Urgensi Membina

Alhamdulillah, saya menemukan visualisasi sebuah ceramah dari Imam Anwar Al Awlaki tentang salah satu episode hidup Umar bin Khattab radiyallahu’anhu. Dan saya rasa, kisah ini harusnya semakin meningkatkan sense membina dari diri kita. Yuk, simak baik-baik…

Umm, menurut saya sih, ga ada dakwah yang lebih sakti mandraguna dibandingkan mentoring, karena dengan metode seperti itu kita bisa nyentuh secara personal. Kita bisa mencet idungnya satu persatu, kalo mau doang sih. Tapi itu tidak bisa dilakukan oleh tabligh akbar, meskipun itu dilakukan oleh ulama yang diakui tingkat internasional.

Dan hebatnya lagi, mentoring tidak hanya memberikan kebenaran semata, tetapi mampu membentuk seseorang hingga ia memiliki kepribadian seorang muslim sejati bahkan memiliki kepribadian seorang da’i. Wow! Beda dengan tabligh akbar yang dateng duduk pulang.
Kok kayak ngejelek-jelekin tabligh akbar ya? Hehe, maap, tidak bermaksud seperti itu. Tabligh akbar juga penting, tetapi saya sedang menekankan efektivitas mentoring dalam berdakwah.

Maka dari itu, seharusnya seorang da’i memberikan perhatian yang lebih terhadap mentoring ini. Karena belum ada wasilah yang memberikan efek sedahsyat dan seinbox mentoring.
Belum lagi, ada buanyak pahala yang menunggu diri kita di sana.

Hadits pertama yang saya kutip adalah penggalan dialog antara Rasulullah dengan para sahabat, di bagian akhir Rasulullah bersabda seperti ini kepada Ali bin Abi Thalib.

“Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/31])

Bagi seseorang (terutama lelaki), memiliki kendaraan yang bisa mengantarkan kemana saja adalah sebuah kemewahan yang luar biasa (biasa di luar, kerjaannya jalan-jalan mulu, hehe). Dan pada zaman Rasulullah, unta merah adalah kendaraan terbaik yang pernah ada: bisa mengangkat beban yang sungguh berat, bisa bertahan dalam teriknya siang dan dinginnya malam, bisa bertahan dalam badai pasir. Intinya kemana pun ingin, pasti diantarkannya, meski jalannya panjang berliku.

Hadits kedua, lebih sugoi!!!

“Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain dikatakan: “Lebih baik bagimu daripada memperoleh satu lembah berisi penuh ternak.”

Itu artinya langit dan bumi untuk kita, dari timur hingga ke barat! Subhanallah =j

Hadits ketiga, siapa coba yang ga mau sama keutamaan ini?

“…Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Ditambah lagi ada kisah tentang Rasulullah dan ‘Aisyah yang sedang memandang langit malam di tengah gurun: ini pasti bintangnya banyak banget!!!

Suatu malam Baginda Rasulullah saw dan istrinya Sayidatina Aisyah r.ha. berdiri di depan rumahnya sambil memandang keindahan langit ciptaan Allah SWT. Sayidatina Aisyah r.ha. bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, pahala siapakah sebanyak bintang-bintang di langit itu.” Di dalam hatinya sayidatina Aisyah r.ha. menebak pahala sebanyak ini pasti pahala bapaknya. “Pahala sebanyak ini adalah pahala sahabatku Umar r.a.”, jawab Rasulullah saw. Sayidatina Aisyah r.ha. terkejut, lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah SAW bagaimana dengan bapakku?” Rasulullah saw tersenyum kepada istrinya sambil Beliau SAW berkata, “Ketahuilah istriku, satu hari penghijrahan Abubakar r.a. bersamaku, pahalanya lebih banyak dari pahala Umar r.a. dan keluarganya sampai hari kiamat.”

Salah satu yang memperberat timbangan amalan shalih Abubakar adalah karena beliau telah membina orang-orang shalih macam Mushab bin Umair yang mempersiapkan Yatsrib untuk menjadi “ibu kota” negara Islam pertama.

Kembali ke video, itulah mangkanya Umar bin Khattab lebih memilih manusia yang terbina dibandingkan emas dan berlian. Karena manusia yang terbina lebih berharga dan lebih bermanfaat bagi kita semua. Itulah orang-orang yang memikul Islam di pundaknya, bukan orang-orang yang dipikul Islam dan kerjaannya hanya merepotkan saja.

Rasulullah pun tidak meninggalkan harta, bangunan megah, perusahaan besar, maupun buku. Namun, beliau saw wafat dengan meninggalkan para sahabat yang di hatinya terdapat alquran dan assunnah. Hingga kemanapun ia pergi, maka ia akan menegakkan Islam, ia akan berdakwah, dan ia akan membina.

Sense membina seperti itulah yang dibutuhkan oleh para mentor, saat ini. Ketika ditanya sesuatu, yang dijawab adalah apapun yang berhubungan dengan bina-membina. Ketika melakukan sesuatu, semuanya dalam bingkai bina-membina.

Allahu’alam.

*penulis belum memiliki sense tersebut, dan sekarang sedang mencarinya. kalo pun tidak menemukannya, saya akan sekuat tenaga membuatnya dan membangunnya dalam diri saya sendiri, insya Allah.
*telinga yang paling dekat dari mulut saya ketika berbicara tentang membina ini adalah telinga milik saya sendiri. jadi sejatinya tulisan ini adalah untuk saya sendiri.

4 thoughts on “Urgensi Membina

  1. ttg urgensi membina mungkin sdh dr dulu kita dpt, sejak pertama kita mnjadi mentor. tp itu tadi…sense nya mungkin smpai saat ini blm kita dpt. dan setiap tulisan (meski muatannya sama dg tulisan2 sebelumnya) adl penguat ktika kita membacanya dan membacanya lagi…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s