Berukhuwah adalah Bermasalah


Berukhuwah adalah bermasalah, bersaudara adalah bersiap untuk di sana ada berbagai macam konflik-konflik yang akan tercipta di antara kita. Jadi, sangat agung Allah swt yang memberi kita ayat ukhuwah sekaligus ayat masalah dalam surat Al Hujurat ayat ke-10.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Dalam ayat ini Allah memberikan taujih kepada kita bahwasanya orang yang beriman itulah bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudaramu. Maka alangkah aneh, bila ada orang yang berukhuwah, namun merasa dengan ukhuwah maka tidak akan ada masalah. Justru ukhuwah adalah titik dimana akan terjadi berbagai macam persoalan di dalam kehidupan kita, yaitu persoalan yang akan mendewasakan kita dan bahkan akan kita mengantar kita, dengan persoalan-persoalan itu, menuju ke ufuk tinggi yang mungkin tidak dicapai oleh dengan amal-amal ibadah semata.

Ayat ukhuwah adalah ayat masalah, dan berukhuwah berarti kita sedang memulai untuk merajut kehidupan yang lebih bermakna dengan berbagai macam masalah-masalah yang akan mendewasakan kita. Maka, di dalam masalah-masalah itulah kita tetap mampu berdekapan, kita tetap mampu berpelukan, kita tetap mampu seiring sejalan, karena yang kita tuju satu, yakni Allah swt; karena terminal perhentian kita sama, yaitu surga; karena bendera kita tertulis satu lafal agung “Li’ila-i KalimatiLlah”. Maka, kita memiliki bekal yang banyak, meskipun ada masalah-masalah itu, untuk kemudian tetap berpeluk dan berdekap, dalam dekapan ukhuwah…

Hatta, bahkan RasuluLlah Muhammad saw, ditaujih oleh Allah ‘Azza wa Jala, dengan taujih yang sangat agung di surat Al Kahfi ayat yang ke-28:
Baca lebih lanjut

Bermula dari Lingkaran Cahaya


Kumandang adzan shubuh berkumandang di kompleks rumahku. Suara sang muadzin terdengar syahdu merayu-rayu agar mata yang terpejam jadi terjaga tuk penuhi panggilan Rabbnya. Selidik punya selidik, ternyata semua warga di sekitar masjid telah bangun sedari tadi karena telah biasa menegakkan shalat tahajud. Saya pun baru saja selesai shalat tahajud dengan istri.

Saya memandang istri saya dan member isyarat untuk bangkit menunaikan shalat fajr masing-masing, karena pesan Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam yang disampaikan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha begitu berharga untuk ditinggalkan: “Dua raka’at shalat Fajr lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”

Seusainya, saya berdoa banyak agar hidup kami berdua bisa bemanfaat dan berkah di dunia dan akhirat.

“Sayang, saya ke masjid dulu ya. Seperti biasa akan agak lama.” Ucap saya.
“Iya a, hati-hati ya.” Jawabnya sembari melepaskan senyum terbaiknya yang selalu ia hadiahkan untuk saya.

Sahut-menyahut salam mengakhiri percakapan kami. Saya pun mantap menuju masjid bersamaan dengan warga di kompleks ini. Kompleks perumahan saya sebenarnya adalah hasil rancangan saya. Ya, karena saya adalah seorang arsitek. Kompleks rumah ini didesain dengan menjadikan masjid sebagai pusatnya sehingga setiap rumah yang ada bisa kebagian suara adzan. Di sekitar masjid terdapat pasar yang mengelilinginya. Pasar ini hidup dan menghidupkan masjid. Setiap sampai waktu shalat, tak ada satupun toko yang buka. Inspirasi desain ini tentu berasal dari Alquran.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 9-10)

Baca lebih lanjut

Bersinarlah, wahai Zamrud Khatulistiwa…


“Masalah inti bangsa ini bukanlah kebodohan dan kemiskinan, tapi karakter bangsa yang mulai hilang. Masalah inti dari kebodohan dan kemiskinan bukanlah kurangnya pendidikan dan uang, tapi rasa tidak berdaya dan terkucilkan.”

Biarkan saya mencoba bercerita tentang sebuah negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa. Biarkan saya mencoba mengisahkan tentang sebuah negeri dimana berjuta species dan varietas flora mengakar lalu mekar, dimana anak-anak tersenyum lepas seakan tiada luka tertoreh di jiwa, dan dimana sudah terlupa cara berkeluh terhadap para petinggi negeri ini.

