Bermula dari Lingkaran Cahaya

Kumandang adzan shubuh berkumandang di kompleks rumahku. Suara sang muadzin terdengar syahdu merayu-rayu agar mata yang terpejam jadi terjaga tuk penuhi panggilan Rabbnya. Selidik punya selidik, ternyata semua warga di sekitar masjid telah bangun sedari tadi karena telah biasa menegakkan shalat tahajud. Saya pun baru saja selesai shalat tahajud dengan istri.

Saya memandang istri saya dan member isyarat untuk bangkit menunaikan shalat fajr masing-masing, karena pesan Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam yang disampaikan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha begitu berharga untuk ditinggalkan: “Dua raka’at shalat Fajr lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”

Seusainya, saya berdoa banyak agar hidup kami berdua bisa bemanfaat dan berkah di dunia dan akhirat.

“Sayang, saya ke masjid dulu ya. Seperti biasa akan agak lama.” Ucap saya.
“Iya a, hati-hati ya.” Jawabnya sembari melepaskan senyum terbaiknya yang selalu ia hadiahkan untuk saya.

Sahut-menyahut salam mengakhiri percakapan kami. Saya pun mantap menuju masjid bersamaan dengan warga di kompleks ini. Kompleks perumahan saya sebenarnya adalah hasil rancangan saya. Ya, karena saya adalah seorang arsitek. Kompleks rumah ini didesain dengan menjadikan masjid sebagai pusatnya sehingga setiap rumah yang ada bisa kebagian suara adzan. Di sekitar masjid terdapat pasar yang mengelilinginya. Pasar ini hidup dan menghidupkan masjid. Setiap sampai waktu shalat, tak ada satupun toko yang buka. Inspirasi desain ini tentu berasal dari Alquran.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 9-10)


Secara arsitektural dan tata kota, ayat diatas tidak memisahkan antara shalat (Jumat) dan jual-beli, akan tetapi hanya menetapkan saat yang tepat untuk melakukannya. Ayat ini mengisyaratkan tidak masalah bahwa Masjid dekat dengan pasar, karena secara tak langsung perintah Allah setelah shalat (Jumat) adalah berniagalah.

Desain kompleks rumah ini memberikan kenyamanan untuk pergi ke masjid dengan jalan kaki, baik ketika malam yang gulita maupun siang yang terik, sehingga interaksi antarwarga yang pergi ke masjid selalu terasa hangat karena salam dan senyuman selalu menghiasi.

“Assalamu’alaykum.” Pak Andri menyapa tak jauh dari tempatku. “Gimana kabarnya?”
“Wa’alaykumsalam wr wb. Alhamdulillah, baik.” Jawabku. “Pak Andri bagaimana? Oh iya, salam buat si kecil ya, sudah masuk SD ya.”
“Baik juga, insya Allah.”

Obrolan renyah seperti itu mudah ditemui di kompleks ini, bahkan terdengar meriuh akrab. Tetapi segera hilang terganti setibanya di masjid, saya shalat tahiyyatul masjid sedangkan yang sudah datang lebih awal, terlihat ada yang khusyu berdoa memanfaatkan saat-saat dikabulkannya doa dan ada yang muroja’ah hafalannya. Semuanya larut dalam kesibukan mendekatkan diri pada Allah, tak ada kesia-siaan yang nampak pada mereka.

Begitu juga selepas shubuh berjamaah. Mereka meluangkan waktu hingga terbit sang surya untuk tilawah satu juz dan dzikir pagi hari. Semuanya tak beranjak dari tempat shalatnya agar bisa shalat isyraq dan mendapatkan pahala haji yang sempurna.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“ [HR At Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh At Tirmidzi dan Al Albani dalam Silsilatul ahaditsish shahihah (no. 3403)]

Tak lama kemudian setelah saya selesai shalat isyraq, terdengar derungan suara motor yang mendekati masjid. Hari ini adalah sabtu, hari libur kerja, namun bukan berarti saya tidak ada kegiatan. Karena baru saja ada 9 orang yang rutin datang menemui saya untuk mentoring. Mereka adalah anak-anak SMA yang memiliki semangat untuk belajar Islam yang tinggi. Dan asal tahu saja, sangat banyak anak-anak seperti mereka.

Ah, jadi teringat masa lalu, ketika awal-awal ikut mentoring di kampus. Mentoring memang bukan segalanya, tetapi segalanya berawal dari mentoring.

