Penyakit SePiLis


Saya sangat sedih ketika tahu bahwa di dunia ini banyak muslim yang terkena penyakit SePiLis, yaitu: sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme. Masih mending ketika mereka menganut itu untuk diri mereka sendiri, tetapi ternyata mereka mengajak orang lain, bahkan membentuk organisasi resminya. Bisa kita lihat JIL dan Freedom Institute sebagai contohnya.

Perlu kita ketahui di awal bahwa ada etika yang harus dipegang dalam membahas agama. Harus ekstra hati-hati, akan tetapi orang JIL, Freedom Institute, serta orang-orang lainnya yang menganut sekularisme, pluralisme, dan liberalisme tidak menggunakannya. Hal-hal dasar dalam agama yang tidak perlu diperdebatkan, mereka bahas dengan otak mereka yang terbatas.

Biar gampang membedakannya, kita lihat saja jargon-jargon dari mereka. Kaum sekularis mempropagandakan “Agama vs negara”, “Agama vs ilmu pengetahuan”, dll. Pluralis menyebarkan paham bahwa “Semua agama sama”, “Semua agama mengajarkan kebaikan”, “Semua agama menyembah tuhan yg sama”, dll. Sedangkan para liberalis menganggap bahwa “Agama itu urusan masing-masing”, “Jangan mencampuri keyakinan orang lain”, dll.

Sekarang lebih detail nih, supaya nambah jelas apa saja hal yang menyimpang dari penyakit SePiLis bagi ke-Islaman seserang:

Kita awali dari Sekularisme. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa jargon sekularisme antara lain: “Agama vs negara” dan “Agama vs ilmu pengetahuan”. Pokoknya, menurut mereka, agama harus dipisahkan dari kehidupan, cukup di rumah ibadah saja. Padahal sudah jelas bahwa agama itu mengatur jalan hidup. Islam itu adalah din (jalan hidup) yang haq dan syumul.

Dari segi sosial, Islam mengajarkan hubungan antarsesama manusia, baik dengan muslim dan non-muslim, baik dengan yang lebih tua dan yang lebih muda, dengan sesama gender dan antargender. Dari segi politik, kita bisa belajar dari Sirah Nabawiyyah ketika Nabi Muhammad saw mendirikan negara, mengirim surat ke petinggi negara lain, dan manuver pembebasan-pembebasan yang beliau lakukan. Dari segi ekonomi, sudah jelas Islam mengharamkan riba dan mengatur masalah waris. Dan kesemuanya itu dihubungkan dengan keimanan kepada Allah, sehingga tidak bisa dipisahkan.

Islam harus ditegakkan baik ketika ibadah ritual di masjid maupun ketika berkegiatan di luar masjid. Dan sejarah menunjukkan bahwa kemajuan peradaban adalah pada saat masyarakat taat beragama.
Baca lebih lanjut