Ini tentang kejayaan suatu bangsa, tentang kekayaan alamnya, tentang kesejahteraan rakyatnya. Semua yang akan diwarisceritakan kepada anak-cucu hanyalah kebaikan dan keberkahan yang ada di INDONESIA.

Teringat sebuah paragraf yang sedikit lagi akan terwujud. Suatu cita bersama yang tersusun dalam sebuah preambule: “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…“

Dalam potongan bait itu, terselip tujuan mulia Pemerintahan Negara Indonesia. Dan jika kita coba sederhanakan, aspek yang melingkupinya antara lain: Pertahanan dan Keamanan (Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta Melaksanakan ketertiban dunia), Ekonomi (Memajukan kesejahteraan umum), dan Pendidikan (Mencerdaskan kehidupan bangsa)

Lalu, karena kita sekarang sedang membicarakan tentang sebuah negara, dibutuhkan seorang negarawan yang baik untuk mengoptimalkan ketiga hal di atas. Oleh karena itu, satu aspek tambahan yang harusnya menjadi pilar penyangga negara, yaitu: Politik.

Keempat hal diatas, haruslah dibangun secara integral dan bersamaan. Tidak bisa masing-masing terpisah, karena mereka saling bertaut satu dengan yang lainnya. Juga tidak bisa secara bertahap, tetapi dikerjakan secara paralel oleh masing-masing ahlinya dalam bingkai kerjasama.
Baca lebih lanjut

Jalan-Jalan Tarawih (2)


Sambungan postingan sebelumnya…

5. Masjid Agung Bandung(?), Alun-Alun Kota

Lagi-lagi lupa nama masjidnya. Pokoknya mah masjid paling gede yang ada di alun-alun bandung (deket savoy homann, gedung KAA, dan gedung merdeka), yang menaranya tinggi banget (kayaknya mau nyaingin Hagia Sophia-nya Turki =p) sampai keliatan dari jalan layang pasopati. Nah, saya kesini cuma sempet sekali. Pada saat saya dateng setelah muter-muter nyari masjid ini trus parkir basement-nya bikin bingung lagi, pas banget di masjid lagi bagiin ta’jil (soalnya emang lima menit lagi adzan) yang ternyata langsung makanan berat. Umm, kayaknya sih ada sedikit keributan karena ada jamaah yang ga dapet. Saya sih ga mikirin makanan, soalnya udah bawa sendiri. Baru aja nyampe depan keran mau wudhu, adzan berkumandang.

Di sini saya pertama kalinya shalat 23 rakaat di bandung dan itu di saat saya sedang tertinggal target tilawahnya, jadi agak kesel gimanaaa gitu, sehingga harus berkali menyabar-nyabarkan diri: “Ayo peh, bisa sampai beres. Pahalanya seperti shalat semalam suntuk loh.”

Meski kurang fokus, saya sadar bahwa ini menurut saya adalah satu-satunya shalat tarawih 23 rakaat yang bener. Shalatnya lamaa banget, kalo ga salah hampir jam 9 baru selesai. Cukup nyunnah tentang panjang shalatnya, namun kalo tentang bagus tidaknya, Allahu a’lam hoho. Sayangnya yang ikut tarawih cuma 3-4 shaff, padahal tadi yang ikut ta’jil-an sealaihum gambreng dan di luar masjid (di area alun-alun) ada pasar dadakan yang rame pengunjung. Bahkan setelah shalat tarawih beres, di luar masjid masih penuh sesak lautan manusia.

Nb. Kalo malam-malam mau ke tempat parkir basement, lewat yang sebelah utara ya. Soalnya yang di selatan udah pada ditutup dan dikonci. Oia, kalo ga mau di basement, ternyata di bagian utara masjid (deket tempat wudhu akhwat) yang selevel dengan alun-alun, ada tempat parkir buat motor juga.

