[jurnal] Mungkin Ini Mimpi Terbesar?

Beberapa saat menjelang perhelatan akbar seantero jagad dakwah kampus se-Indonesia bahkan merambah negara lain, yaitu IMSS (International Muslim Student Summit) di Bandung, saya jadi teringat kisah sederhana yang terjadi pada bulan Ramadhan 1431 H.

Ketika itu, sebuah lembaga yang baru baru menapaki usianya yang ke-3, dengan nekatnya mengadakan acara yang serupa dengan IMSS, hanya saja versinya lebih kecil (Hey, percayalah, semua yang kalian rasakan sekarang, saya rasakan pula dua tahun lalu: buncahan semangatnya, deg-degannya, capeknya, dan senangnya. Semua nyatu di relung dada). Lembaga itu adalah LDSAPPK “MuSA” ITB.

Dari segi panitia saja, hanya 9 orang, yaitu Rakhmat, Angellya, Oktaniza, Nurrahman, Veronika, Fira, Suhendri, Ridwan, dan Gladisena. JazakumuLlah khair, semoga memperberat timbangan kebaikan kalian kelak.

Dari segi lingkup, hanya tingkat nasional, malah ternyata hanya mampu menghadirkan dari Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Dari segi pendanaan, yah sepuluh juta tidak sampai sepertinya, dengan sumber utama dari donasi dan usaha mandiri yang sahaja.

Hanya saja, kalau tentang cita-cita, kami tak mau kalah dengan IMSS, hehe. Afwan jadi arogan gini, semoga niatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan ya…

Untuk itu, dalam beberapa paragraf ke depan, akan sedikit diceritakan mengenai konsep awal dan mimpi besar dari kisah sederhana tersebut. Sila mulai menyimak…

Februari 2008, di Kampus II Unisba di Ciburial, Bandung. Saya dan beberapa teman GAMAIS ITB angkatan 2007 sedang mengikuti LGC (Laskar GAMAIS Camp) yang salah satu kegiatannya adalah membuat konsep suatu kegiatan ke-Islaman yang sesuai dengan fakultasnya. Pada saat itu, saya, Alpian, Nisa, dan Yuyut lah yang berkesempatan mewakili SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan). Dari situ, mulai terbentuk cikal bakal rancangan acaranya.

Dua tahun kemudian saat menjadi kepala MuSA, saya mencoba membuat detail acaranya (tapi jadinya malah ga realistis). Saya menargetkan bahwa hasil akhir dari kegiatan ini adalah:

  1. Terciptanya sebuah wadah komunikasi bagi lembaga dakwah Arsitektur dan Planologi.
  2. Tersusunnya sebuah mimpi akan peradaban Islam di Indonesia pada tahun 2045 berikut langkah-langkah menuju ke sana.

Selain itu, diharapkan juga bahwa acara ini menjadi sebuah propaganda kepada masyarakat umum mengenai peradaban Islam (mengawang-awang banget gak sih).

Nah, untuk mewujudkan hasil akhir di atas, saya membagi acara ini menjadi tiga termin: Praacara, Acara Puncak, dan Follow Up.

Kegiatan praacara yang rencananya akan dilakukan hanya satu, yaitu Roadshow, dengan berslaturahim ke kampus-kampus tertentu agar bisa memperluas sekaligus memperkuat jaringan secara bersamaan. Kampus-kampus yang dituju adalah kampus yang kondisi dakwahnya dianggap mapan (dengan catatan ada jurusan Arsitektur dan/atau Planologi), yaitu: UI, IPB, UGM, Undip, UNS, dan ITS. Serta kampus-kampus terdekat yang ada di sekitar Bandung, yaitu UPI,  Itenas, UNLA, Unikom, ST Inten, Unpar, dan STTC.

Jaringan ini saya cari sendiri dengan cara mendata kampus mana saja yang memiliki jurusan Arsitektur dan Planologi, ternyata tercatat ada 137 kampus. Kemudian, cari satu orang yang bisa dijadikan sumber informasi di kampus tersebut. Nama orang ini bisa didapat dengan cara menanyakan kepada kenalan kita yang ada di kampus tersebut, meminta database FSLDK kepada LDK kita (biasanya ada daftar hadirnya), memanfaatkan forum atau grup online (masuk ke forum Arsitektur, lalu tanyakan ada pengurus LDK tidak?), atau berkunjung langsung ke kampus yang bersangkutan kemudian cari pengurus “Rohis Jurusan”-nya.

Agenda roadshow sendiri ada dua, yaitu:

  1. Studi banding antarlembaga, terutama mengenai sektor-sektor penting yang ada dalam lembaga dakwah, seperti: permentoringan, kaderisasi, syiar dan pelayanan, media, maupun keuangan. Di sini kita bisa bertukar pikiran dan membuka wawasan. Bisa jadi, masalah yang menimpa lembaga kita, solusinya sudah ditemukan oleh lembaga yang sedang kita roadshow, kan?
  2. Konsolidasi antarlembaga. Ajak kerja sama dengan mengundangnya untuk berpartisipasi dan hadir di acara puncak. Hal-hal yang musti dilakukan antara lain:
    • Meminta masukkan tentang pembentukkan wadah komunikasi bagi lembaga dakwah Arsitektur dan Planologi.
    • Mulai menyusun draft tentang gambaran “mimpi” peradaban Islam. Bahkan bila perlu untuk mematangkan draft tersebut, tiap lembaga diberi tugas, misalnya: wajib membaca buku/artikel tentang Peradaban Islam atau membuat esai terkait Peradaban Islam untuk dibawa pada acara puncak.

