Menunggu Shalat


Pada suatu pagi, ada sebuah taushiyyah dari seorang sahabat bahwa ada manusia terbagi menjadi 3 jenis dalam hal menyambut seruan shalat. Dengan catatan, konteks yang dimaksud ketiga-tiganya mengerjakan shalat. Kalau yang tidak mah, lewatin aja…

Jenis yang pertama adalah manusia yang ketika masuk waktu shalat dengan adzan sebagai pertandanya, ia tidak langsung terpanggil untuk menegakkan shalat, tetapi malah menunda nan melalaikannya. Jenis manusia seperti ini mungkin yang Allah maksud dalam surat berikut ini:

“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.” (TQS. Al Ma’un: 4-5)

Karena ayat itulah, saya selalu merinding kalo denger surat tersebut. Karenanya pula, saya selalu menghindar untuk membaca surat tersebut dalam shalat (hehe, boleh gak ya?). Habisnya, masih mengerjakan shalat saja, masih celaka. Serem banget kan?

Jenis yang kedua adalah manusia yang langsung memenuhi seruan adzan ketika masuk waktu shalat. Sudah jelas ini lebih baik dari jenis yang pertama, akan tetapi, ternyata ada yang lebih baik lagi, yaitu jenis manusia yang ketiga: manusia yang menunggu waktu shalat.

Jenis manusia yang menunggu waktu shalat adalah yang telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin bahkan saat belum waktunya. Karena dia telah hafal jadwal shalat setiap harinya. Dan ia pun sudah mengambil air wudhu hingga sudah memakai pakaian yang terbaik.

Orang-orang yang termasuk kepada jenis ketiga inilah yang paling dekat dengan keutamaan berikut ini:
Baca lebih lanjut

Alternatif Pencapaian Ramadhan


Pada tulisan kali ini, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk membuat rekor ibadah di bulan Ramadhan. Nah ini dia alternatifnya:

1. Shaum Ramadhan

Yang pertama tentu saja melaksanakan shaum Ramadhan 1 bulan penuh. Berikut ini beberapa keutamaan shaum di bulan Ramadhan:

Dari Abu Hurairah radhiaLlahu ‘anhu, bahwa RasuluLlah shalaLlahu ‘alahi wasallam bersabda: “Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah ‘Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berfirman (kepada surga): ‘Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu’, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya, “Wahai RasuluLlah apakah malam itu Lailatul Qadar?” Jawab beliau, “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad)

Oia, jangan lupa, selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan shaum (makan, minum, bersetubuh, dll), kita juga musti menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala shaum tersebut, misal: marah, berpikir yang nggak-nggak, melihat yang nggak-nggak, menyentuh yang nggak-nggak, dan yang sejenisnya.

Yuk, di Ramadhan kali ini kita targetkan untuk shaum satu bulan penuh.

2. Shalat fardhu

Kuncinya tiga hal: cara, waktu, dan tempat. Caranya dengan selalu berjamaah, tempatnya selalu di masjid, dan waktunya selalu tepat pada saatnya.

Dari Ibnu Umar radhiaLlahu ‘anhu, sesungguhnya RasuluLlah shalaLlahu ‘alahi wasallam. bersabda, “Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian.” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Dari Buraidah radhiaLlahu ‘anhu dari Nabi shalaLlahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda, “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sering berjalan ke masjid dalam kegelapan malam dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (Hr. Abu Dawud)

Sedangkan maksud dari tepat pada waktunya adalah tepat ketika diadakan shalat berjamaah di masjid (bisa di awal, bisa di tengah waktu shalat), serta tidak tertinggal takbir pertama.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Mungkin Ini Mimpi Terbesar?


Beberapa saat menjelang perhelatan akbar seantero jagad dakwah kampus se-Indonesia bahkan merambah negara lain, yaitu IMSS (International Muslim Student Summit) di Bandung, saya jadi teringat kisah sederhana yang terjadi pada bulan Ramadhan 1431 H.

Ketika itu, sebuah lembaga yang baru baru menapaki usianya yang ke-3, dengan nekatnya mengadakan acara yang serupa dengan IMSS, hanya saja versinya lebih kecil (Hey, percayalah, semua yang kalian rasakan sekarang, saya rasakan pula dua tahun lalu: buncahan semangatnya, deg-degannya, capeknya, dan senangnya. Semua nyatu di relung dada). Lembaga itu adalah LDSAPPK “MuSA” ITB.

Dari segi panitia saja, hanya 9 orang, yaitu Rakhmat, Angellya, Oktaniza, Nurrahman, Veronika, Fira, Suhendri, Ridwan, dan Gladisena. JazakumuLlah khair, semoga memperberat timbangan kebaikan kalian kelak.