Sekitar 15 tahun yang lalu di masjid kampusku.

“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya.” Begitulah hadits riwayat Muslim yang disampaikan kang Verry dalam suatu pertemuan mentoring. “Kalo Allah sudah menjanjikan keutamaan seperti itu, masih semangat mentoringnya kan?”

“Iya kang!” Jawab kami serentak. Saya masih ingat, setelah itu, kang Verry menceritakan kisah Muhammad Al Fatih sang Penakluk Konstantinopel yang saat itu menjadi ibu kota Romawi Timur.

“Penaklukan Konstantinopel yang telah Allah janjikan, bukanlah tanpa persiapan. Mentornya Muhammad Al Fatih selalu mengulang-ulang hadits yang menyatakan bahwa pemimpin yang menaklukan Konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin, hingga hal tersebut menjadi obsesi bagi Muhammad Al Fatih.” Kang Verry begitu semangat menceritakannya, sehingga kami pun terpana mendengarnya. “Berawal dari hadits itu, Muhammad Al Fatih mempersiapkan dirinya dengan menjaga amalan wajib dan sunnah semenjak beliau baligh. Terbukti, ketika beliau mengecek amalan para pasukan yang akan menaklukan Konstatinopel, hanya beliau yang menjalankan semuanya.”

Kami pun semakin terpana dengan epik yang dikisahkan kakak mentor kita tersebut. Bahkan Rizki dan Mazhar yang biasanya mengobrol pun, kini turut mendengarkan dengan seksama.

“Nah, sobat-sobat semua, sekarang giliran kita untuk membuat kejayaan Islam ini. Kalian tahu bahwa bangsa yang memimpin peradaban dunia selalu dipergilirkan? Romawi sudah, Arab sudah, Cina sudah, Inggris sudah, sekarang tak kita pungkiri bahwa yang memimpin peradaban adalah Amerika.” Kang Verry diam sejenak. Setelah menghela nafas, beliau melanjutkan. “Saya yakin, bahwa nanti Amerika akan tergantikan. Sekarang, coba tebak, kira-kira bangsa mana yang akan memimpin!”

Kami tak ada ide untuk menjawabnya. Ada yang saling berpandangan, ada yang senyam-senyum saja, dan ada yang tak berkedip menunggu jawaban dari Kang Verry. Akhirnya, bibir Kang Verry mulai bergerak dan jawabannya benar-benar membuat kami terdiam.

“Bangsa Melayu, tepatnya Indonesia.” Kang Verry tersenyum seolah ingin mengatakan bahwa kami lah yang akan menjadikan Indonesia memimpin peradaban dunia, persis seperti mentor Muhammad Al Fatih ratusan tahun yang lalu. “Banyak tanda-tandanya lho. Mulai dari Indonesia merupakan Muslim terbanyak dalam suatu negara, lalu adanya ketertarikan generasi muda terhadap Islam, hingga mulai maraknya nilai-nilai Islam masuk ke dalam bidang pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik.”

Saya pun merenung dan membiarkan mimpi ini bersemayam dalam benak saya. Kemudian ketika saya menjadi ketua lembaga dakwah fakultas (LDF) dua tahun kemudian, hal inilah yang melandasi arah gerak kepemimpinan saya, yaitu: Mimpi akan Indonesia Islami, dari kampus menuju peradaban Islam.

Langkah awal yang saya lakukan adalah membangun jaringan dengan mahasiswa Islam jurusan arsitektur dan planologi se-Indonesia. Arsitektur dan planologi (tata kota) adalah wadah awal terbangunnya peradaban. Bila rancangan arsitektur dan tata kotanya Islami akan tercipta perilaku Islami, lalu akan berkembang menjadi kebiasaan Islami, setelah itu akan jadi gaya hidup Islami, kemudian akan tercipta budaya Islami, hingga peradaban Islam akan tercipta dengan sendirinya. Rekayasa peradaban ini harus dimulai dari sekarang oleh saya.

Maka dari itu, saya melakukan optimalisasi media maya untuk membangun jaringan ke semua wilayah di Indonesia. Saya merasa teknologi saat ini dikuasai oleh nonmuslim, jadi kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kepentingan dakwah Islam. Konkritnya, saya benar-benar mencari satu persatu kontak pengurus lembaga dakwah jurusan arsitektur dan planologi melalui jaringan sosial di media maya. Setelah berbulan-bulan, jaringan ini merambah hampir 30 kampus.

