai macam stakeholder yang berkaitan dengan pendidikan astronomi. Mulai dari International Astronomy Union sampai guru fisika dan geografi SMA, dengan harapan adanya integrasi dan koordinasi antarstakeholder tersebut hingga pendidikan astronomi menjadi lebih berkembang di Indonesia.

Ketika mengikuti kegiatan ini, kerasa banget semangatnya. Baik presenter maupun audiens, sangat antusias dan penuh ruh untuk memajukan bangsa ini melalui pendidikan astronomi. Salut untuk panitianya lah.

Saya dateng jam 10an (sungguh menyesal ga dateng dari awal), ketika itu pak Hardja tengah presentasi terkait “Sejarah Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia.” Beliau menekankan pentingnya astronomi meski secara ekonomi memang terbatas dan ditambah lagi dana yang besar itu membuat menyulitkan kelancaran alirannya.

Beliau menyampaikan bahwa manusia makhluk yang ingin mengetahui, sehingga memerlukan orientasi dengan mencari tahu. Kalo tidak tahu orientasi pak SBY tidak akan bisa mengumpulkan menteri barunya pasca-reshuffle. Hehe. Ehm, back to topic.

Manusia berpengetahuan terbatas, lanjut beliau, namun wawasannya tidak terbatas. Konteks wawasan yang dibicarakan di sini adalah fantasi/imajinasi. Meski astronomi banyak berperan dalam hal navigasi (seperti contoh pak SBY di atas), bila bangsa ini ingin maju, haruslah mengembangkan fantasi/imajinasinya. Itulah mengapa om Einstein pernah berceloteh: “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”

Yup, itulah astronomi, dia mengajarkan kita untuk memiliki rasa ingin tahu yang besar dan membentuk pribadi yang visioner, yaitu mengasah otak kita untuk berpikir jangka panjang, jauh dari batas perhatian yang bisa kita lihat saat ini. Astronomi akan memperluas daya pandang kita. Dan bila dikembalikan ke bahasan awal tentang ekonomi, pengetahuan itu memiliki nilai yang mahatinggi, maka jangan dibatasi pada aspek ekonomi.

Astronomi tidak hanya menikmati pemandangan alam untuk diri sendiri semata, tetapi juga punya manfaat untuk menyejahterakan umat manusia di dunia dan di akhirat.

Kemudian, giliran pak Mahasena, kepala prodi Astronomi ITB, yang memberikan kuliah singkatnya tentang “Program Studi Astronomi ITB dari tahun 2001-2011” dan beliau mengawalinya dengan mengulas sejarah.

Tak dinyana tak disangka, ternyata cikal bakal astronomi di Indonesia bermula dari para pengusaha teh di Priangan mulai tahun 1844. Wow! Saya lupa mengingatnya, apa saja yang dilakukan para pengusaha tersebut hingga diklaim menanam bibit astronomi di Indonesia.

Lalulalu, astronomi ini berkembang karena menjadi sebuah hobi warga asing yang bernama RE Kerkhoven dan KAR Bosscha. Nama yang ditulis terakhir bahkan membuat sebuah observatorium dari koceknya sendiri yang kemudian menjadi kebanggaan Indonesia, Observatorium Bosscha.

Pak Mahasena juga menceritakan prodi yang beliau pimpin dan lulusan-lulusannya yang berprestasi. Jadi S1 astronomi berdiri pada tahun 1951 (60 tahun), S2 berdiri pada tahun 1999 (12 tahun), dan strata tiga pada lima tahun lalu, 2006. Selama keberjalanannya, S1 astronomi mengalami penurunan SKS sekaligus penurunan masa tempuh kuliah. Menurutnya, mungkin penurunan ini disebabkan oleh pertama: ilmu S1 masih general sehingga sedikit saja mata kulaih yang diajarkan, kedua: subsidi dari pemerintah diturunkan agar subsidi tersebut bisa dinikmati oleh lebih banyak orang.

Sedangkan untuk lulusan prestatif, beberapa nama tersebutkan, yaitu: Avivah Yamani dengan Langit Selatan-nya, Hendro Setyanto dengan Mobile Observatory-nya, dan Aldino Adry Baskoro yang menjadi pengajar dan meraih juara pada perlombaan Kreativitas Ilmiah untuk tataran guru.