Porsi terbesar dari dua hasil akhir kegiatan ini ada di acara puncak, yaitu: Konferensi Nasional, yang menjadi forum rembug bagi lembaga dakwah Arsitektur dan Planologi untuk mencanangkan cita-cita peradaban Islam melalui lingkungan binaan dengan keilmuan Arsitektur dan Planologi. Konferensi nasional memiliki dua agenda:

  1. Perancangan Peradaban Islam, sebagai bentuk penyamaan pandangan dan perumusan visi bersama, yaitu terciptanya peradaban Islam di Indonesia. Perancangan ini terbagi menjadi dua sesi:
    • Seminar Peradaban Islam. Seminar ini menjadi edukasi pendahuluan bagi peserta konferensi, dengan membahas Sejarah Peradaban Islam, Karakteristik Masyarakat Peradaban Islam, dan Peradaban Islam Masa Kini.
    • Perancangan visi Peradaban Islam di Indonesia 2045. Metodanya bisa bermacam-macam, namun inti dari “perancangan” ini adalah menelurkan pandangan dan cita-cita kita untuk terwujudnya peradaban Islam di Indonesia. Kemudian, tulisan-tulisan ini disusun menjadi sebuah buku.
  2. Pengembangan Lembaga Dakwah, sebagai bentuk usaha konkrit kita untuk mewujudkan peradaban Islam, yaitu dengan optimalisasi lembaga dakwah Arsitektur dan Planologi.
    • Sharing Kondisi Lembaga. Agar kelak bisa dilakukan pemetaan dan levelisasi lembaga: mana kampus yang belum ada lembaga, sudah ada tetapi baru mula, sudah ada tetapi masih muda, maupun sudah ada dan mandiri.
    • Pembentukan Forum Komunikasi. Dalam pembentukan forum tersebut, hal-hal penting yang harus dibahas adalah visi, struktur, alur kerja, dan pemilihan lembaga koordinator. Dan nantinya, forum ini diharapkan menjadi wadah inisiasi kampus yang belum ada lembaga, menjadi wadah pengembangan bagi lembaga mula, menjadi wadah pendampingan bagi lembaga yang muda, dan menjadi wadah berbagi untuk lembaga yang mandiri.

Rangkaian acara puncak selanjutnya adalah Sayembara Rekonstruksi Bencana Alam. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk syiar-propaganda mengenai peradaban Islam, serta mulai membiasakan para arsitek, planner, dan masyarakat umum terhadap desain-desain yang memiliki nilai-nilai Islam, seperti: pemisahan area lelaki dan wanita, ataupun menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan bermasyarakat dan bernegara.

Rangkaian kegiatan Sayembara yang sempat tercetuskan diantaranya:

  1. Edukasi tentang Peradaban Islam (bagi peserta sayembara dan umum)
  2. Kunjungan ke site
  3. Presentasi Sayembara (3-5 besar)
  4. Pameran Karya (plus Standbooth)

Beberapa persiapan tambahan yang harus panitia lakukan untuk Sayembara adalah menyiapkan pendaftaran online, mulai membuka jaringan lebih luas ke tokoh-tokoh Arsitektur dan Planologi, mencari juri, menyiapkan akomodasi kunjungan ke site, menyiapkan tempat dan perlengkapan pameran, dan lain sebagainya. Lantaran dirasa terlalu berat bagi panitia, rangkaian kegiatan sayembara ini pun terpaksa batal dilaksanakan.

Sungguh, saya sangat tidak ingin apabila kegiatan ini berhenti menjadi sekedar ‘event’ dan tidak ada kelanjutannya. Oleh karena itu, perlu adanya Follow Up, namun disini jualah titik kritisnya. Seperti yang dirasakan saat ini, sedikit sekali pengurus lembaga yang ikut pembentukan Forum Komunikasi mewariskan ide-ide ini kepada pengurus selanjutnya, termasuk saya sendiri. Padahal, follow up-nya sangat membutuhkan kerja keras dan ikhlas.

Untuk sayembara, desain yang jadi pemenang akan dijadikan rancangan awal rekonstruksi bencana alam. Untuk itu, perlu dilakukan pembuatan proposal yang fix, lalu diajukan ke pemerintah.

Sedangkan untuk forum komunikasi, hal yang musti dilakukan adalah:

  1. Menginisiasi Prodi Arsitektur/Planologi di suatu Perguruan Tinggi yang belum memiliki Lembaga Da’wah
  2. Mendampingi Lembaga Dakwah yang bermasalah
  3. Menerbitkan dan mendistribusikan buku ‘Peradaban Islam di Indonesia 2045’
  4. Mendampingi keberjalanan rancangan ‘Peradaban Islam di Indonesia 2045’

AlhamduliLlah, dari semuanya, yang bertahan sampai sekarang hanyalah Forum tersebut. Maklum lah ya, hanya dengan panitia dan dana yang ada, cuma bisa segitu saja. Dan, forum itu saat ini bernama FORSIMAP (Forum Silaturrahim Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan), dengan MuSA ITB sebagai Puskomnas dalam masa bakti 2010-2012. Mungkin hanya itu yang bisa saya wariskan, biarkan jadi titik-titik kecil gemintang yang terserak. Toh, andai Betelgeuse, Bellatrix, dan Rigel tidak terserak, konstelasi Orion tiada pernah ada dan sempurna.

Nah, pertanyaan dari saya untuk antum, ya antum, ga usah noleh-noleh ke kanan ke kiri deh. Hehe. Mohon dijawab: “Bersediakah mewujudkan keseluruhan impian saya di atas?”

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s