6. Masjid Pusdai, Jl. Suci(?)
Baca lebih lanjut

Jalan-Jalan Tarawih (1)


Ramadhan yang saya alami tahun ini ada yang berbeda, karena saya melakukan shalat tarawih di berbagai masjid yang berbeda di bandung, walaupun ga banyak-banyak amat.

eh, tapi sebenernya boleh gak sih? apakah ada sunnah yang lebih mengutamakan shalat di satu masjid saja? karena sebenernya saya melakukan jalan-jalan tarawih hanya iseng saja dan ternyata saya jadi tahu banyak jenis-jenis tarawih lho…

1. Masjid Ad Dakwah, Jl. Batik Sidomukti/Batik Halus

Masjid yang berada di dekat tempat tinggal saya ini, ternyata ‘punya’ Prof. Miftah Faridl lho. Beliau adalah ketua Yayasan Universitas Islam Bandung (masih gak sih?) dan tokoh nasional juga. Trus, kalo gak salah YPM Salman menetapkan bahwa beliau adalah imam utamanya (tapi malah jarang shalat di Salman, hehe). Oia, waktu saya tingkat 2, beliau lah yang menjadi dosen agama saya (ini kelas lucu deh, asdos-nya teh Elih tapi peserta kelasnya kang Heru, posisinya kebalikan kalo lagi rapat Mata’: kang Heru korum dan teh Elih staf S2Q).

Nah, kalo menjelang bedug maghrib, makanan-makanan ta’jil dijajarkan dalam 1 piring: gorengan, kue basah, dan kurma, di shaff paling belakang untuk ikhwan dan di teras masjid sebelah timur untuk akhwat. Pernah suatu ketika, ada makanan berat yang dibagikan ba’da shalat maghrib.

Shalat tarawih dilakukan setelah ceramah singkat (yang biasanya dilakukan oleh Pak Miftah sendiri) dan dilaksanakan berjumlah 10 rakaat (dengan rincian setiap 2 rakaat salam), lalu ditutup dengan shalat witir 1 rakaat. Saya ga tau hadits tentang qiyamul layl 10 rakaat, ada yang tau kah? Tolong share di bagian komen dong. Nuhun…
Baca lebih lanjut

Eid Mubarak


Ahad 1 Syawal 1433 H sekitar pukul 04.00 PM waktu kota Manchester, seorang pesepakbola asal Prancis bernama Samir Nasri, mencetak gol kemenangan timnya atas Southampton di Etihad Stadium. Ia pun merayakannya dengan menunjukkan kaos berwarna senada dengan jersey Manchester City yang bertuliskan “EID MUBARAK”, seolah ia ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri kepada seluruh saudara seiman di dunia.

Sungguh saya senang melihatnya, padahal ga sengaja menonton pertandingan tersebut soalnya sudah tidur dari ba’da isya. Waktu pertama kali liat sih masih menang Soton 2-1, ga lama kemudian Edin Dzeko (yang beragama Islam juga) mencetak gol penyama kedudukan.

Baru-lah di menit 80, umpan silang Gael Clichy dari sayap kiri Mancit yang dihalau oleh bek Soton dengan sundulan, jatuh dihadapan Nasri. Tak ragu-ragu, Nasri merobek gawang Soton dengan tendangan first-time. Ketika teman-teman satu tim ingin memeluk Nasri, pemain Muslim lainnya yang bernama Yaya Toure sedikit mencegahnya agar tulisan EID MUBARAK tidak tertutupi.
Baca lebih lanjut

Shaum 2x dalam 1 Hari


Cuma di Ramadhan, sekitar jam 20.00-20.30 WIB, banyak orang berjalan menggenakan sarung dan peci, atau mukena, berbondong-bondong. Ya, mereka baru saja menegakkan malam Ramadhan dengan shalat Tarawih. Ini akan menjadi syiar yang dahsyat bagi mereka yang asik dalam kesibukan dunia, yah misalnya berbocengan dengan lawan jenis yang belum halal baginya, atau orang-orang yang nongkrong tanpa jelas juntrungannya sembari menghisap ‘Tuhan 9 Senti’-nya.

Cuma di Ramadhan, mendadak belasan orang menjadi pengusaha dadakan mulai jam 17.00. Berbagai macam suguhan yang menggiurkan mereka jejerkan di sekitar pusat massa. Yah, semoga saja niat utamanya adalah memberi makan orang yang berpuasa, karena pahala yang akan diterima sangatlah besar. Apalagi bila kita ngasih ke ustadz yang shalihnya luar biasa.

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Coba bayangkan bila seorang yang membeli makanan yang kita jual, maka kita akan mendapatkan pahala shaum orang tersebut, sehingga kita seolah berpuasa dua kali dalam sehari. Itu baru satu orang, bagaimana bila yang beli ada 10 orang, 15 orang, 50 orang, 100 orang? Semoga saja pahala mereka mengalir pada kita.
Baca lebih lanjut