Sebagai penutup, prodi Astronomi menjanjikan untuk lebih sering melakukan sosialisasi astronomi melalui teknologi informasi agar minat masyarakat terhadap astronomi semakin meningkat. Akan tetapi, untuk itu ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi, pertama: mahasiswa dan alumni astronomi harus militan, kedua: teknologi informasi harus ditumbuhkembangkan. Dan sebagai konsekuensi bertambahnya minat masyarakat terhadap astronomi, masyarakat akan mebutuhkan guru astronomi yang benar-benar berkompeten untuk mengajarkan astronomi kepada mereka. Itu jualah yang menjadi PR besar bagi prodi ini.

Nah, ada satu hal yang membuat saya tersentuh oleh pak Mahasena, ternyata arsitektur ditargetkan menjadi salah satu bidang yang akan diajak kerja sama oleh astronomi. Salah satunya untuk pembuatan dan perawatan Mini Public Observatory, serta tempat dan bangunan seperti apa yang cocok untuk observasi langit.

Sekarang kita beralih ke pembicara selanjutnya, yaitu pak Hakim sebagai kepala Observatorium Bosscha *wwiiihhh!!!* dengan judul “Observatorium Bosscha: Up Close and Personal

Bila ingin dapat segala info tentang bosscha, tidak perlu datang jauh-jauh ke lembang sana, cukup klik bosscha.itb.ac.id, insya Allah selalu update informasinya. Jadi, aktivitas bosscha selama ini ialah investigasi (misalnya: orbit dan massa double stars), photometry and spectroscopy, observasi matahari dkk, serta target opportunity objects. Metodenya antara lain: observasi dan pengumpulan data, mereduksi data yang terkumpul, menganalisis data, serta menulis dan mempublish paper.

Untuk ke depannya, beliau menuturkan bahwa Bosscha akan berusaha untuk menjadi pusat multidisiplin riset, yaitu tempat pengembangan sains dan transfer teknologi untuk masyarakat.

Lalu, tongkat estafet kuliah ini diserahkan kepada Pak Chatief Kunjaya (Sekjen IOAA) mengenai “Extending Astronomical Education to People” yang berfokus pada olimpiade astronomi.

Intinya sih olimpiade astronomi Indonesia cukup baik di mata dunia. Toh sering menang, minimal 1 perunggu di tangan lah. Ini membuktikan putra-putri Indonesia tuh pinter-pinter!!! (tapi kenapa masalah bangsa seolah tidak berubah ya?)

Oia, pak Kun sedikit berkesah dalam kisahnya tentang birokrasi di Indonesia yang udah parah bangeudh (ih alay, haha). Jadi, setelah kegiatan Astronomy Week (kalo ga salah begitu), ada beberapa teleskop yang ada di panitia. Terus, rencananya mau didistribusikan agar tetap bermanfaat walau kegiatannya udah selesai. Hanya saja, teleskop itu milik negara (cmiiw), jadi harus ada treatment khusus agar pendistribusian menjadi halal, salah satunya dengan pengeluaran surat izin dari Kementrian Keuangan. Hanya saja izin distribusi teleskop tersebut tidak keluar-keluar. Ckckck…

Sebenernya, untuk mendapatkan hibah teleskop tersebut ada syaratnya: Pertama harus universitas, tidak boleh sekolah (alasannya lupa euy =p). Kedua ada orang yang merawat dan tau cara merawatnya. Ketiga ada tempat untuk menyimpan teleskop yang aman dan sesuai dengan kriteria penyimpanan benda-benda optik. Keempat ada dana dari pihak yang menyimpan untuk maintenance teleskop.

Nah, di olimpiade yang sangat berpotensi ini, pak Kun membutuhkan tenaga trainer/pengajar untuk melatih putra-putri bangsa tersebut. Ada yang berminat? Hehe. Oia, terakhir pak Kun bilang, tahun depan ada transit venus lho…

Yap, itu dia rangkaian seminar pendidikan astronomi SESI PERTAMA sodara-sodara. haha, dari jam 10 sampe jam 12 udah sebanyak itu yang didapat dan inspiratif banget (bagi saya doang sih =j). Insya Allah kita lanjut pada lain kesempatan. Pasti penasaran kan? Tetap simak blog ini ya (apa coba!).

Sekian, semoga bermanfaat dan cmiiw…
C U

One thought on “Seminar Pendidikan Astronomi (part 1)

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s