9 Maret: Planetarium

Sangatsu no kaze ni omoi wo nosete. Sakura no tsubomi wa haru e to tsuzukimasu. With my feelings on the March wind. The cherry blossom buds continue on into spring.” (Remioromen – 3 Gatsu 9 Ka / March 9th)

Aduh kejadian lama gini, baru bisa diposting sekarang. Yap, ini cerita tanggal 9 Maret (pas sama judul lagunya Remioromen yang jadi OST Ichi Rittoru no Namida / Seliter Tangis) lalu ke Planetarium dan Observatorium Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Agendanya: berbincang-bincang dengan Pak Widya Sawitar, nonton pertunjukan di Planetarium, jalan-jalan liatin mekanikal dan elektrikal planetarium, dan ikut pertemuan dwimingguan HAAJ.

Nah, berikut ini hasil bincang-bincang dengan Pak Widya Sawitar, semoga bisa membantu arsitek yang ingin membangun planetarium di mana pun.

Kita harus pahami bahwa ada beberapa fungsi planetarium, yaitu:

  • Pertama, Planetarium adalah laboratorium dengan cara edutainment (bukan sekedar bioskop), sehingga ada follow up-nya. Misalnya, sepulang dari planetarium pengunjung bisa lebih peduli terhadap polusi cahaya.
  • Kedua, Bisa jadi pusat kegiatan astronom amatir. Setelah sebelumnya hanya dikenalkan dengan astronomi, di sini pengunjung bisa benar-benar terbina untuk hal-hal yang berhubungan dengan astronomi.
  • Ketiga, khusus di Bosscha (ITB), planetarium harus bisa mendukung pendidikan tinggi di program studi astronomi.

Dewasa ini, planetarium mulai berpindah menjadi omniplanetarium, yaitu planetarium yang bisa digunakan untuk selain fungsi planetarium pada umumnya, seperti: seminar, fashion show, conference, theatre, maupun konser musik.

Berikut ini, ada beberapa kriteria untuk perancangan dan pembangunan planetarium:

  1. Lahan = Tidak ada syarat khusus. Planetarium bisa dirancang dan dibangun di lahan datar ataupun lahan berkontur, di pantai maupun di gunung.
  2. Akustik = Tidak boleh bergaung (diredam dengan dinding “sirip”, karpet, atau material kedap suara lainnya). Pak Widya menambahkan kalau mengatur akustik dalam struktur bola itu sangat sulit.
  3. Thermal = Suhu dalam ruangan harus konstan, selain itu suhu alat juga harus terjaga (bila alat menjadi panas, harus bisa otomatis menjadi dingin sekitar 20-25 C). Konsekuensinya, di ruangan tidak boleh banyak besi.
  4. Pencahayaan = Harus gelap untuk optimalisasi cahaya dari proyektor bintang. Cahaya hanya dibutuhkan di jalur sirkulasi, tapi sekedar saja.
  5. Proyektor = harus bisa benar-benar seperti bintang (tidak boleh berbayang/bias ataupun berpantulan), untuk omniplanetarium proyektor harus bisa disembunyikan (mungkin dengan hidrolik)
  6. Sistem proyektor = Ada dua pilihan: pertama, sistem konvensional (1 bintang 1 proyektor) untuk melihat bintang apa adanya, lebih pekat. kedua, sistem digital untuk bisa menayangkan film apa saja (tidak hanya astronomi), namun pencitraan bintang lebih pudar.
  7. Ruang = Ruangan memiliki panggung (stage) di bagian depan untuk omniplanetarium, area kursi bisa bertingkat atau datar, dan ruang kontrol sekaligus ruang penceramah ada di bagian belakang kursi.
  8. Ada ruang transisi (secara thermal dan pencahayaan) untuk adaptasi tubuh dan mata. Di ruang transisi ini diupayakan terdapat WC, agar mata pengunjung tidak terlalu mengalami kondisi ekstrim terang-gelap. Selain itu, ruang transisi pun berguna untuk persiapan materi tayangan planetarium (pengunjung dikenalkan istilah astronomi, sebelum menonton pertunjukan planetarium).
  9. Aktivitas planetarium menghasilkan flow massa (tergantung kapasitas planetarium). Bayangkan saja, ada sekitar 200-300 orang yang masuk dan keluar planetarium secara bersamaan. Jadi, tempat masuk dan keluar harus terpisah, serta ruang tunggu harus bisa menampung banyak orang. Juga harus ada pemisahan akses pengunjung dan pengelola, serta ruangan pengunjung dan pengelola.
  10. Pendukung kegiatan astronomi = Diupayakan di planetarium terdapat benda-benda ‘wajib’ astronomi, seperti: miniatur tata surya dan teleskop optik.
  11. Pengorganisasian ruang di planetarium pun sangat penting, integrasi antara fasilitas utama dengan fasilitas pendukung harus baik. Misal: ruang teknisi jangan jauh-jauh dari mesin, pantry, WC, dll. Begitu juga dengan ruang workshop/bengkel, ruang kurator, mushala, kantin, toko cinderamata, dll.
  12. Jangan lupa bahwa beberapa fasilitas di planetarium perlu maintenance berbeda waktu dan caranya. Seperti: proyektor, kursi/bangku, soundsystem, film, dan software.

Preseden-preseden

1. Planetarium Hayden

Planetarium Hayden

Planetarium yang berada di New York Amerika Serikat ini memiliki bentuk bola penuh. Katanya sih, setengah bagian atasnya planetarium sedangkan setengah bagian bawahnya restoran.

2. Planetarium Stuttgart

Planetarium Stuttgart

Nah, kalo planetarium di Jerman ini memiliki bentuk unik lainnya, yaitu piramida. Meski begitu, interior planetariumnya tetap setengah bola.

3. Observatorium Jantar Mantar

Sundial di Observatorium Jantar Mantar

Untuk desain bagian outdoor, kita bisa merujuk ke observatorium Jantar Mantar (Jaipur) di India yang memiliki sundial.

4. Observatorium di Eropa

Atau bisa juga membuat miniatur tata surya yang memiliki jarak dan ukuran planet sesuai skala, seperti sebuah observatorium di Eropa (gambar tidak ketemu).

Preseden di atas cukup unik dan bisa diterapkan di Indonesia, dengan catatan bahwa standar Jepang dengan standar Amerika itu berbeda, jadi jangan sampai merancang asal jiplak saja padahal tidak kontekstual. Selain itu, anak-anak juga memiliki standar yang berbeda, karena mereka tidak bisa di ruang gelap.

Sekian.
*untuk pertemuan dwimingguan HAAJ-nya nanti saja ya, mau nyari print-out materinya dulu. hoho…*

2 thoughts on “9 Maret: Planetarium

  1. masyaallah…sukron mas tulisannya bermanfaat…apalagi studio perancangan arsitektur 5 saya merancang planetarium….maklumlah belum kesampaian ke planetarium jakarta…keluar kal-sel aja belum pernah :D…..sukron mas

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s