50 Tahun Masjid Salman (Part One)

Lampu

Entah mengapa ‘peringatan’ 50 tahun Masjid Salman sudah menggema pada tahun 2013 ini, padahal yang saya ingat tuh Masjid Salman dirancang oleh pak Achmad Noe’man pada tahun 1964. Berarti baru tahun depan Masjid Salman genap setengah abad.

Walau begitu, pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada Masjid Salman (contohnya foto di awal tulisan ini), baik yang saya perhatikan langsung, maupun yang saya dengar dari dosen maupun kakak kelas.

Seperti yang saya sebut di awal bahwa ‘bayi’ Masjid Salman lahir pada tahun 60-an, dimana saat itu Arsitektur Modern sedang masuk ke Indonesia. Langgam international style yang dipopulerkan oleh Le Corbusier, seorang maestro Arsitektur, bisa dilihat dalam fisik Masjid Salman.

Kata kuncinya adalah ‘Kejujuran’, yaitu: desain yang sebagaimana adanya ia (tidak dibuat-buat maupun ditutup-tutupi), baik secara struktur, material, hingga utilitas. Bisa kita lihat struktur Salman yang diekspos: kolom di koridor timur bahkan dikeluarkan sehingga kita bisa lihat ada dua kolom yang berdekatan (yang biasanya saya jadikan hijab fisik ketika rapat, hehe…), begitu pula kolom di area imam dan mihrab (kolom dan dinding dipisah secara tegas, yang hanya disatukan oleh kaca ber-frame) kayu.

Terkait hal ini, sangat sedikit yang tahu kalau Masjid Salman tuh aslinya warna beton (ga dicat kayak sekarang). Hanya saja, konon ada yang nyeletuk (katanya sih dosen Astronomi): “Kok seperti bangunan yang belum jadi ya?” sehingga Masjid Salman dicat (yang saat itu) diwarnai dengan warna hijau (saya juga sebenernya gak kebayang gimana, kayak kerasukan The Incredible Hulk jadinya). Setelah itu, baru dicat seperti sekarang: dinding berwarna abu-abu dan kolom berwarna hitam pada interior, serta ada mural yang dilukis di eksterior Masjid bagian timur oleh pelukis khusus bangunan (saya lupa namanya, kalo gak salah alumnus FSRD ITB juga). Tapi mural yang sekarang mah sudah dicat ulang, bahkan baru-baru ini warnanya diganti kembali menjadi bernuansa hijau (lihat gambar di bawah, lagi proses pengecatan tuh).

Mural

Beda dengan bangunan saat ini yang menutup-nutupi utilitasnya, Masjid Salman justru memperlihatkannya dengan sejujur-jujurnya. Atap yang berbentuk seperti mangkok yang menengadah ke atas adalah talang air raksasa. Hal ini sekaligus mendobrak tradisi yang taqlid buta bahwa Masjid itu harus beratap kubah, padahal sebelum RasuluLlah lahir sudah terdapat bangunan berbentuk kubah, salah satunya Haghia Sophia (yang fungsi awalnya adalah gereja) di Turki.

Dan menurut saya, pemilihan atap ini sangat brilian, karena konsep pak Achmad Noe’man dalam merancang Masjid Salman adalah ‘masjid tanpa kolom’ agar tidak memotong shaf ketika shalat berlangsung. Atap kubah akan menghasilkan beban terpusat pada balok yang terbentang lebar dari ujung shaf di sebelah utara ke ujung shaf di sebelah selatan, sehingga secara logika strukutr Masjid tidak bisa dibangun. Namun, dengan atap mangkok seperti saat ini, justru beban akan terdistribusi secara merata bahkan bisa sekalian dijadikan talang air.

Dan kalo kita perhatikan, talang-talang air kecil di sekitaran dinding masjid pun diekspos. Yang kemudian, respon akhirnya adalah ‘bak batu’ sebelum dialirkan ke saluran air di bawah. Hanya saja, saat ini talang air itu ditambahi dengan pipa paralon yang ‘nggak bangetlah’ karena merusak desain masjid yang sudah keren itu.

Terakhir, ada cerita unik tentang desain awal Masjid Salman bagian timur (dekat tangga yang mau ke lapangan). Yap, sisi ini (dari gerbang parkir SR, bukan dari gerbang utama ITB) adalah pintu utama Masjid Salman, karena untuk mencapainya ada prosesi ritual yang musti dilakukan. Silakan baca ini dulu.

Udah kan bacanya? Nah, setelah melewati itu, kita akan sampai di tangga menuju kortim (koridor timur). Tahukah teman-teman, bahwa dahulu kala, sebelum di anak tangga pertama, terdapat ‘kolam’ yang cukup lebar dengan air mengalir seperti sungai kecil (sekarang sudah ditutup dengan beton), sehingga terjadi ‘upacara’ berikut ini.

Kita yang tadinya bergegas cepat memenuhi panggilan adzan, dipaksa berhenti sejenak untuk melihat ke bawah untuk menundukkan diri sebelum masuk ke rumah Allah. Kemudian, berhati-hati melangkahkan kaki ke dalam ‘sungai’ tersebut untuk membasuh diri dan hati yang kotor penuh noda-dosa (di sini ada tempat wudhu juga kalo gak salah). Baru setelah itu kita mendaki dan menaiki satu-persatu anak tangga, menuju tempat tertinggi di sisi-Nya dengan melaksanakan perintahnya yang utama: iqamatush shalah.

Keren ya? Ada kisah dalam setiap langkahnya. Sayang kini sudah tidak ada lagi cerita itu. Karena desain telah berubah, entah atas persetujuan sang Arsitek atau tidak. Yang jelas, kini Masjid Salman sudah tidak seperti bagaimana awalnya.

Mungkin itu dulu untuk kali ini.
Di sana gunung di sini gunung, di tengah-tengahnya ada pulau Jawa. Yang baca bingung yang nulisnya lebih bingung, tapi insya Allah ada lanjutannya.


*btw, dosen urang jadi calon walikota bandung euy! B)*

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s