Maqashid Syari’ah fi Arsitikturun

(yah, saya juga tau kalo judulnya maksa…)

Mungkin udah pada tau tentang Maqashid Syari’ah, tapi mari kita sedikit membahasnya lagi untuk sekedar menyegarkan ingatan.

Bahasan tentang Maqashid Syari’ah sebenarnya sudah lama dibahas oleh ‘ulama, tetapi Imam al Syatibi mengumpulkan persoalan-persoalan yang tercecer dan dibahas sepotong-sepotong mengenai hal tersebut oleh ‘ulama sebelumnya menjadi sebuah pembahasan yang tertib dan sistematis. Bahkan beliau mengembangkan dan memperluas apa yang telah dibahas oleh ‘ulama sebelumnya mengenai Maqashid itu.

Al Syatibi menjelaskan bahwa Maqashid Syari’ah adalah untuk mewujudkan kemashlahatan manusia di dunia dan di akhirat, sehingga ia memelihara dan mewujudkan: 1. keturunan/kehormatan, 2. harta, 3. akal, 4. jiwa, dan 5. agama.

Nomor-nomor di atas masih bisa diperdebatkan urutannya, karena masih ada perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama mengenai prioritasnya. Akan tetapi mereka sepakat tentang kelima hal di atas. Begitu juga di Indonesia, semua golongan sepakat, baik itu NU, Muhammadiyah, Persis, Persib(?), dll…

Nah, lalu seperti apa kontribusi arsitektur kepada 5 hal tersebut? Tentu saja ada, karena arsitektur dipelajari sebagai pendukung terwujudnya kemashlahatan bagi manusia. baik di dunia maupun akhirat.

Mari kita sedikit sambungkan antara arsitektur dengan Maqashid Syari’ah. Ini dia:

  1. Memelihara dan mewujudkan keturunan/kehormatan.
    Hal ini mengharuskan adanya pemisahan yang tegas antara ruang publik (misal ruang tamu ataupun lobby and lounge) dan ruang privat (misal kamar tidur ataupun ruang kerja direktur). Sehingga ada ruang khusus yang memungkinkan aurat umum (seperti rambut untuk wanita) bisa dibiarkan terbuka, tanpa ada non-mahram yang bisa melihatnya. Untuk rumah tinggal, sebaiknya anak-anak pun diberi ruang khusus yang terpisah dari kedua orangtuanya, terutama ketika (hampir) beranjak baligh, tanpa menghilangkan fungsi pengawasan. Dengan adanya ruang khusus tersebut, anak-anak juga jadi bisa dengan optimal mengaktualisasikan diri untuk perkembangan fisik, mental, dan akalnya.
  2. Memelihara dan mewujudkan harta.
    Sudah pasti, setiap bangunan harus mampu menjaga setiap aset yang ada di dalamnya, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Termasuk agar bangunan tersebut tidak boros dalam pembangunan dan pemeliharaannya. Terutama rumah tinggal yang biasanya lebih sering dihuni wanita atau anak-anak. Begitu juga untuk bangunan komersial, justru seharusnya bangunan tersebut menambah pundi-pundi harta (baca: rezeki) si pemilik dan/atau pengelola bangunan.
  3. Memelihara dan mewujudkan akal.
    Bangunan yang baik senantiasa mencerdaskan pemikiran si pengguna dengan cara menginspirasinya untuk terus belajar dan mencari ilmu. Program yang bisa digunakan antara lain: ruang baca, ruang belajar, perpustakaan, hingga ruang multimedia. Proporsi dan desain ruang pun harus membuat otak menjadi nyaman, bukan malah mematikannya dari ide dan gagasan.
  4. Memelihara dan mewujudkan jiwa.
    Singkatnya, setiap bangunan harus bebas bencana. Mulai dari banjir, gempa bumi, hingga kebakaran. Mulai dengan cara pasif (solusi dari segi desain) hingga cara aktif (melibatkan manusia atau mesin). Hal ini menuntut perancangan yang baik dalam plumbing agar tidak banjir, struktur agar tidak runtuh ketika gempa, sekaligus segala macam mekanikal-elektrikal untuk mencegah terjadinya kebakaran maupun menghambat penyebaran api dan asap bila terjadi kebakaran (justru harus mempercepat pemadamannya). Selain masalah bencana, seharusnya bangunan meminimalisasi terjadinya kecelakaan, misalnya dengan merancang railing yang baik pada lantai yang tinggi dan tangga.
  5. Memelihara dan mewujudkan agama.
    Nah, ini yang penting. Dengan kemampuan memelihara dan mewujudkan agama, itu artinya arsitektur ini tidak hanya bermanfaat di dunia saja, tetapi juga di akhirat. Bangunan harus kental dengan nuansa spiritual. Jangan sampai, kalo udah masuk rumah pengennya tidur terus atau nonton tivi terus, kalo masuk kantor jadi pengen korupsi, kalo masuk sekolah males belajar dan menyontek mulu. Malah harusnya bangunan itu mendorong kita untuk selalu ingat pada Allah, semangat baca Quran atau menegakkan shalat-shalat sunnah. Selain itu, akal yang harus dijaga pada poin ketiga, bukan berarti diberi asupan keilmuan dunia saja (matematika, fisika, sosial-politik, seni, dll), melainkan juga keilmuan keagamaan (fiqh, tafsir, sirah, dll).

Di luar teori klasik di atas, Ziauddin Sardar menambahkan penjelasan mengenai arsitektur Islam yaitu: arsitektur yang suasananya harus hidup dan dinamis, yang kekuatannya dirasakan dan dialami. Suasana tersebut terbentuk oleh totalitas dari sistem yang melahirkan lingkungan Islam tersebut, yaitu:

  • Prinsip-prinsip perancangan
  • Metodologi arsitektur
  • Bahan-bahan yang digunakan dalam konstruksi
  • Bentuk dan struktur bangunan dalam hubungan mereka dengan lingkungan alam
  • Sikap, motif, dan pandangan terhadap dunia dari orang-orang yang terlibat dalam sistem itu

Kesemua hal itu, harus menjadi kesatuan yang padu untuk melahirkan arsitektur Islam (yang tentu saja mendukung terwujudnya Maqashid Syari’ah bagi manusia).

Allahu a’lam…

2 thoughts on “Maqashid Syari’ah fi Arsitikturun

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s