Bersinarlah, wahai Zamrud Khatulistiwa…


“Masalah inti bangsa ini bukanlah kebodohan dan kemiskinan, tapi karakter bangsa yang mulai hilang. Masalah inti dari kebodohan dan kemiskinan bukanlah kurangnya pendidikan dan uang, tapi rasa tidak berdaya dan terkucilkan.”

Biarkan saya mencoba bercerita tentang sebuah negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa. Biarkan saya mencoba mengisahkan tentang sebuah negeri dimana berjuta species dan varietas flora mengakar lalu mekar, dimana anak-anak tersenyum lepas seakan tiada luka tertoreh di jiwa, dan dimana sudah terlupa cara berkeluh terhadap para petinggi negeri ini.

Ini tentang kejayaan suatu bangsa, tentang kekayaan alamnya, tentang kesejahteraan rakyatnya. Semua yang akan diwarisceritakan kepada anak-cucu hanyalah kebaikan dan keberkahan yang ada di INDONESIA.

Teringat sebuah paragraf yang sedikit lagi akan terwujud. Suatu cita bersama yang tersusun dalam sebuah preambule: “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…“

Dalam potongan bait itu, terselip tujuan mulia Pemerintahan Negara Indonesia. Dan jika kita coba sederhanakan, aspek yang melingkupinya antara lain: Pertahanan dan Keamanan (Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta Melaksanakan ketertiban dunia), Ekonomi (Memajukan kesejahteraan umum), dan Pendidikan (Mencerdaskan kehidupan bangsa)

Lalu, karena kita sekarang sedang membicarakan tentang sebuah negara, dibutuhkan seorang negarawan yang baik untuk mengoptimalkan ketiga hal di atas. Oleh karena itu, satu aspek tambahan yang harusnya menjadi pilar penyangga negara, yaitu: Politik.

Keempat hal diatas, haruslah dibangun secara integral dan bersamaan. Tidak bisa masing-masing terpisah, karena mereka saling bertaut satu dengan yang lainnya. Juga tidak bisa secara bertahap, tetapi dikerjakan secara paralel oleh masing-masing ahlinya dalam bingkai kerjasama.
Baca lebih lanjut