50 Tahun Masjid Salman (Part Two)

Lampu

Markila, mari kita lanjutkan.

Tulisan part one lebih kepada Masjid Salman di awal-awal berdirinya. Dan tentu saja itu tidak saya alami langsung, sehingga saya terima dari cerita mulut-ke-mulut orang lain, serta belum saya cek validitas datanya. Hehe, jadi emang bukan tulisan ilmiah. Nah, kalo part two ini insya Allah langsung saya amati sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus bergambar gajah lagi frustasi (sampai-sampai buku aja didudukin dan gadingnya sendiri dia patahin).

Umm, mulai dari mana ya? Dari lanskapnya dulu aja lah ya, berhubung foto yang pertama muncul adalah tulisan Masjid Salman ITB yang diterangi lampu berwarna biru. Tulisan ini tadinya tidak ada, mungkin karena orang-orang bingung mencari Masjid Salman dimana (padahal sudah di depan mata, tetapi tetap bertanya), jadinya pengurus YPM memberikan tanda berupa tulisan di tempat masuknya. Awalnya tulisan ini berada di batu alam yang dekat lapangan utara, terus dipindah ke tempat yang ada di foto.

Pembaharuan ini lumayan lah, ada desainnya. Meskipun cahaya lampunya ada yang mengarah ke langit, beda banget dengan lampu di lapangan rumput utama (yang ada di belakang kortim) yang tepat guna karena menjaga langit malam tetap gelap. Mengenai lampu yang mengarah ke langit pun terjadi juga pada lampu sorot yang menerangi menara dan atap masjid. Semoga bisa segera dicopot dan ke depannya kita bisa cermat dalam menggunakan cahaya lampu agar tidak terjadi polusi cahaya.

lampu salman

Setelah tulisan itu, yang langsung terlihat adalah batu alam yang ‘mengelilingi’ menara masjid (sayangnya di foto tidak terlihat). Dulu, batu alamnya masih terlihat jelas (warna dan teksturnya), tapi sekarang sudah tertutupi oleh semen-semen. Padahal semen itu cuma sekedar perekat batu kali saja, namun saat ini malah dominan dan menghalangi elemen batu alam tersebut. Ini mah pasti pembaharuan yang ngasal dan mengubah rancangan pak Achmad Noe’man.

Hal yang sama terulang jika kita lihat pada lantai di jalan menuju Salman dari gerbang utama ITB. Jalan yang berlubang-lubang, langsung ditambal seenaknya dengan semen yang menghancurkan pola-pola bebatuan yang ada sebelumnya. Begitu juga di jalan dari parkir SR. Banyaknya air yang menggenang direspon dengan menggunakan paving block, padahal penggunaan grass block sebelumnya sudah tepat, asalkan grass block itu diletakkan di atas tanah (agar air meresap dan rumput bisa tumbuh), alih-alih beton.

Pembaharuan juga terjadi pada taman yang ada di bagian barat masjid. Sekarang ada akses-akses tambahan ke Masjid, misalnya: kita bisa langsung masuk ke tempat wudhu laki-laki dan tangga tambahan untuk langsung masuk ke area shalat (di korsel melalui ‘catwalk‘ tempat kabur imam). Ini ga ngaruh sih, cuman mengubah kerawang khas Salman menjadi batu bata biasa. Lalu, asrama putri Salman yang dihancurkan dan dijadikan lapangan futsal temporer. Kalo yang ini saya setuju, cuman belum sempet menyicipi main disitu. Hoho…

Perubahan yang paling drastis adalah kamar mandi area laki-laki. Mungkin para aktivis Salman akan langsung mengkritik bila tahu apa yang terjadi pada kamar mandi ini. Untuk memperbanyak tempat wudhu, pengurus YPM membuat urinoir yang tidak nyunnah dan menyulap 6 buah kamar mandi menjadi 4 buah toilet (plus 1 janitor). Sudah gitu, toiletnya foya-foya ruang lagi, karena terlalu besar untuk ukuran standar toilet. Perubahan ini memang menimalisasi antrian wudhu, tetapi memperpanjang antrian ke toilet, malah hal ini lebih parah dan lebih lama. Mungkin penyebabnya antara lain kurangnya perhatian pada aspek sosiologis ketika memutuskan desain untuk menggunakan urinoir.

Apalagi ya, ada yang punya usul?
Udah dulu deh, nanti kalo kepikiran lagi akan ditambah langsung… B)

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s