The Messenger

Seketika, teringat dengan jelas berbagai peristiwa yang dijalani oleh Nabi Muhammad saw mengarungi samudra perjuangan dakwahnya. Berbagai ombak cobaan dan badai cercaan datang menerpa silih berganti.

Ketika di awal-awal risalah, beliau mengalami tahun kesedihan, lalu beliau harus meninggalkan kampung halamannya sekaligus kenangannya semasa kecil. Ketika di Marhalah Madaniyyah, banyak perang-perang besar yang terjadi. Uhud dan Ahzab yang paling membekas, karena banyak kesedihan dan kepayahan yang diterima sang Nabi.

When you feel you’re alone
Cut off from this cruel world
Your instincts telling you to run

Apa jadinya bila Nabi Muhammad lari dari tugas yang diembannya. Mungkin saat ini agama yang kita anut bukanlah Islam atau mungkin saat ini kita ada di tempat-tempat maksiat menghabiskan waktu untuk dimasukkan ke neraka. Na’udzubiLlah.

AlhamduliLlah, kita diberikan suri tauladan yang sangat tidak pernah putus asa dan tidak pernah mengikuti keinginan hawa nafsu. Padahal harta, tahta, dan wanita telah ditawarkan oleh musuh-musuhnya agar dia berhenti dari aktivitasnya.

Listen to your heart
Those angel voices
They’ll sing to you


Lirik ini mengisahkan surat Asy Syu’ara ayat 192-195, yaitu ketika Nabi Muhammad saw mendengarkan lantunan Alquran yang diturunkan ke dalam hatinya oleh Allah swt melalui perantara Malaikat Jibril as.

They’ll be your guide
Back home where life leaves us blind
Love keeps us kind
It keeps us kind

Senandung Quran itu lah yang menjadi pemandunya ketika akal-akal manusia yang terbatas tak mampu membuat jalan keluar atas setia masalah. Janji Allah dalam Quran senantiasa menjadi pembakar semangat: bahwa nanti beliau akan kembali pulang ke Makkah (kemenangan di dunia) dan ke Surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi (kemenangan di akhirat).

Tentu saja, beliau lebih memilih Surga dibandingkan dunia. Karena beliau tahu, bila memilih dunia, maka dunia akan menjauh dan meninggalkannya dalam kebutaan terhadap harta.

When you’ve suffered enough
And your spirit is breaking
You’re growing desperate from the fight

Tidak hanyak derita fisik saja yang beliau alami, akan tetapi derita batin juga beliau rasakan. Bahkan justru itulah yang lebih berat. Dalam jihadnya, tentu ada masa-masa ia alami kesedihan dan ketakutan.

Dengarlah pengaduannya ketika perang Badar hendak meletus: “Jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi.” Sekilas ada jiwa yang galau di sana, padahal itu adalah tanda kekuatan dalam iman dan totalitas dalam tawakal dari seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Remember you’re loved
And you always will be
This melody will bring you right
Back home when life leaves us blind

Wahai RasuluLlah, jangan pernah sekalipun kau terlupa, bahwa para sahabat sangat mencintaimu karena Allah, bahkan melebihi cintanya kepada diri sendiri.

Dan ketahuilah wahai NabiyuLlah, kami pun sangat cinta dan rindu padamu meski tak pernah sekalipun kami menemuimu, tak pernah sekalipun kami dengar suaramu, dan tak pernah sekalipun kami berjalan di sampingmu. Namun percayalah, kami akan selalu seiring bersamamu dan takkan meninggalkan sunnahmu, insya Allah…

Love keeps us kind

Cacian itu dan cercaan itu, telah larut tak bersisa dalam lautan hati RasuluLlah yang luas. Ya, beliau selalu memaafkan musuh-musuhnya, karena jiwanya penuh cinta kepada umatnya.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (TQS. At Tawbah: 128).

Kubaca firman itu berkali-kali, sungguh betapa engkau pribadi yang agung. Maukah engkau menjadikan kami sebagai umatmu, ya RasuluLlah? Dan apakah kami termasuk orang-orang yang engkau khawatirkan: “Ummati ummati ummati” saat malaikat maut hendak menjemputmu, ya NabiyuLlah?

Allahumma shalli wasalim wabarik ‘alaika, ya Muhammad…

2 thoughts on “The Messenger

  1. subhanallah, saya ga pernah coba baca liriknya, ternyata ini ya isinya PH. LP memang keren. 😀

    Reply:
    malah, kalo saya pikir2 lagi pas denger “In The End”, itu cuma bisa dibuat oleh orang Islam.
    sebenernya ada yang Muslim gak sih di LP?

    • oya? setau saya mah ga ada yang islam sih.

      sama lagu “Waiting for the End” juga kayanya tentang sesuatu (hari akhir) ya ga sih?

      PH, coba dong buatin “tafsir” lagu “In the End”, hehe. Btw, like this banget “tafsir” lagu “The Messenger”.

      Reply:
      gantian kak ghani dong yang buat. hehe…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.