Dari segi lingkup, hanya tingkat nasional, malah ternyata hanya mampu menghadirkan dari Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Dari segi pendanaan, yah sepuluh juta tidak sampai sepertinya, dengan sumber utama dari donasi dan usaha mandiri yang sahaja.

Hanya saja, kalau tentang cita-cita, kami tak mau kalah dengan IMSS, hehe. Afwan jadi arogan gini, semoga niatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan ya…

Untuk itu, dalam beberapa paragraf ke depan, akan sedikit diceritakan mengenai konsep awal dan mimpi besar dari kisah sederhana tersebut. Sila mulai menyimak…

Februari 2008, di Kampus II Unisba di Ciburial, Bandung. Saya dan beberapa teman GAMAIS ITB angkatan 2007 sedang mengikuti LGC (Laskar GAMAIS Camp) yang salah satu kegiatannya adalah membuat konsep suatu kegiatan ke-Islaman yang sesuai dengan fakultasnya. Pada saat itu, saya, Alpian, Nisa, dan Yuyut lah yang berkesempatan mewakili SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan). Dari situ, mulai terbentuk cikal bakal rancangan acaranya.
Baca lebih lanjut

Buku “LDK Undercover”


Buku berisi kumpulan kisah LDK yang tidak pernah terceritakan sebelumnya yang terpilih menjadi juara writing competition IMSS FSLDKN. Penuh inspirasi dan menguatkan tekad kita untuk terus berdakwah dan memakmurkan dakwah kampus.

Berikut ini daftar judul artikel dan penulis dari buku “LDK Undercover”:

1.
″Aku dan LDK, Ini Ceritaku Mana Ceritamu?”
Nama Lengkap : Diah Mahastika
Nama Panggilan : Tika
Pekerjaan : Mahasiswa
Angkatan : 2011
Jurusan : Farmasi
Alamat FB : ntieck.1315@yahoo.co.id
Twitter : @diahmahastika1
Blog : http://www.imajinasitika.blogspot.com

2.
″Semoga Cahaya itu adalah Aku”
Nama Lengkap : Yustiar Ghana Saputra
Angkatan/Jurusan: 2010/T. sipil dan lingkungan UGM
Fb: yuztiar_kuro43@yahoo.co.id (Yustiar Ghana Saputra)
Blog: yustiarghana.blogspot.com
Amanah: Kajian Syiar KMT UGM

3.
″LDK-ku Sayang, LDK-ku Malang”
Nama : Fahnida Nazliah
FB : Nida nidaa
Amanah :
– DPO LDF kedokteran
– Koord. Kaderisasi FSLDF

4.
″Akhirnya Aku Menemukan-Mu”
Nama : Neneng Nurhasanah
TTL : Bekasi, 28 April 1991
Fb : neuna.aljumanatulali@gmail.com.
Amanah :
– Sie. Bidang Syiar dan Pelayanan Kampus
– Sie. Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

5.
″Berjuang Tanpa Henti dengan Janji yang Pasti”
Nama: Hamidatun
Angkatan: 2008,
Jurusan : Fisika,
FB: Hamida Hamid Hamidatun,
Twitter: @mard_yah_mid,
Blog: pesonasemata.wordpress.com,
Amanah: Islamic Learning Center (Sekarang)
Baca lebih lanjut

Fitrah


Mungkin kita banyak dengar bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah. Namun banyak dari kita tidak memahami artinya. Penulis pun baru akhir-akhir ini mampu memaknainya lebih dalam.

Lantas, apa itu yang sesuai dengan fitrah?

Simpelnya adalah bahwa sesuai dengan fitrah adalah agama yang paling mudah dan paling murah. Oke, kita elaborasi dengan menggunakan studi kasus.

Beberapa waktu lalu, santer terdengar tentang RUU Kesetaraan Gender yang mendeklarasikan bahwa lelaki dan perempuan harus disamaratakan dalam hal apapun, padahal tidak demikian dalam konsepsi Islam.

Islam yang fitrah itu telah menempatkan lelaki dan perempuan dalam posisi yang termudah, sesuai tabiat dan perannya.

Misal saja dalam hal waris. Porsi lelaki adalah dua kali lipat dari perempuan. Inilah keadilan, sesuai dengan kondisinya: lelaki mencarikan nafkah untuk istrinya, tetapi perempuan tak harus memberikan nafkah kepada suaminya.

Akan tetapi, sudut pandang kaum feminis berkata lain. Mereka memandang bahwa dewasa ini, perempuan sudah banyak yang memiliki penghasilan. Maka dari itu, pembagian harta waris antara lelaki dan perempuan haruslah sama.
Baca lebih lanjut