Acapella Nasheed

Tadi malam, mendadak pengen nyelesein kerjaan sambil denger nasyid. Setelah muter-muter di gradasi, ujug-ujug keingetan sama neSSei. Kayaknya sedikit saja yang tau tim nasyid ini, bahkan kayaknya di kalangan munsyid sendiri.

Pertama kali tau lagu mereka, pas ikutan lomba nasyid di SMA Negeri 5 Bogor dalam acara PHBI Tahun Baru Hijriyyah. Di sini grup nasyid saya juara III padahal baru pertama kali ikutan, hehe. Dan yang juara I lah yang membawakan lagu neSSei yang berjudul “Here and Real” ini.

Nah, pas tadi malam nyari-nyari, alhamduliLlah dapat nasyidnya. Tapi cuma ada 4 lagu di album neSSei (selain di albumnya sendiri, neSSei juga pernah nongol di albumnya Ust. Arifin Ilham. Itu loh, yang ada “Tombo Ati”-nya Opick), yaitu: “Rinduku Mencinta-Mu”, “Hanya Satu”, “Temaram Kalbu”, dan “Dzikrullah”, padahal pengen denger juga “Taman Alquran”, “Fitri”, “Bidadari Kecil”, dan tentu saja “Here and Real”.

Saya pengen nge-review 2 lagu saja (kalo mau denger, tinggal klik judul lagunya):

1. Rinduku Mencinta-Mu

Mengapa hati ini memberi rindu pada insan makhluk dunia?
Mengapa hati ini memberi cinta pada keindahan dunia?

Sulitnya tuk merindu hanya pada Yang Satu dalam seluruh pasrahku.
Slalu kubagi cinta pada selain Mahacahaya.

Allahu Rabbuna, beri kami cinta-Mu, biar lepas beban cinta selain cinta dari-Mu.
Allahumma Rabbana, beri kerinduan-Mu, biar cerah hati ini kelak menghadap keharibaan-Mu.

Sulit tuk merindu di dalam seluruh pasrahku hanya pada Yang Satu.
Selalu terbagi cinta pada selain Mahacahaya.

Salah satu nasyid favorit waktu SMA, soalnya tema-nya MahabbatuLlah.
Waktu itu emang lagi suka-sukanya sama beberapa nasyid bertema MahabbatuLlah, contoh lainnya: “Cinta Ilahi”-nya Snada, “Persembahan Cinta”-nya Gradasi, “Tanda Cinta”-nya Gradasi, (umm apa lagi ya?).

Sayangnya pake piano sih, jadi ga bisa dibawain.
Btw, kalo dapet partiturnya, mau deh belajar piano-nya.
Hoho…

2. Hanya Satu

Kupu-kupu terbang menari indah di antara bunga
Oh, siapa yang tlah ciptakannya? Dialah Allah semata.
Awan berarak di angkasa, putih dan selembut kapas.
Oh, siapa yang tlah ciptakannya? Dialah Allah Yang Kuasa.

Bila kita tengah berduka, panjatkanlah doa pada-Nya.
Bila kita tengah bahagia, sampaikan syukur pada-Nya.

Ya Allah, Engkau Tuhanku, hanyalah satu dan tiada yang tara.
Mahakuasa Maha Pencipta, tak pantas untuk menduakan-Nya.

Syukurku untuk-Mu, syukurku…
Syukurku… untuk-Mu, ya Allah.


Nah, kalo yang ini tema-nya serupa tapi tak sama dengan “Rinduku Mencinta-Mu”, yaitu tentang TauhiduLlah.
Grup nasyid saya pernah bawain lagu ini, malah sempet ngerekam pake mp3 salah satu personil grup (sampai sekarang masih ada file-nya di laptop saya =j).

Harus diakui, ini salah satu yang sulit untuk dibawain (sama kayak “Anugerah Yang Indah”-nya Gradasi), karena saya termasuk yang tidak mengerti nada, jadi sering ga harmoni dengan suara yang lainnya (baca: fals).
Hoho, maap ya…

Memasuki dunia kampus, saya memutuskan untuk berhenti bernasyid.
Bahkan kalo ngedengar nasyid pun, berubah jadi yang jedag-jedug semisal Izis dan Shohar.

Habis, kalo sekarang dipikir-pikir lagi, menyesal juga menghabiskan waktu untuk manggung doang.
Sok-sok-an jadi figur (mending kalo udah beneran ilmunya tinggi dan ruhiyyah kuat, lah ini dalamnya kosong melompong), sok-sok-an ngartis.

DKM aja minimal ada 10 acara, semuanya pasti manggung. Lalu ada acara OSIS, KIR, PMR, eASY, dll yang terkadang ngundang juga. Belum lagi kalo ada kunjungan sekolah lain, hampir pasti disuruh menghibur (bareng Diafragma juga). Ditambah undangan-undangan dari Pangrango Plaza, SMA-SMA lain (termasuk via FSRB).
Beuh, kalo diingat-ingat malu banget rasanya.

Meski sebelum tampil, sering saling mengingatkan kalo Nasheed for Da’wah and Ukhuwwah. Tetep aja, males ngingetnya, kayak ga ada bedanya sama boyband alay sekarang.

Meski begitu, ada positifnya juga sih punya grup nasyid.
Utama-nya adalah punya keluarga tambahan di luar kelompok mentoring.
Kerasa banget kalo ngumpul sama grup nasyid (dan kelompok mentoring juga), ada energi lebih untuk berkontribusi untuk dakwah. Tsaahh…

Semoga bermanfaat.

A tribute to an-nas (acapella nasyid anak SMANSA) =j
Azhar, Tajudin, Dipta, Fadhil, Diaz, Fitrah, dan Berri.

“Nasyid itu wasilah diri, untuk mengingat prinsip hakiki. Tapi jangan kau lupa diri, sampe-sampe ngelupain ngaji.” (Justice Voice – Mari Bernasyid)

2 thoughts on “Acapella Nasheed

  1. Alhamdulillah… walau Nessei bukan team nasyid besar ternyata karya kami berkenan di hati 1-2 orang. Senang rasanya membaca apresiasi seperti ini. Salam dr ex-neSSei.

    Reply:
    di grup nasyid saya yang dulu, lagu-lagu neSSei sangat disukai, tapi aransemennya sulit untuk ditiru. hehe…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s