Totalitas Meski Terbatas


Suatu hari di Pondok Bambu, Jakarta.

Pengemis: “Pak, minta, paak…”
Pria: (memberi Rp10.000) “Kembaliannya Rp8.000 ya, pak…”
Pengemis: (memberikan Rp9.000)
Pria: “Pak, kembaliannya lebih nih.”
Pengemis: “Iya, anggap aja sedekah, pak…”
Pria: “…”

Itu kisah nyata lho. Nah, kalo yang ini diragukan ke-nyata-annya. Hehe =j

Tukang roti: (ditabrak metro mini) *Brak!*
Polisi: (datang dengan panik) “Ada apa pak?!”
Tukang roti: (udah sekarat) “Ada nanas, keju, coklat, dan mocca…”
Polisi: “…”

Apa yang bisa diambil dari kisah di atas?
Bagi saya, kisah jenaka itu mengajarkan kita agar…

Tetap mengambil setiap peluang kebaikan sekecil apapun meski sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan.
Tetap melakukan hal sebaik mungkin meski kondisi saat itu sangat sulit untuk berbuat.
Ya, tetap totalitas meski terbatas!!!

Kemudian terus percaya, bahwa ada balasan dari Allah akan kerja-kerja kita dan tiada pernah sia-sia.
SemangkA! Semangat karena Allah…
=j

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
(QS. Al Zalzalah: 7)