“Teman-teman semua, saya sudah bosan dengan lembaga yang hanya memikirkan dirinya sendiri.” Ungkap saya kepada pengurus LDF di suatu pertemuan. “Alasannya menguatkan internal dulu. Memangnya mau menunggu sampai kapan? Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, diam berarti tergantikan. Meski umur LDF kita baru menginjak tahun ketiganya, kita harus bisa menginspirasi orang lain dan jangan melulu disibukkan dengan permasalahan internal yang tak kunjung usai.”

“Oleh karena itu, Ramadhan ini kita harus mengadakan acara skala nasional: Seminar Peradaban Islam dengan mempertemukan semua Lembaga Dakwah Arsitektur dan Planologi di Indonesia.” Akhirnya saya mengutarakan mimpi saya sebagai pemimpin LDF ini kepada teman-teman dan pada saat itu terpilih Rakhmat sebagai ketua panitianya.

Akhirnya, forum itu terwujud. Di Bandung tanggal 21 Agustus, kami mendeklarasikan Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Planologi dan Arsitektur, yang tujuannya mengaktivasi lembaga dakwah jurusan Arsitektur dan Planologi dan mempropagandakan peradaban Islam melalui keilmuan Arsitektur dan Planologi.

“Forum arsitektur-planologi se-Indonesia sangat diperlukan karena pasti ada perbedaan kondisi rohis di setiap universitas. Forum ini diharapkan menjadi masukan bagi rohis-rohis yang lain.” Usul dari Jannah, mahasiswi Arsitektur Lanskap dari Bogor.

“Jadikan forum ini apa-apa yang tidak mungkin dilakukan di Forum lainnya, karena kita butuh kekhasan. Jadikan juga forum ini sebagai perpanjangan tangan dakwah-dakwah diatas kita yang sudah memiliki forum yang menaungi.” Tambahan dari Ogi, mahasiswa Planologi dari Solo.

“Akan lebih baiknya jika ‘lebih’ dari sekadar forum, misalnya memiliki produk berupa buku. Forum biasa memiliki bargaining position yang sangat rendah di kalangan mahasiswa, sehingga mahasiswa senior bisa mejadi penguat.” Usul lain dari Hasbullah, mahasiswa Arsitektur dari Palembang.

Setelah hari yang jadi peristiwa tonggak sejarah dakwah di Arsitektur dan Planologi itu, kami menghadapi berbagai rintangan, diantaranya: kondisi lembaga dakwah masih banyak yang belum aktif, isu mengenai aliran sesat menghantui lembaga dakwah, dan opini bahwa Islam dekat dengan terorisme.

Maka dari itu, kami menyatakan sikap bahwa lembaga dakwah kami tidak beraliran sesat dan bukan tempat pengembangan aktivitas terorisme. Kami juga mempropagandakan nilai-nilai Islam melalui jaringan sosial dunia maya, untuk meng-counter opini-opini yang menyudutkan Islam. Memang teknologi ini seperti pedang bermata dua, semuanya tergantung si pemakai. Dan kami memilih untuk menjadi orang-orang yang berjihad melalui teknologi.

Lebih jauh lagi, forum ini menjadi tempat inisiasi jurusan yang belum ada lembaga dakwahnya dan menjadi pendamping lembaga dakwah yang masih belum aktif. Dari sinilah peradaban Islam itu bangkit.

Ah, ternyata sudah berlalu waktu-waktu seperti itu, sekarang saya di masjid ini bersyukur bisa menikmati hasilnya. Islam sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat. Dihadapan 9 orang mentee saya ini, sejenak saya mengingat kembali masa-masa ketika kuliah. Masa-masa perjuangan saya dan teman-teman untuk mewujudkan semarak Islam dalam peradaban dunia.

Ya, semuanya bermula dari lingkaran cahaya ini. Disini ruh-ruh kami senantiasa bertemu, mencari warna seindah pelangi. Mengingati dan mensyukuri akan nikmat-nikmat Ilahi. Menceritakan dan mengambil hikmah dari epik sang Nabi. Membaca dan memahami ayat-ayat cinta dari kitab suci. Saling berpegangan tangan dan saling mencintai.

“Assalamu’alaykum wr wb. Baik, kita mulai mentoring ini dengan membaca Basmalah bersama-sama.”

***cerpen yang dibuat tahun lalu, masih alay

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s